Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 18


__ADS_3

Saat kembali ke rumahnya, Erlita melihat Dean sudah duduk di sofa di ruang tamu. Ia tidak menyangka Dean sebegitu inginnya bertemu dengannya sampai memberanikan diri datang ke rumahnya. Erlita segera masuk dan ternyata nenek, paman dan bibinya serta Jihan juga sudah berkumpul disana.


Erlita penasaran dengan apa yang terjadi.


“Ta, duduk.” Titah sang nenek.


Erlita duduk di salah satu bagian kursi yang masih kosong.


“Kamu kenal pria ini?”


Erlita mengangguk.


“Anak ini sudah menghamili Jihan.”


Erlita tidak percaya dengan apa yang dikatakan neneknya.


“Dan sekarang Jihan sudah mengandung tiga bulan.”


Erlita masih tidak bisa percaya. Air matanya mengalir tanpa diminta. Bagaimanapun juga saat itu, Dean masih berstatus pacar Erlita. Meskipun Erlita sudah menikah mereka belum memutuskan hubungan mereka. Dan Jihan tahu persis bahwa ia sangat mencintai Dean.


Erlita menatap Jihan lalu Dean. “De, jadi bener yang Eyang bilang?”


Dean hanya menunduk, tak sanggup menatap wajah Erlita. Sekarang Erlita yakin bahwa apa yang diucapkan neneknya adalah benar. Ia merasa sakit karena dikhianati oleh kekasih dan sepupunya sendiri. Ia memutuskan untuk meninggalkan ruang tamu dan berlari menuju kamarnya.


Nafan yang mengetahui apa yang sedang terjadi memilih untuk memberi Erlita waktu untuk sendiri. Ia memutuskan untuk keluar dan membiarkan Erlita sendirian di kamar.


“Fan!”


Nafan menoleh dan mendekat kepada Erlita. Gadis itu langsung memeluk Nafan dan menumpahkan air matanya di pelukan Nafan.


“Plis, jangan tinggalin gue.”


*****

__ADS_1


“Eyang sudah putuskan, besok kalian berdua akan menikah. Setelah itu kalian harus tinggal di luar negeri sampai anak kalian besar dan tidak ada yang menyadari bahwa kalian hamil sebelum menikah. Eyang tidak mau perbuatan dosa kalian mencoreng nama baik keluarga.”


“Tapi Yang –“


Pratiwi mengangkat tangannya pertanda tidak menerima pendapat apapun.


Untuk saat itu, Bram dan Farah setuju dengan solusi yang ditawarkan Pratiwi. Mereka juga tidak ingin usaha yang mereka bangun dengan susah payah hancur karena gosip murahan itu.


Sementara Jihan tidak menyangka bahwa justru ia lah yang dibuang dari keluarga itu. Bagaimana mungkin ia bisa tinggal dengan bajingan yang sudah menghamilinya dan menghancurkan hidupnya itu? Ia yakin justru ialah yang akan mengalami penderitaan seumur hidup, bukan Erlita.


****


Erlita menumpahkan semua keluh kesah dan amarahnya tentang bagaimana ia dikhianati oleh kekasih dan sepupunya seakan Nafan bukan suaminya. Ia bicara begitu gamblang seakan Nafan tidak berperasaan. Ia tidak sungkan mengatakan bahwa ia dan Dean masih berpacaran meskipun ia sudah menikah dengan Nafan. Dan bahwa ia sengaja meminta Jihan untuk mendekati Nafan agar ia bisa leluasa pacaran dengan Dean, tapi ia justru dibuat kecewa karena Jihan juga mengambil Dean darinya.


Nafan tahu bahwa Erlita sangat membutuhkan teman untuk bicara. Tapi ia juga punya perasaan yang patut dijaga dan dihargai.


"Ta, saya keluar dulu ya?"


Setelah Nafan pergi, Erlita mencoba memikirkan lagi alasan ia menangis. Kalau boleh jujur, ia sebenarnya tidak terlalu membenci Jihan, karena toh kakak sepupunya itu sudah mendapat balasan yang setimpal. Sedangkan Dean, meskipun status mereka masih belum putus setelah Erlita menikah, perasaan cintanya untuk Dean berangsur-angsur pudar. Terutama sejak....


Erlita menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu mengingat malam pertamanya dengan Nafan. Tapi memang benar, sejak saat itu ia tidak pernah lagi memikirkan Dean atau galau ketika tidak bertemu atau bertegur sapa dengan kekasih gelapnya itu. Ia bahkan tidak peduli kalau saja Dean selalu menunggunya di kafe langganan mereka.


Lalu untuk apa dia menangis dan merasa sangat tidak nyaman?


***


Sementara itu, ketika keluar dari kamar, rapat keluarga sudah selesai, ruang tamu juga sudah sepi. Nafan memutuskan keluar rumah untuk mencari udara segar. Ia memerlukan lebih banyak oksigen untuk memadamkan amarah di dadanya. Namun sayang bukan oksigen yang ia temukan, melainkan Dean yang hendak masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa pikir panjang, Nafan menarik pundak Dean lalu menghadiahinya dengan sebuah bogem mentah tepat di wajah baby face-nya. Dean terhuyung kesakitan lalu jatuh tersungkur di tanah. Merasa puas sudah melampiaskan amarahnya, Nafan kembali masuk ke kamar dan melihat Erlita sudah tertidur pulas dengan wajah tersenyum.


"Dasar petasan banting. Habis heboh nangis histeris langsung tidur pules kaya ngga ada apa-apa."


***

__ADS_1


Pagi itu, acara pernikahan Jihan dan Dean diadakan dengan khidmat dan privat, hanya dihadiri keluarga dan kerabat dekat serta seorang fotografer profesional yang sengaja didatangkan untuk merekam momen penting itu.


Bram dan Farah tidak terlihat bahagia sama sekali, malah sebaliknya, mereka terlihat lesu dan tertekan. Sementara Sania sudah heboh sendiri untuk mempersiapkan dan mengumumkan hadiah pernikahan bagi keponakan kesayangannya itu, sebuah apartemen di Boston, Massachusetts.


"Ta, kamu kasih hadiah apa buat Jihan?" Seakan Sania sengaja menyindir Erlita yang tampak tak menyiapkan hadiah apapun, "Ups, tante lupa. Suami kamu kan cuma pns biasa ya? Mana cukup gajinya buat beli hadiah segala."


Nafan merasa marah direndahkan seperti itu, tapi ia terus mencoba bersabar. Toh selama tinggal bersama Erlita ia sudah biasa diremehkan dan direndahkan seperti itu. Ia hanya tersenyum saja menanggapi cemoohan bibi istrinya itu.


Meskipun Sania menyerang Nafan secara personal, tapi Erlita ikutan kesal dan tidak terima karena dianggap menikah dengan pria yang tidak lebih baik dari Jihan. Meskipun tidak semua juga yang dikatakan bibinya itu salah, ia tetap tidak bisa terima dihina dan direndahkan oleh orang yang sama sekali tidak lebih baik darinya.


Erlita masuk untuk mengambil sesuatu lalu diserahkan kepada bibinya itu.


"Nih kado buat kakak sepupu gue tercinta."


Sebuah buku berjudul, "Cara Mengelola Stres dan Depresi."


"Apartemen tante bakal sia-sia kalau sampai kak Jihan stres dan bunuh diri." Erlita lalu mengajak Nafan meninggalkan bibinya yang nyinyir itu.


Setelah pesta pernikahan berakhir, Jihan langsung berkemas untuk berangkat ke Amerika. Ia sangat berharap ayah dan ibunya menghentikannya sekali ini saja. Tapi harapannya menguap begitu ayahnya dengan sigap mengambil kunci mobil dan bersiap mengantarnya ke bandara. Seakan sudah tidak sabar untuk membuangnya jauh-jauh.


Sepeninggalan Jihan ke Amerika, kediaman keluarga Susbihardayan dihebohkan dengan video perselingkuhan Erlita dengan Dean dan Roki. Pratiwi sangat terpukul mendengar ulah Erlita yang mencoreng nama baik keluarga bangsawan yang senantiasa menjunjung tinggi adab dan norma sosial. Dan ia menjadi lebih khawatir karena ada bukti rekaman foto dan video yang bisa menyebar kapan saja.


"Jangan sampai skandal ini menyebar!" Perintah Pratiwi kepada Johan, satu-satunya anggota keluarganya yang sangat jago dalam hal IT.


"Baik, Yang." Johan senang akhirnya mendapat kepercayaan juga dari neneknya itu.


"Erlita, Eyang kecewa sama kamu."


"Yang, Lita bisa jelasin. Ini ngga seperti yang Eyang lihat."


Pratiwi tetap berlalu meninggalkan Erlita yang putus asa karena tidak didengar dan dipercaya. Nafan berusaha menenangkan Erlita dan membawanya ke kamar agar bisa menenangkan diri.


"Biar saya yang bicara sama Eyang."

__ADS_1


__ADS_2