
Keesokan harinya Bram menemui Erlita di rumah sakit. Ia menyampaikan bahwa semua anggota keluarga setuju untuk mengijinkan Erlita pergi membawa neneknya ke Banyuwangi dengan syarat bahwa Erlita tidak akan membebankan semua biaya perjalanan, pengobatan dan kebutuhan hidup sehari-harinya dan neneknya kepada keluarga besar Susbihardayan.
Erlita tertawa mendengar persyaratan yang diajukan pamannya itu.
“Om, om lupa?! Bahwa semua harta yang om pakai dan tinggali itu adalah milik Eyang? Sekarang Om bicara seolah Eyang tidak boleh menggunakan hartanya sendiri untuk memenuhi keperluan hidupnya.” Erlita benar-benar kesal.
“Oh, Lita tahu sekarang. Jadi om yang ngeblokir semua kartu kredit aku? Om sengaja pengen ngebuang aku dari keluarga Susbihardayan?”
Bram hanya tersenyum sinis mendengar ocehan keponakan kecilnya itu. “Kalau kau sudah tahu, sebaiknya bersikaplah bijak dan jangan melampaui batas.”
Erlita benar-benar marah sekarang. Ia berjanji dalam hati akan membalas perbuatan pria gemuk dan botak yang baru saja pergi meninggalkannya itu.
Erlita segera mengurus keperluan sang nenek untuk bisa dirujuk ke RSUD di Banyuwangi. Namun, sebelum pergi, ia ingin menemui Bintoro, orang kepercayaan neneknya yang sedang ditahan di penjara atas tuduhan penggelapan dana dan pencucian uang perusahaan.
***
(Penjara)
“Non Lita kenapa kesini?” tanya Bintoro sungkan bertemu dengan cucu majikannya itu.
Erlita tersenyum, “Lita mau minta maaf, Pak Bin. Lita sudah su’udzan berfikir kalau Pak Bin sengaja terlambat kirimin uang bulanan untuk Lita.”
“Maafin, Pak Bin, Non. Pak Bin ngga bisa lagi ngirimin Non Lita uang bulanan.”
“Pak Bin ngga perlu minta maaf. Lita yakin Pak Bin ngga salah. Lita kesini cuma pengen tahu, bagaimana ceritanya Pak Bin bisa sampai ada disini?”
****
(Jogja)
Setelah tujuh hari lamanya Nafan tinggal di Jogja, ia segera berkemas untuk kembali ke Banyuwangi.
“Mas, apa mas yakin ngga mau kembali ke rumah ini lagi? Sekarang Tuan sudah ngga ada lagi.” Alan kembali terisak mengenang majikannya yang sudah memperlakukannya dengan sangat baik layaknya cucu sendiri.
“Lan, kamu kan cucunya Eyang juga. Jadi saya minta tolong sama kamu untuk ngurusin semua yang ada disini. Besok jatah cuti saya sudah habis, jadi saya harus kembali ke Banyuwangi hari ini.”
”Mas, apa ngga bisa Mas Nafan mikirin lagi permintaan Tuan?”
__ADS_1
“Tentu, Lan. Akan saya pikirkan. Tapi untuk saat ini saya adalah abdi negara. Jadi saya harus fokus pada tugas dan tanggung jawab saya. Untuk sementara, kamu bantu saya urus urusan disini ya?”
Alan mengangguk. Lalu Nafan memeluknya sekaligus berpamitan. Nafan meninggalkan Jogja dengan berat hati dan penuh penyesalan. Ia gagal melindungi satu-satunya anggota keluarga yang dimilikinya.
Sekarang kakeknya sudah benar-benar pergi untuk selamanya. Tidak lagi berpura-pura demi untuk membuat Nafan pulang dan bertemu dengannya.
Nafan kembali merasakan sedihnya ditinggal orang terdekatnya untuk selamanya, setelah melihat kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan belasan tahun yang lalu.
****
(Jakarta)
Semua keperluan pemindahan perawatan neneknya ke RSUD Banyuwangi sudah siap. Mereka terpaksa pergi dengan ambulance demi keamanan dan keselamatan sang nenek. Setelah menempuh hampir lima belas jam perjalanan, mereka akhirnya tiba di RSUD Banyuwangi.
Kondisi Pratiwi langsung diperiksa dan observasi. Setelah menjalani serangkaian tes, Pratiwi akhirnya kembali di tempatkan di ruang perawatan. Hari itu Erlita sengaja tidak memberitahu Nafan bahwa mereka sudah tiba di Banyuwangi. Ia ingin fokus dulu pada kondisi kesehatan neneknya.
Keesokan harinya, dokter menyatakan bahwa kondisi kesehatan Pratiwi sudah stabil. Jadi Erlita segera menghubungi Nafan untuk mengabarkan keadaan dan keberadaannya.
Sekitar satu jam kemudian Nafan datang ke RSUD Banyuwangi untuk menemui istri dan neneknya. Erlita langsung memeluk Nafan erat ketika pria beraroma tubuh wangi itu datang. Ia sangat merindukan aroma tubuh suaminya itu.
“Kenapa kamu baru bilang kalau mau bawa Eyang kesini.” Nafan khawatir membayangkan bagaimana khawatir dan takutnya sang istri merawat dan membawa neneknya sejauh itu seorang diri.
Pratiwi sudah bangun ketika kedua sejoli yang baru melepas rindu itu masuk. Nafan segera mencium punggung tangan neneknya itu.
“Eyang sudah enakan?”
Pratiwi mengangguk.
“Capek ya Yang? Banyuwangi jauh banget ya?”
Lagi-lagi Pratiwi mengangguk sambil tersenyum.
Mereka lalu membiarkan Pratiwi yang masih lemah untuk kembali beristirahat.
Seminggu kemudian, kondisi Pratiwi sudah membaik dan diijinkan pulang ke rumah.
“Fan, maaf yah, gue pake semua uang lo buat beli tiket pesawat dan biaya pengobatan Eyang. Ini masih ada sedikit sisa mau gue pake untuk lunasin biaya rumah sakit disini biar Eyang bisa segera pulang.”
__ADS_1
Nafan tersenyum lalu menyerahkan dompetnya kepada istrinya itu, “Pakai aja semau kamu. Ini uang kamu juga kok.”
***
Siang itu, mereka sudah kembali ke rumah dinas Nafan. Rupanya selama Erlita menemani neneknya di rumah sakit, Nafan menyulap gudangnya menjadi kamar yang sangat nyaman dan bersih untuk mereka tempati.
Sementara kamar utama yang selama ini biasa mereka tempati akan ditempati oleh Pratiwi. Karena hanya kamar itu yang memiliki AC dan Nafan tidak ingin harus memeluk neneknya juga untuk membuatnya bisa tidur seperti Erlita dulu.
“Yang, rumah ini memang kecil banget. Malah lebih kecil dari kamar bik Sumi. Tapi Lita berharap Eyang betah tinggal disini sama Nafan dan Lita.”
“Bukannya kamu bilang kalau kamu ngga betah tinggal disini dan ngga pengen balik kesini lagi?” goda Pratiwi
Erlita mencubit lengan neneknya pelan, “Eyang jangan keras-keras dong.”
Nafan tertawa melihat tingkah lucu istrinya itu. “Meskipun bilang ngga betah, Lita bakal lebih ngga betah lagi hidup tanpa saya, Yang.”
“Dih, ge-er. Situ pede amat ya?” Erlita sedikit gengsi mengakui bahwa perkataan Nafan memang benar adanya.
Mereka kemudian mengantar Pratiwi untuk tidur di kamar utama. Erlita kemudian kembali ke kamarnya untuk ganti baju. Pratiwi melihat sebuah foto kecil yang diletakkan di meja komputer Nafan. Foto Nafan bersama Kakeknya yang baru saja Nafan bawa dari rumahnya di Jogja.
“Bagaimana kabar kakekmu, Fan?”
Nafan kaget Pratiwi tiba-tiba saja menanyakan tentang kakeknya. “Eyang kenal kakek saya?”
Pratiwi lalu mengambil foto itu dari meja Nafan. “Sudah lama sekali kami tidak bertemu. Apa ia baik-baik saja?”
Nafan ragu untuk mengatakan kebenarannya, tapi ia tidak punya alasan yang jelas untuk berbohong, “Yang Kung baru meninggal dua minggu yang lalu, Yang.”
“Apa?! Innalilahi wainnailaihi rojiun.” Air mata Pratiwi tiba-tiba saja bercucuran
“Yang Kung meninggal karena serangan jantung dan penyakit komplikasinya.”
Pratiwi masih saja terisak, ia tidak kuasa menahan air matanya.
“Tapi Yang, sebelum meninggal, Yang Kung sempat berpesan pada saya agar menyampaikan sama Eyang bahwa kali ini Yang Kung setuju dengan keputusan Eyang.”
Pratiwi kian sedih mendengar penuturan Nafan. Meskipun harus terpisah oleh maut dengan cara seperti itu, Pratiwi merasa lega karena untuk pertama kalinya mereka sepakat tentang satu hal.
__ADS_1
Erlita yang baru saja masuk dan melihat neneknya menangis, kebingungan, “Fan, ada apa ini? Kok eyang nangis-nangis?”
Nafan membiarkan neneknya sendiri untuk menenangkan diri sehingga ia membawa Erlita keluar dari kamar.