Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 17


__ADS_3

“Kita mau kemana sih Ta?”


“Udah tinggal ikut aja.”


Mereka tiba disebuah warung bakso di gang Gajah Mada.


“Eh, Non Lita. Lama ngga ke sini.”


Lita meletakkan telunjuknya di bibir tanda agar pedagang bakso itu tidak bicara terlalu keras.


“Biasa ya pak, dua makan disini dan satu lagi bungkus untuk Kak Johan.”


“Komplit tambah pentol besar, sayur banyak, saos sambal dipisah.” Tebak si penjual bakso.


“Sip. Seratus buat Bapak.”


Mereka menikmati bakso yang rasanya memang enak itu.


“Ini bakso langganan gue sama Kak Johan. Setiap kali kita keluar bareng, pasti mampir kesini.”


“Emang kamu dekat sama Johan?”


“Dulu sih iya. Kak Johan yang selalu datang ke sekolah gue setiap gue dipanggil guru BP, pentas seni atau ambil raport. Meskipun lebih muda dari Kak Kenny, Kak Johan lebih tegas dan pintar.”


“Entahlah, saya hanya beberapa kali bertemu Johan, saat pesta pernikahan, sarapan pagi dan malam itu.”


“Soal malam itu, tadi gue berniat buat nanya langsung. Tapi gue takut kak Johan marah.”


“Ta, menurut saya, itu adalah privasi Johan. Ngga sepatutnya kita usik.”


“Tapi gue khawatir kalau-kalau Kak Johan salah melangkah.”


“Jadi, apa khawatir bisa menggugurkan batasan privasi?” Nafan sangat menantikan jawaban Erlita.


“Pada saat kita sangat khawatir dan yakin bahwa hal buruk bisa terjadi pada seseorang yang kita sayangi, maka privasi bisa dilanggar.” Erlita membuat dalilnya sendiri.


"Tapi, saya masih tidak percaya seorang Erlita mau makan di warung seperti ini."


"Kak Johan. Gue cuma nemenin dia aja."


"Bukannya Johan juga tidak seharusnya makan di tempat seperti ini?"


Erlita mengangguk.


"Karena itu kami harus berpenampilan seperti ini," Erlita menunjukkan jumper hoodie dan kacamata hitam yang dikenakannya, "Supaya tidak ada yang tahu bahwa kami makan disini, terutama Kanjeng Eyang Ndoro Pratiwi Susbiharadayan."


"Apa menariknya tempat ini sampai kalian rela menyelinap diam-diam dan mengambil resiko dihukum Eyang hanya untuk menikmati semangkok bakso?"

__ADS_1


Erlita menghentikan makannya. Ia menatap Nafan serius. "Karena seorang cewek. Saat SMA, Kak Jo pernah mampir kesini waktu jemput gue pulang sekolah. Terus dia ketemu seorang cewek duduk di kursi itu." Erlita menunjuk sebuah bangku yang diduduki seorang wanita berambut hitam panjang dan mengenakan blezer berwarna lylac.


"Sejak saat itu, Kak Johan jadi sering kesini buat ketemu lagi sama tu cewek. Tapi ya gitu deh.. sampe sekarangpun mereka belum pernah ketemu lagi dan Kak Johan gagal move on sampe sekarang."


Nafan tertawa, "Apa kamu yakin bahwa itu cewek beneran?"


Erlita mulai kesal karena Nafan berani menertawakan cinta pertama kakak sepupunya. "Denger ya Fan, biarpun agak dingin dan pendiam, kak Johan seorang cowok yang setia. Dan dia percaya cinta pada pandangan pertama."


Tawa Nafan kian pecah. Ia sekarang terbahak-bahak hingga perutnya nyaris sakit.


Tiba-tiba seseorang yang sepertinya terganggu dengan tawa bising mereka menghampiri.


“Nafan?”


Nafan menghentikan tawanya lalu menoleh ke arah datangnya suara. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan gadis itu disana.


“Sisil?”


Gadis yang memakai blazer lylac itu tersenyum rupanya ia juga sangat senang bisa bertemu Nafan di sana.


“Boleh saya duduk disini.”


“ Oh ya, silakan.” Erlita mengijinkan gadis yang dipanggil Sisil itu duduk di bangku sebelahnya.


Kini Erlita duduk diantara dua orang yang sedang asyik mengobrolkan masa lalu mereka tanpa mempedulikannya.


Nafan mengangguk.


“Wah, keren banget Fan. Dulu aku juga berniat mengikuti tes pegawai negeri tapi ayahku buru-buru mengirimku ke luar negeri.”


“Jadi kamu sekarang bekerja dimana?”


Gadis itu menyerahkan kartu namanya dan meletakkannya di atas meja di depan Erlita.


Cecilia Judith, penasihat hukum Cecilia, SH, MH & rekan.


Tiba-tiba saja Erlita merasa gerah berada di dekat pengacara terkenal sementara ia skripsi saja belum selesai-selesai.


“Maaf, gue permisi sebentar.” Ia yakin perlu keluar untuk menghirup udara segar.


Tak lama kemudian, Nafan keluar bersama Sisil dengan membawa sebungkus bakso pesanan Johan. Dan Erlita merasa kesal melihat raut bahagia di wajah Nafan.


***


“Gue mau anterin baksonya ke kamar Kak Johan.”


Nafan mengangguk, “Jangan lama-lama.”

__ADS_1


Erlita sudah menganggap rumah Johan seperti rumahnya sendiri. Jadi ia jarang mengetuk dan langsung masuk begitu saja. Kebiasaan buruk memang, tapi sangat susah untuk menghilangkannya.


Erlita tercengang di depan pintu ketika melihat Bram, pamannya menampar dan melempar Jihan ke lantai. Belum puas melihat Jihan tersungkur di lantai, Bram seakan hendak mencekik leher Jihan tapi Farah, istrinya segera menghentikannya.


“Jangan, Mas. Bagaimanapun juga, Jihan ini anak kita. Anak kamu mas.” Kata Farah terbata menahan tangis.


“Aku tidak punya anak pembawa sial seperti dia. Tidak bisa melakukan apa-apa selain mempermalukan keluarga.”


Jihan berlutut memegangi kaki ayahnya, “Maafin Jihan Pa.. Jihan menyesal. Jihan janji ngga akan buat Papa marah lagi.”


Bram melempar tubuh Jihan dan menendangnya.


“Stop!” Erlita berlari memeluk Jihan untuk melindunginya dari tendangan kaki sang ayah.


Erlita tahu ia telah melanggar privasi keluarga pamannya tapi ia tidak ingin Jihan celaka. Jadi ia meruntuhkan dinding privasi itu dan nekat ikut campur. Ia segera membantu Jihan berdiri dan membawanya ke kamar. Farah segera menyusul.


Tak ingin terlibat terlalu jauh, Erlita segera pamit dan masuk ke kamar Johan. Ia menyerahkan bakso pesanan Johan lalu menangis sejadi-jadinya.


“Kenapa lo, Ta?” tanya Johan santai.


“Kak, lo ngga denger Kak Jihan teriak-teriak dihajar Om Bram?”


“Denger.”


“Terus kenapa ngga lo tolongin?”


“Bosen.”


“Kak!”


Johan bangkit dari kursinya mengambil mangkok dan sendok untuk makan bakso yang dibawa Erlita.


“Kak, lo masih bisa makan? Padahal lo tahu adek lo dalam bahaya. Dihajar habis-habisan sama bokap lo sendiri.”


“Terus lo berharap gue gimana?”


“Bantuin adek gue, terus berantem sama bokap gue? Terus dikurung di penjara atas tuduhan menganiaya adek gue sendiri?”


“Apa?” Erlita nyaris tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. Ia kemudian ingat sekitar tiga tahun yang lalu ketika Johan tiba-tiba saja dipenjara atas tuduhan penganiayaan terhadap ibunya, Tante Farah.


Saat itu Johan bersikeras menolak semua tuduhan dan mengatakan bahwa ayahnyalah yang menghajar ibunya sampai babak belur. Tapi tak ada seorangpun yang percaya, termasuk dirinya, karena semua saksi dan bukti mengarah dan memberatkan Johan.


“Maafin gue kak. Seharusnya waktu itu gue percaya sama elo.”


Setelah dikurung dua bulan di penjara itulah Johan berubah dan lebih memilih mengurung diri di kamar.


“Jadi ini bukan pertama kalinya?”

__ADS_1


Johan menggeleng.


__ADS_2