Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 50


__ADS_3

“Maafin aku, Ta.”


“Kak Kenny bener, itu bukan salah kamu. Itu bencana dan ibu adalah salah satu korbannya.”


Nafan merasa sedikit lega karena Erlita mau menerima permintaan maafnya. Rasa bersalah yang selama ini membebani hidupnya seolah sirna begitu saja.


“Tentang kenapa memilih hidup di hutan? Itu karena aku merasa bahwa aku pantas mendapat hukuman seperti itu karena menjadi salah satu penyebab kematian ibu kamu. Aku merasa tidak pantas hidup dalam kemewahan dan kemegahan padahal hakikatnya aku tidak lebih dari seorang pembunuh. Itu adalah cara aku menghukum diri dan mencegah bencana yang sama terulang.”


Sekarang Erlita mengerti kenapa Nafan menjadi seperti itu. Selama ini ia telah sangat salah menilai Nafan. Ia juga tidak tahu bagaimana harus memperbaiki kesalahannya itu.


“Lalu uang yang gue pakai untuk kembali ke Jakarta waktu itu? Apa lo minta ke kakek lo?”


Giliran Alan yang angkat bicara. “Ngga Mbak. Mas Nafan paling anti meminta belas kasihan Tuan Besar. Sejak keluar dari rumah, Mas Nafan ngga pernah mau menerima pemberian Tuan Besar. Uang itu Mas Nafan dapet karena mengerjakan proyek perusahaan, Mbak. Tuan Besar sudah berkali-kali memberi tawaran Mas Nafan untuk kerjasama, tapi selalu ditolak. Baru kali itu dia mau mengerjakan proyek dari kakeknya.”


Jadi Nafan rela menjilat ludahnya sendiri demi Erlita. Sementara Erlita justru membawa uang itu lari ke Jakarta tanpa pamit. Erlita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia sangat malu dan tidak tahu bagaimana harus menghadapi suaminya itu.


Nafan meraih kedua tangan Erlita, “Ta, maaf kalau selama ini aku ngga bisa jujur sama kamu soal semuanya. Aku ngga mau kamu seperti orang-orang lain yang hanya menyukaiku karena uang kakekku. Aku sangat mencintai kamu dan aku ngga siap menerima kenyataan bahwa kamu lebih menyukai status dan latar belakangku daripada aku yang tidak punya apapun.”


“Dasar bodoh! Seharusnya kamu tahu kalau aku sangat menyukai uang dan kemewahan. Tapi sebanyak apapun itu, aku tidak akan pernah menukarmu dengan mereka semua. Aku mencintaimu, Nafan yang tidak percaya diri, tidak punya teman, tidak punya uang untuk membayar tagihan kafe dan restoran, tidak punya kamar mandi dalam, tidak punya –“


Nafan tiba-tiba saja sudah mencium istri tercintanya itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Ia merasa memiliki segalanya karena seKarang Erlita sudah sepenuhnya menjadi miliknya dan juga sangat mencintainya.


****


Setelah Nafan menunjukkan identitasnya sebagai pewaris tunggal Kusumo Group, ia menjadi bahan berita yang paling banyak dicari beberapa hari kemudian. Banyak orang yang memuji kharisma, ketampanan dan kegagahan sosok CEO muda dari perusahaan terbesar kedua di tanah air itu.


Erlita jadi sering sewot kalau banyak wanita yang memuji dan mengelu-elukan suaminya yang gagah, kaya dan sempurna itu. Dan entah kenapa Nafan sangat menyukai ketika istrinya sewot karena cemburu seperti itu, sangat menggemaskan.

__ADS_1


Nafan mengajak Erlita tinggal di rumah mewahnya. Rumah induk peninggalan mendiang nenek Erlita meninggalkan terlalu banyak kenangan menyakitkan terutama tentang kehilangan calon anak pertama mereka.


Selain itu, udara disana cukup bagus karena banyak pepohonan dan kebun. Akan sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan fisik dan psikologis Erlita agar bisa segera hamil kembali.


Rumah itu juga memiliki banyak pelayan yang hanya fokus untuk menjaga dan melayani semua keperluan Erlita.


Tidak hanya itu, Nafan juga sudah menyiapak sebuah kamar besar dan mewah lengkap dengan lemari yang dipenuhi dengan ratusan pakaian, tas dan sepatu mewah favorit Erlita. Erlita juga menemukan puluhan merk dan model jam tangan mewah di laci Nafan.


Dan yang terpenting adalah, tidak ada orang lain, termasuk paman dan bibinya, yang akan mengganggu ketenangan Erlita di rumah itu.


Sekarang Erlita tahu kenapa neneknya menjodohkannya dengan Nafan. Sepertinya sejak awal neneknya tahu persis bahwa Nafan adalah pria sempurna yang memenuhi semua kriteria pasangan ideal bagi Erlita.


***


Sejak mengambil alih Susbihardayan Corp, Nafan menjadi sangat sibuk karena harus menangani dua perusahaan furnitur besar, mall dan rumah sakit yang selama ini dikelola kakeknya.


Sementara itu, Johan dan Sisil jadi semakin akrab dan tak terpisahkan satu-sama lain. Sisil bahkan sudah memperkenalkan Johan dengan kedua orang tuanya yang menetap di Sydney. Dan mereka mendapatkan lampu hijau.


Sayangnya, tidak sama halnya dengan keluarga Johan. Bram menentang keras keinginan Johan yang ingin menikahi pengacara yang telah menyeretnya masuk penjara.


Selain itu, Bram berniat menikahkan Johan dengan putri seorang pengusaha kaya pemilik pabrik cat terbesar seantero negri untuk memuluskan jalannya setelah bebas dari penjara kelak.


Namun, Johan tidak pernah mau ambil pusing dengan pendapat ayah dan ibunya. Sejak dulu mereka tidak pernah peduli dengan apapun tentangnya. Jadi saat inipun, Johan merasa tidak ada kewajiban baginya untuk menerima bentuk kepedulian tidak tulus dari kedua orang tuanya itu.


“Jadi lo mau tetep nikah tanpa restu Bokap lo, Kak?”


“Heem, ngga ada alasan buat gue untuk mempertimbangkan kepedulian yang datang tiba-tiba dan terlihat jelas membawa banyak motif.” Johan meneguk es teh lemon yang disuguhkan Erlita.

__ADS_1


“Gue sih, dukung apapun keputusan lo. Dan apapun yang terbaik buat lo dan Sisil.”


“Thanks ya Ta. Gue mau lo jadi bridesmate di nikahan gue.”


“Siap! Jadi WO pun gue oke, kak! Apapun yang lo minta!”


Johan tersenyum senang melihat antusias sepupunya itu.


“Lo yang mo nikah kok gue yang deg-degan ya Kak?”


Johan membuka tasnya lalu menyodorkan sebuah kertas yang dilipat kecil kepada Erlita.


“Nih, biar lo ngga deg-degan lagi.”


“Apaan ini kak?” Erlita membuka lipatan kertas yang ternyata sangat panjang saat dibuka.


“Itu daftar nama tamu undangan gue. Tolong urusin ya, Ta? Gue ada undangan seminar di Singapura empat hari. Sisil pasti bakal kerepotan banget nyiapin semuanya sendirian.”


Erlita melongo melihat daftar panjang yang dipegangnya, “Ternyata lo party boy juga ya, Kak? Kirain gue aja yang excited kalau soal pesta. Tapi nyatanya lo yang selama ini seperti ngga tertarik, ternyata punya pesta pernikahan impian sebesar ini. Tamu undangan lo banyak banget, Kak? Ngalah-ngalahin presiden mantu aja.”


"Biar kerjaan lo jadi tambah banyak dan supaya tawaran lo jadi WO ngga sia-sia haha.."


"Dasar! Emang paling seneng lo kalo bikin gue menderita."


"Ini tugas terakhir dari gue sebagai perjaka, Ta. Bentar lagi Sisil bakal gantiin elo buat gue suruh-suruh."


"hahahaha... Gini nih suami-suami ngga ada akhlak."

__ADS_1


__ADS_2