Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 11


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Nafan menerima gaji bulanannya yang dikirim ke rekening pribadinya. Ia bergegas mencari mesin atm, membayar cicilan yang dimilikinya, lalu menarik sisa uangnya.


Malam itu, Erlita sudah berada di kamarnya meskipun jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Ia terlihat sedang bermain laptop sambil tengkurap di atas ranjangnya. Nafan mendekati Erlita yang kaget karena tidak menyadari ia memasuki kamar sebelumnya.


“Ta, kamu simpan ini ya.” Nafan menyerahkan amplop berisi uang kepada Erlita.


“Apa ini?” tanya Erlita tak mengerti kenapa Nafan memberinya uang.


“Ini gaji bulanan saya. Sudah terpotong untuk membayar cicilan. Sisanya bisa kamu simpan dan pakai untuk membeli keperluan kamu.”


Sebenarnya hal ini cukup menyentuh dan mengharukan, tapi melihat jumlah di dalam amplop itu dan harapan Nafan untuk membayar kebutuhannya terdengar lucu dan malah membuatnya ingin tertawa.


Erlita mengembalikan amplop itu kepada Nafan, “Lo simpan sendiri aja. Meskipun gue belum kerja beneran kaya elo, gue punya penghasilan sendiri dan semua kebutuhan hidup gue sudah terpenuhi dan terjamin. Jadi lo ngga usah repot-repot ngasih uang yang lo kumpulin susah payah selama satu bulan ke gue.”


Nafan meletakkan amplop itu di telapak tangan Erlita, “Ini tanggung jawab dan kewajiban saya untuk memberi nafkah. Jadi terimalah. Terserah kalau kau ingin menyumbangkannya atau membuangnya.”


Erlita menatap punggung Nafan yang berjalan membelakanginya menuju sofa untuk tidur. Hari masih terlalu sore untuk tidur, tapi Nafan seakan langsung terlelap begitu saja. Tidak ada suara atau pergerakan lain yang menandakan bahwa ia belum tidur.


Erlita merasa heran kenapa Nafan merasa bertanggung jawab untuk memberinya nafkah padahal ia tidak pernah memintanya. Selain itu, ia tahu betul bahwa Nafan pasti tidak punya uang lagi untuk kebutuhannya sendiri karena semua uang gajinya sudah ada di tangan Erlita. Sungguh konyol. Erlita belum pernah melihat pemikiran konyol seperti itu.


Ia kemudian menghitung jumlah uang yang diberikan Nafan, rasanya untuk membeli make up bulanannya saja masih belum cukup. Tapi ia tidak ingin membuat Nafan marah, jika mengembalikan uang itu. Jadi ia memutuskan untuk menyimpannya di laci.


***


Pagi itu jatah cuti Nafan habis, jadi ia harus kembali bekerja seperti biasa. Pagi itu Erlita sengaja bangun pagi untuk melihat Nafan berangkat kerja dari balik jendela kamarnya. Pria itu begitu santai mengendarai motor bututnya, padahal ada banyak mobil nganggur di rumah Erlita.

__ADS_1


Meskipun sudah sebulan menikah, ia bahkan tidak pernah melihat Nafan membeli barang-barang keperluan pribadinya. Nafan berangkat dengan mengenakan baju dinas yang disembunyikan di balik jaket yang sama sekali usang dan tidak bermerk, memakai sepatu dan jam tangan yang juga tidak bermerk. Ia heran bagaimana Nafan bisa tahan dengan kehidupan seperti itu.


Erlita lalu keluar untuk sarapan bersama. Meja makan masih sepi, jadi ia berniat mengambil beberapa camilan di dapur.


“Loh, Non Lita sudah bangun?” tanya salah seorang pelayan.


“Ini Non,” pelayan itu menyerahkan nampan berisi sepiring sandwich dan buah. "Ini Den Nafan yang siapkan. Katanya takut kalau Non Lita bangun kesiangan dan melewatkan jam sarapan bersama.”


Erlita tidak menyangka kalau Nafan begitu perhatian. Bahkan di sela-sela kesibukannya mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, ia masih menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk Erlita.


Erlita segera mengambil dan memakan sandwich buatan Nafan. Entah kenapa meskipun tidak berbeda dengan roti lapis lain yang sering ia makan, sandwich yang dimakannya kali ini berbeda. Rasanya lebih enak dan membuat ketagihan.


“Hei! Ngapain lo senyum-senyum? Gue tahu ni, pasti lo lagi ngehalu kan?” Jihan tiba-tiba saja mendatangi Erlita di dapur.


“Lo ngga lihat gue lagi makan sandwich?”


“Karena ini sandwich terenak yang pernah gue makan.”


“Masa sih? Gue mau coba dong.” Jihan membuka mulutnya siap mencomot sandwich Erlita.


Tapi Erliat justru membawa sandwichnya berlari ke meja makan dan segera menghabiskannya. Kali ini ia tidak rela berbagi dengan Jihan.


“Bik, itu Erlita kenapa?”


“Oh, itu tadi sandwich buatan Den Nafan. Tadi sengaja disipain buat jaga-jaga kalau Non Lita bangun kesiangan dan ngga sempet ikut sarapan bersama.”

__ADS_1


Jihan merasa sangat iri dengan Erlita. Sepupunya itu sangat beruntung karena di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menikah dengan seseorang yang sangat romantis dan peduli kepadanya.


Entah kenapa meskipun sudah berhasil merebut Dean dari sepupunya itu, ia belum merasa puas. Apalagi Erlita belum tahu kalau Dean selingkuh dengan sepupunya sendiri. Semua terasa hambar. Kali ini Jihan berniat untuk merebut Nafan juga dari Erlita.


***


Meja makan masih sepi, baru ada Erlita dan Jihan yang sudah sampai disana.


“Ta, lo jadi beneran suka ya sama Nafan?”


Erlita tertawa,”Ya enggalah kak. Dia tu bukan tipe gue banget! Gue cuma ngga mau aja hidup gue jadi repot karena eyang marah kalau gue jahatin Nafan.”


“Yakin lo? Jadi lo ngga keberatan dong kalau Nafan deket sama cewek lain?”


“Nggalah, lo tahu kan? Bagi gue, privasi tu penting. Jadi gue ngga akan ikut campur dalam urusan pribadi Nafan, sama kaya gue ngga mau Nafan ikut campur dalam urusan pribadi gue.”


“Sip!” Jihan mengacungkan kedua jempolnya.


“Sip kenapa?”


“Jadi lo ngga keberatan dong, kalau gue deketin Nafan.”


“Lo suka sama dia, Kak? Ngga salah lo?” Erlita mengecek mata sepupunya itu. “Jangan-jangan lo salah lihat lagi, Nafan lo kira Peter.”


“Apaan sih lo. Ngga kok. Gue jenuh aja di rumah karena eyang selalu ngelarang gue bawa cowok pulang. Bakal lebih menyenangkan kalau di rumah juga ada cowok yang bisa bikin gue seneng dan ngga bosen.”

__ADS_1


“Serah lo aja deh, Kak.”


Tak lama kemudian semua anggota keluarga berkumpul dan makan pagi bersama. Erlita masih memikirkan perkataan kakak sepupunya tadi, ia tidak yakin apakah tindakan mereka benar. Tapi jika Nafan juga setuju, maka akan lebih baik juga baginya. Karena dengan begitu, ia juga akan memiliki lebih banyak waktu untuk bersama Dean dan mendekati pria keren lainnya tanpa ada rasa bersalah.


__ADS_2