Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 24


__ADS_3

Erlita bergegas menyusul suaminya ke kamar. Ia mencoba mengubah topik pembicaraan untuk mendinginkan hati Nafan yang sedang panas.


“Fan, gue yakin ada yang ngga beres. Pak Bin belum pernah sekalipun telat kirim jatah bulanan gue. Dan Eyang. Semarah apapun Eyang, Eyang ngga pernah sampai blokir kartu kredit gue.”


Meskipun malas, tetap saja Nafan tidak bisa mengacuhkan istrinya terlalu lama.


“Ta, kamu inget ngga apa kata Eyang? Beliau pengen kamu belajar mandiri. Itu artinya mereka tidak akan memanjakan kamu lagi dan sayalah yang harus bertanggung jawab sepenuhnya atas kebutuhan kamu.”


Erlita duduk di dekat Nafan, “Fan, gue bukannya ngga tahu terima kasih sama elo. Gue tahu lo tulus mau nanggung hidup gue. Tapi bagaimanapun juga, duit segitu ngga bakal cukup buat gue. Gue ngga mau mati tersiksa karena ngga bisa ngebeli apa yang gue pengen. Lo ngerti ngga sih maksud gue?!”


Nafan berusaha untuk tetap menjaga kewarasan dan kesabarannya. Ia menatap Erlita.


“Ta, kasih saya kesempatan untuk bisa memenuhi semua keinginan kamu. Saya janji, saya pasti bisa kok.”


“Sampai kapan, Fan? Kebutuhan kita setiap hari terus berjalan dan bertambah.”


“Sabar ya, Ta. Kasih saya waktu.”


Nafan masuk ke dalam kamarnya. Ia membuka leptopnya lalu membalas email yang sudah cukup lama menunggu tindak lanjut darinya.


***


Purnomo senang mendapat laporan bahwa akhirnya Nafan mau menerima tawaran kerjasamanya. Setelah berkali-kali mengirim tawaran, baru kali itulah bocah keras kepala itu akhirnya menyetujui untuk membuat desain furnitur dan mengelola website perusahaan milik Purnomo. Ia yakin tak akan menemukan orang lain yang lebih pas dan lebih baik dari Nafan.


***


Sejak hari itu, Nafan jadi semakin sibuk. Setelah pulang kerja, ia akan langsung menenggelamkan diri di depan komputernya sampai larut malam, bahkan kadang sampai dini hari. Ia hanya sesekali berhenti untuk minum atau sekedar memasak makanan untuk Erlita.


Bahkan di akhir pekanpun, Nafan betah berlama-lama duduk di depan layar komputer, bahkan kadang sampai lupa makan dan lupa mandi. Ia juga tidak jarang sampai ketiduran di meja komputer karena kelelahan.


Erlita tidak tahu betul apa yang sebenarnya Nafan kerjakan dengan komputernya. Ia tidak ingin mengganggu konsentrasi dan privasi Nafan. Jadi ia memilih untuk nonton televisi, berolah raga dan kadang ngobrol ringan dengan istri Pak Ramlan yang tinggal di sebelah rumahnya.

__ADS_1


“Mbak, Mas Nafannya kemana? Kok jarang kelihatan?”


“Ada kok Bu, lagi ngerjain tugas kantor kayaknya.”


“Tugas kantor?” Bu Ramlan tertawa, “Mana ada dinas di Kabupaten kecil seperti ini sampai ngasih tugas untuk dibawa pulang karyawannya Mbak. Apalagi pns, ngga mungkinlah. Setahu saya Mas Nafan itu orangnya sangat rajin dan disiplin, jadi ngga bakal lah sampe ngelembur tugas di rumah.”


Erlita mulai berfikir, jika yang dikatakan bu Ramlan benar, lalu apa yang sebenarnya dikerjakan Nafan dengan sangat serius akhir-akhir ini? Apa ini bagian dari upayanya untuk menepati janjinya kepada Erlita? Atau justru upayanya untuk menghindari rengekan Erlita yang terus-terusan protes atas keterbatasan ekonomi Nafan?


Jika memang ia sedang mengerjakan sesuatu seperti yang dikatakan Nafan, kira-kira seberapa banyak uang yang bisa dapatkannya hanya dengan duduk di depan komputer seperti itu? Apapun itu, ia sudah sepakat untuk memberinya waktu, jadi ia hanya perlu sedikit bersabar dan menunggu.


***


Sementara itu, Purnomo benar-benar tidak menyangka dengan kemampuan Nafan yang luar biasa. Ia bisa menyediakan beragam desain furniture seperti yang diinginkannya dalam waktu singkat. Tidak hanya itu, Nafan juga membuat dan mengelola website perusahaannya dengan baik. Ia membuat website itu menjadi sangat mudah ditemukan di mesin pencari dan membuat permintaan akan produknya jauh lebih meningkat daripada menggunakan website lama mereka.


Sekarang Purnomo ingin membuat Nafan lebih terikat dengan perusahaannya. Ia kemudian meminta Alan, tangan kananya, untuk membuat kontrak kerjasama lebih lanjut terkait pemrograman dan pembuatan aplikasi baru untuk produk mereka.


***


“Dasar tidak tahu diri. Selalu saja melewati batas dan tidak tahu kapan harus berhenti.”


Nafan mengabaikan pesan itu lalu mematikan komputernya.


Sebelum Nafan mematikan komputernya, Erlita sempat melihat Nafan keluar dari emailnya.


“Fan, lo bisa pakai internet?” tanya Erlita nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Nafan mengangguk, “Emang kenapa?”


“Kok gue susah banget dapet sinyal yah? Untuk teleponan aja kadang suka putus nyambung. Boro-boro buat internetan.”


Nafan tertawa sambil berbisik, “Internet satelit.” Lalu berjalan melewati Erlita begitu saja.

__ADS_1


***


Setelah mengetahui keberadaan internet satelit dan tahu cara menggunakannya dari Nafan, Erlita jadi bisa nonton streaming, yout*be dan kanal televisi berbayar lainnya dengan lebih leluasa. Dan yang terpenting adalah, ia bisa segera mencari tahu apa yang sedang terjadi di rumahnya.


Sudah dua hari ini Erlita berusaha menghubungi nenek, paman, bibi dan semua sepupunya di Jakarta. Tapi tak ada seorangpun yang bisa dihubungi. Ia mulai mencari beberapa artikel tentang keluarganya di komputer Nafan dan ia baru tahu bahwa terjadi kasus korupsi dan pencucian uang di perusahaan induk Susbihardayan Group dan diduga pelakunya adalah Bintoro, orang kepercayaan Pratiwi, nenek Erlita.


“Ngga ini ngga mungkin.”


Erlita tahu betul Pak Bin orang seperti apa. Tidak mungkin Pak Bin akan mengkhianati neneknya dengan cara seperti itu. Dan kalaupun memang benar Pak Bin melakukan perbuatan seperti itu, tidak mungkin neneknya tidak tahu. Pratiwi adalah orang yang sangat jeli dan penuh perhitungan. Erlita yakin pasti ada sesuatu hal buruk yang terjadi kepada keluarganya. Ia harus mencaritahu langsung kebenarannya.


***


Sore itu Nafan pulang dengan membawa amplop berisi banyak uang. Ia kemudian menyerahkannya kepada Erlita.


“Darimana kamu dapat uang sebanyak ini, Fan?”


“Saya sudah berjanji maka pasti akan saya tepati bagaimanapun caranya.”


Erlita sangat senang, malam itu mereka kembali makan malam bersama di restoran besar lain yang Erlita inginkan di kota.


Keesokan harinya, ketika Nafan pulang dari kantornya, ia tidak menemukan istrinya dimanapun. Biasanya sore-sore seperti itu, Erlita akan nonton televisi di ruang tamu, atau main game di kamar atau ngobrol dengan Bu Ramlan di teras.


“Mas Nafan cari Mbak Lita?” tanya Bu Ramlan yang menyaksikan Nafan mondar-mandir di rumahnya.


“Iya, Bu. Ibu tahu Lita kemana?”


“Loh memangnya Mbak Lita ndak pamit sama Mas Nafan?”


“Pamit?”


“Iya. Tadi pagi Mbak Lita numpang sama Pak Heri sampai kota. Katanya dia mau pulang ke Jakarta. Ada urusan penting.”

__ADS_1


“Jakarta?!”


__ADS_2