
Sore itu, Johan datang ke sebuah kafe yang sudah direservasi Erlita. Setelah hampir setengah jam menunggu, seorang wanita memakai setelan blazer dan celana kain berwarna matcha datang menghampiri Johan.
“Pak Johan?!” tanya wanita itu ramah.
Johan menoleh kepada sosok wanita yang sudah sangat lama dicarinya. Gadis berambut panjang yang ditemuinya pertama kali di warung bakso gang gajah mada.
“Perkenalkan, Pak, saya Sisil. Cecilia Judith.”
“Oh,iya, saya Johan. Panggil Johan saja karena sepertinya kita seumuran.”
Sisil tertawa renyah seperti kerupuk yang siap mengkiyukkan hati Johan.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya. Saya seperti pernah bertemu anda di suatu tempat.”
Johan tidak percaya bahwa ternyata Sisil juga masih mengingat wajahnya meskipun sudah sekian tahun tidak bertemu. “Warung bakso gang gajah mada.”
Sisil mencoba mengingat-ingat. “Apa anda juga sering makan di sana?”
Johan mengangguk yakin, “Hari sabtu, lima belas agustus dua ribu sembilan. Anda datang memakai tas ransel berwarna biru navy lalu hampir terjatuh karena menabrak dan menumpahkan semangkok bakso terakhir yang berhasil saya dapatkan sore itu.”
Sisil akhirnya ingat hari itu, dimana ia berburu-buru berdiri dari kursinya karena hujan sepertinya akan segera turun, lalu ia menabrak Johan yang sedang memegang semangkok bakso. Alih-alih membantu Johan membersihkan bajunya yang tersiram kuah panas bakso seperti adegan di film-film, Sisil justru pergi begitu saja meninggalkan Johan setelah mengucapkan kata maaf.
Meskipun hanya sepatah kata saja yang keluar dari mulut Sisil. Sepertinya suara itu tidak pernah bisa hilang dari ingatan Johan sampai hari itu. Dan sore itu, Sisil baru tahu bahwa bakso yang ditumpahkannya adalah bakso terakhir yang didapatkan Johan dengan susah payah karena harus mengantri untuk mendapatkannya.
“Maaf, ya. Saya benar-benar ngga tahu soal itu.” Sisil tertawa mengingat kejadian lama itu lagi. “Lain kali, saya akan mentraktir anda untuk makan bakso di sana lagi.”
“Deal.”
Setelah puas bernostalgia, mereka kemudian saling menceritakan kesibukan masing-masing sampai tidak terasa waktu sudah malam dan Johan berkesempatan mengantar Sisil sampai rumahnya yang ternyata tidak terlalu jauh dari rumah Johan.
***
Keesokan harinya, Johan, Erlita, Kenny dan Rania kembali mengadakan rapat. Hari itu, Nafan yang mengaku sudah kembali bekerja di sebuah perusahaan swasta paska mengundurkan diri dari pns, ijin datang terlambat karena harus menyelesaikan tugasnya lebih dulu.
__ADS_1
“Jadi, gimana Kak? Lo dah ketemu sama Sisil? Lo dah selidiki track recordnya? Latar belakangnya? Dan cara kerjanya?” Erlita mengulang pertanyaan persis seperti yang pernah Johan tanyakan.
“Udah, Ta. Pilihan lo emang selalu the best-lah. Gue setuju banget kalau lo tunjuk dia jadi pengacara kita.”
Erlita sedikit merasa curiga dengan wajah kakak sepupunya yang jadi lebih berbinar-binar sejak bertemu perempuan bernama Sisil itu.
“Apa lo yakin, lo ngga diapa-apain sama Sisil?”
“Maksud lo apa nanya kaya gitu, Ta?”
“Yakali, sejak lo ketemu dia gue lihat wajah lo berubah drastis. Dari cowok zombi yang ngga pernah senyum sekarang jadi cowok ramah yang ngga bisa diem, senyum mulu gue liatin dari tadi.”
“Lo percaya takdir ngga Ta?”
“kenapa lo tiba-tiba bawa-bawa takdir?”
Ting tong.
Sebuah bel berbunyi dari pintu ruang tamu Erlita.
Dan benar saja, Sisil sudah berdiri di depan pintu dengan setelan blazer dan celana kain berwarna biru navy. Johan langsung mengajak Sisil bergabung dan memperkenalkannya dengan Erlita, Kenny dan Rania.
“Ta, lo tahu ngga, ternyata Sisil ini cewek yang ada di warung bakso gajah mada.”
“Ooooooh.......” sebuah oh panjang keluar dari mulut Erlita.
Sekarang ia tahu kenapa kakak sepupunya itu berubah tiba-tiba. Rupanya ia sudah menemukan kembali belahan jiwanya yang hilang dibawa nasib.
Setidaknya Erlita lega karena sekarang ada kak Johan yang akan selalu membantunya menjauhkan Sisil dari Nafan, suaminya.
Mereka kemudian mulai membicarakan kasus yang ingin mereka bawa ke meja hijau. Namun terlebih dahulu mereka ingin minta pertimbangan dari Sisil terkait sisi hukum atas kasus yang ingin mereka perkarakan. Tak lama kemudian Nafan pulang dan langsung bergabung dengan mereka.
Tidak seperti biasanya, hari itu Erlita sangat manja dan tak henti-hentinya bergelayutan di lengan suaminya. Ia bahkan tidak mau melepaskan tangan Nafan sedikitpun. Sampai-sampai mereka harus gandengan terus seperti kembar siam saat Nafan mau mengambil minum di kulkas.
__ADS_1
“Sayang, kenapa kamu bersikap seperti ini?”
“Kenapa? Apa lo pengen Sisil ngelihat bahwa masih ada celah di antara kita untuk dia masuki?”
“Sayang, percaya sama aku. Antara Sisil dan aku sudah ngga ada apa-apa. Kamu ngga perlu repot-repot seperti itu, biar aku saja.”
Kali itu, gantian Nafan yang menggandeng tangan Erlita dan membawanya kembali ke kursi. Mereka kemudian mendiskusikan kasus mereka dengan serius.
Nafan sesekali menatap mesra Erlita lalu memeluk Erlita yang duduk di sampingnya. Ia kemudian juga berbisik mesra ke telinga Erlita minta ia bawakan beberapa piring buah dan camilan yang ada di kulkas.
Tak hanya itu, ketika tiba jam makan malam, Nafan menolak untuk memesan layanan pesan antar. Ia memilih untuk memasak sendiri makanan untuk mereka semua dengan dibantu istrinya, Erlita.
Nafan mengajarinya memasak, mulai dari menyiapkan bahan, mencuci dan memotong sayuran hingga menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya.
Entah kenapa adegan seperti itu terlihat sangat romatis dan natural bagi Sisil. Ia melihat bagaimana sepasang suami istri itu tertawa, meniup mata yang perih karena terkena bawang merah, dan saling mencipratkan air bekas mencuci sayuran sambil bergurau.
Saat itu ia menangkap dengan jelas pesan yang ingin Nafan sampaikan kepadanya. Sisil tahu persis bahwa itulah saatnya dia berhenti melihat Nafan dan mengalihkan pandangannya pada pria lain yang ternyata sudah sangat lama menunggunya dalam dian, Johan.
Makanan sudah siap dan mereka menikmati masakan Nafan yang ternyata tidak kalah dengan masakan koki di restoran mewah.
“Ternyata lo jago masak juga ya, Fan?” puji Kenny yang baru pertama kali menikmati masakan Nafan.
“Bener Kak, gue sempet iri sama Lita, waktu Nafan masakin gue pas gue nginep di rumahnya. Gue pikir beruntung banget Lita dapat suami serba bisa kaya Nafan. Gue yakin berat badan Lita bakalan terus bertambah kalau tinggal lebih lama sama Nafan.”
Mereka semua tertawa mendengar cerita Johan itu.
“Itu sih bukan karena banyak makan, tapi Lita tambah gendut karena hamil anaknya Nafan.” Cerosos Kenny dengan polosnya.
Nafan dan Lita langsung tersedak bersamaan, sementara Sisil tiba-tiba saja sangat tertarik dengan topik itu. Karena menurut kabar yang ia dengar kedua pasangan itu sudah lama menikah tapi belum juga punya momongan. Padahal yang Sisil tahu, Nafan adalah tipe family man yang sangat menyukai anak kecil. Jadi mustahil ia menunda untuk memiliki momongan.
“Tenang aja, mudah-mudahan ngga lama lagi, ya kan sayang?” jawab Nafan sambil menggenggam dan mencium tangan istrinya.
Entah kenapa Erlita merasa bahwa itu sangat romantis dan menyentuh sehingga tanpa sadar ia langsung menciumi bibir suaminya yang sedang duduk di sampingnya di depan semua orang.
__ADS_1
Ia tidak peduli kalau-kalau Kenny yang ngebet mau nikah lari dengan Rania tiba-tiba memutuskan untuk mengawali malam pertama mereka setelah melihatnya berciuman malam itu. Atau Johan yang selama ini jadi cowok zombi demi menemukan kembali Sisil akhirnya memutuskan untuk ikut ciuman dulu sebelum resmi pacaran.
Erlita hanya peduli bahwa saat itu ia sangat mencintai suaminya dan ingin semua orang tahu perasaannya itu.