Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 26


__ADS_3

Nafan bergegas mandi, berganti baju lalu mengemas barang-barang pribadinya dan ikut ka Jogja bersama Alan. Mereka tiba di Jogja dini hari dan langsung ke rumah sakit.


Pagi harinya ketika dokter berkunjung untuk mengecek keadaan pasien, Alan sengaja menitip pesan agar disampaikan kepada pasien bahwa Nafan sudah datang untuk menjenguknya.


Benar saja, hari berikutnya, kondisi pasien mulai stabil dan bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Nafan bisa menemui langsung dan berbicara dengan pasien. Meskipun membencinya, tapi ia sedih melihat pria itu terbujur lemah seperti itu. Ia tidak lagi tampak seperti seorang diktator yang garang dan keras kepala.


Beberapa jam kemudian, pasien sadar dan mulai bisa bicara perlahan dengan Nafan.


“Fan, Eyang senang kamu mau datang.”


“Eyang kakung masih lemah, jadi jangan banyak bicara dulu. Nanti saja ya?”


Pria renta itu tersenyum, “Eyang tidak yakin punya lebih banyak waktu lagi untuk bicara sama kamu.”


“Jangan bicara aneh-aneh. Saya akan tetap disini sampai Eyang bisa ngomel-ngomelin saya lagi.”


Pria itu kembali tertidur.


Hari berikutnya kondisinya semakin membaik dan pasien juga mulai bisa berbiacara lebih banyak.


“Fan, Eyang mau minta maaf sama kamu. Eyang salah karena tidak pernah bisa memahami kamu. Eyang hanya tidak ingin kamu menderita dan kesulitan kalau Eyang tidak ada. Karena itu, Eyang terus memaksa kamu untuk menuruti semua yang Eyang siapkan untuk kamu.”


Nafan tidak bisa berkata apa-apa. Ia bisa memahami perkataan kakeknya tapi ia tetap tidak bisa memaafkan keegoisan kakeknya yang menyebabkan kedua orang tuanya meninggal dunia.


“Soal kedua orang tua kamu, bukan Eyang yang memaksa mereka untuk pergi. Ada orang yang meminta ayahmu untuk datang ke Jakarta. Dan Eyang tidak tahu bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi.


“Siapa? Siapa yang meminta ayah datang ke Jakarta?”

__ADS_1


“Eyang juga tidak tahu pasti. Tapi sepertinya itu adalah seorang wanita yang sangat mengenal ibumu.”


Nafan menyesal telah membenci kakeknya atas apa yang tidak dilakukannya. Ia telah hidup tersiksa sekian lama karena sebuah kesalah pahaman.


“Eyang tidak akan memaksamu untuk menjaga apa yang sudah Eyang rintis. Eyang hanya titip agar semua berada di tangan yang tepat.”


“Saya juga mau minta maaf, Yang. Karena sudah menikah tanpa meminta ijin Eyang.”


“Apa?! Jadi kamu sudah menikah? Mana istrimu?”


“Ia sedang ada urusan di Jakarta.” Nafan menunjukkan fotonya bersama Erlita yang diambil saat wisuda.


“Cantik Fan. Kamu pintar pilih istri.”


“Bukan pilih, Yang, tapi dipaksa.”


“Namanya Erlita, anak dari wanita yang pernah menyelamatkan saya dari sungai enam belas tahun yang lalu.”


“Jangan bilang –“


Nafan mengangguk, “wanita itu ternyata adalah menantu tertua keluarga Susbihardayan. Dan gadis ini adalah Erlita Susbihardayan.”


Meskipun awalnya tampak bingung, sekarang Purnomo tampak mengerti apa yang terjadi. Dan ia pun tersenyum lega.


“Katakan pada Pratiwi, kali ini saya setuju dengan keputusannya.”


***

__ADS_1


Dua hari kemudian kondisi kesehatan Purnomo kembali memburuk dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia karena serangan Jantung dan komplikasi. Nafan kembali ke rumah kakeknya dan mengurus semua prosesi pemakaman untuk kakeknya.


Keluarga besar mendiang ibunya datang bergantian ke rumah kakek Nafan untuk mengucapkan bela sungkawa. Namun, Nafan sama sekali tidak merasa simpati dengan duka cita mereka. Nafan tahu persis bahwa hari itulah yang paling mereka tunggu-tunggu.


Seperti gerombolan orang yang tak punya malu dan harga diri, dengan entengnya mereka membahas warisan sementara Kakeknya baru beberapa jam lalu dimakamkan. Nafan benar-benar marah dan akhirnya menyuruh Alan untuk mengusir mereka.


Sepertinya mereka lupa bahwa Nafan sudah tumbuh menjadi orang yang berbeda. Ia bukan lagi anak kecil yang bisa dimanfaatkan seperti dulu. Nafan akan memastikan bahwa mereka akan melihat Nafan yang bisa menghancurkan mereka kapan saja jika terus saja meributkan warisan mendiang ibu dan kakeknya.


Sudah lama sekali Nafan meninggalkan rumah masa kecilnya itu. Sejak lulus SMA, karena sering cek-cok dengan kakeknya, ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan kuliah di Surabaya. Ia kemudian mengikuti tes pegawai negeri dan diterima serta ditempatkan di Dinas Kehutanan Kalimantan Timur, lalu setahun kemudian ia dipindahkan ke Kabupaten Banyuwangi.


***


Sarapan bersama di kediaman Pratiwi.


“Kenapa ngga kamu kasih ijin aja sih Mas? Biar anak itu yang ngerawat ibu yang sudah sakit parah.” Sania tidak setuju dengan keputusan Bram, adiknya.


“Sania benar, Mas. Selama ini Lita adalah orang yang paling banyak mengambil keuntungan dari ibu. Jadi sudah selayaknya ia merawat ibu dalam kondisi seperti ini. Bakal lebih repot kalau kamu harus ngurusin orang yang bahkan sudah tidak punya harapan hidup lagi.” Timpal Farah, istri Bram.


Johan marah mendengar perkataan ibunya. Meskipun neneknya tidak pernah menyayanginya seperti Erlita, tapi wanita itulah yang memberinya dan keluarganya kehidupan dan kemewahan. Ibunya sama sekali tidak pantas berkata seperti itu.


“Tapi Eyang masih hidup, Ma.” Protes Johan pada ibunya.


“Iya, biarin aja, Mas. Toh biaya pengobatan ibu juga ngga sedikit. Untuk apa kita buang-buang uang untuk bayar biaya rumah sakit? Kalo Lita bawa ibu, biar dia yang tanggung semua biayanya. Lagian ibu juga ngga akan kuat bertahan sampai di Banyuwangi. Jadi biar Lita saja yang mengurus urusan ribet seperti itu.” ujar Prasetyo sama jahatnya dengan yang lain.


Johan merasa jengah dengan pembicaraan pada sarapan bersama pagi itu. Ia segera meninggalkan meja makan yang dipenuhi dengan orang-orang yang tak punya hati nurani.


Bram mempertimbangkan kembali pendapat anggota keluarga yang lain dan dia akhirnya mengijinkan Erlita untuk membawa neneknya ke Banyuwangi karena ia yakin bahwa sang ibu tidak akan sempat untuk membicarakan apalagi merencanakan macam-macam untuk menjatuhkannya.

__ADS_1


__ADS_2