Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 42


__ADS_3

Nafan mengajak Erlita mengunjungi hampir semua tempat wisata terkenal di kawasan Jogja. Erlita hampir tidak percaya bahwa tempat-tempat yang dikunjunginya tadi belum pernah dikunjungi Nafan bersama Sisil.


“Emang bener, Ta. Saya sama Sisil belum pernah ke tempat-tempat itu bersama. Kami berdua kebetulah lahir dan besar di Jogja. Jadi bagi kami tempat-tempat wisata itu terlalu biasa untuk dikunjungi bersama-sama.”


“Jadi, apa kalian punya tempat yang tidak biasa – istimewa – untuk dikunjungi berdua?”


“Kami bercita-cita pergi ke niagara bersama. Cita-cita dua anak kampung yang belum tahu seperti apa kejamnya dunia.”


“Terus, udah kesampaian pergi ke sana?”


“Ya enggklah Ta, kami putus karena tiba-tiba saja Sisil pindah ke luar negeri tanpa kabar.”


“Terus lo tahu kenapa dia pergi tanpa kabar?”


Nafan menggeleng, “Saya jauh lebih penasaran dengan kenapa kamu peduli dengan cerita masa lalu seperti itu?”


“Ya, ngga penasaran juga sih. Cuma jaga-jaga aja kalau tiba-tiba tu cewek datang mau nostalgia sama elo, gue jadi tahu mesti ngapain.”


“Emang kamu mau ngapain, Ta?”


“Ya, nyuruh dia ke niagara sendirian. Karena mulai hari ini lo Cuma bakal pergi kalau gue juga pergi.”


“Kalau gitu kita bisa pergi bertiga ke niagara.”


“Nafaaaaaan!”


****


Nafan mengantar Erlita membeli beberapa potong baju kerena memang dia tidak membawa banyak pakaian ganti kali itu. Sementara hujan mulai sering mengguyur kota Jogja. Jadi Erlita harus sering-sering ganti baju karena basah kehujanan.


Mereka memasuki sebuah pusat perbelanjaan dan para pelayannya bersikap sangat santun kepada mereka.


“Fan, gue bisa maklum kalau seperti ini terjadi di Jakarta. Karena mereka semua kenal gue. Tapi ini di Jogja yang notebene gue baru pertama kali ke sini. Kenapa mereka bersikap seolah-olah sudah kenal banget sama kita.”


“Orang Jogja memang gitu, Ta. Ramah-ramah. Senyumin aja.” Nafan setengah berbohong.


Seseorang dari gerai sepatu hendak menyapa Nafan tapi Nafan segera meletakkan telunjuknya di mulut tanda bahwa orang itu harus diam dan memperlakukannya seperti pengunjung biasa.


Erlita sedang memilih-milih pakaian saat manajer sepatu yang bernama Beni itu menghampiri Nafan.

__ADS_1


“Mas Nafan kapan datang? Kenapa ngga ngabari dulu kalau mau kesini?”


“Saya baru datang kemarin, tapi besok sudah harus balik lagi. Gimana mall rame?”


“Lumayan, Mas. Saya sudah kirimkan laporannya ke Mas Alan.”


Nafan manggut-manggut saja mendengar penuturan Beni.


“Pak Ben, bisa minta tolong?”


“Siap, Mas!”


Erlita kembali dengan beberapa kantong belanjaan, “Yuk, Fan. Dah dapet semua.”


***


Sesampainya di kamar, Erlita membongkar semua barang belanjaannya. Tapi ada satu kantong yang tampak asing. Ia tidak merasa membelinya tadi. Tapi karena penasaran, ia membuka kantong yang ternyata berisi sepatu itu.


Sebuah sepatu kulit berlapis kain batik dengan sentuhan sulam tangan yang sangat halus dan rapi. Modelnya juga sangat elegan tidak kalah dengan sepatu bermerk luar negeri yang selalu Erlita kenakan. Dan yang lebih hebat lagi, ukurannya sangat pas di kaki Erlita.


Erlita langsung mencerca Nafan yang baru masuk kamar sehabis mandi dengan banyak pertanyaan tentang sepatu itu.


Apa yang dikatakan Nafan memang benar dan ia setuju dengan pendapat itu, tapi ia hanya penasaran denga berapa banyak yang Nafan keluarkan untuk sepatu itu dan kenapa ia bisa dengan mudah mendapatkan sepatu yang katanya edisi terbatas itu.


“Udah, buruan mandi. Jangan ngurusin sepatu terus.”


“Emang ada lagi yang perlu gue urusin selain sepatu?” tanya Erlita manja sambil memeluk tubuh wangi sabun Nafan dari belakang.


Nafan langsung memutar badan dan menghujani tubuh istrinya itu dengan ciuman maut bertubi-tubi yang akhirnya membuatnya tumbang dan menyerah tanpa syarat dalam ‘permainan ranjang’ Nafan yang penuh gairah.


****


Ketika Erlita dan Nafan kembali ke Jakarta, mereka segera mematangkan hasil penyelidikan dan rencana balas dendam mereka.


“Kami sudah mengumpulkan semua bukti dan saksi yang bisa meringankan hukuman Pak Bintoro.” Jelas Johan


“Saya juga sudah meminta Bapak untuk bicara jujur di persidangan dan tidak perlu lagi mengkhawatirkan keluarga karena Pak Bram akan segera diganjar juga atas perbuatan beliau.” Rania menjelaskan dengan agak kikuk dan sungkan karena biar bagaimanapun Bram adalah ayah kandung Johan.


Erlita mendekati Johan, “Kak, lo beneran gak papa? Gue ngga bakal paksa lo tetep ikutin skenario ini kalau itu berat buat lo. Gue juga ngga berambisi untuk berebut kekuasaan sama Om Bram kok. Malahan sekarang gue jadi pengen pindah ke Jogja aja sama Nafan.”

__ADS_1


Nafan yang sedari tadi mendengarkan sambil menikmati kopi lattenya, tiba-tiba tersedak mendengar perkataan Erlita. Bagaimana mungkin Erlita bisa betah tinggal di tempat yang menurut Nafan dulu lebih mirip dengan neraka karena keberadaan kakeknya.


Bukannya fokus mendengar jawaban Johan, semua mata justru mengarah pada Nafan yang tiba-tiba tersedak padahal cangkirnya sudah kosong.


Nafan akhirnya tertawa untuk mengalihkan tatapan maut sepupu-sepupu iparnya itu.


“Lita bener Jo, lo ngga perlu maksain diri. Kita bisa berhenti disini kalau lo mau.” Kata Nafan sok-sokan peduli dengan perasaan Johan.


“Mana bisa begitu? Kasian Rania. Ayahnya dipenjarakan secara tidak adil. Masa kalian mau diam aja?” protes Kenny tak terima nasib ayah gadis yang dicintainya tidak dipedulikan oleh saudara-saudaranya.


“Kaya lo tahu aja kita mau ngapain,Kak.” Timpal Erlita santai sambil meninju lengan kanan Kenny yang mulai bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Rania tiba-tiba ikut bicara, “Jika kita memang berniat untuk melanjutkan kasus ini ke jalur hukum, maka kita perlu seorang pengacara profesional yang baru dan belum banyak mengenal Susbihardayan Group. Karena akan sangat sulit menjaga loyalitas dan netralitas pengacara yang sudah lama bekerjasama dengan perusahaan sekalipun mereka dulunya bekerjasama dengan Eyang Pratiwi.”


“Rania, lo tu ngga Cuma cantik tapi juga cerdas banget. Gue yakin pilihan gue untuk nikahin lo ngga pernah salah.” Puji Kenny tiba-tiba.


Erlita kembali melempar bantal sofa dan mengenai bagian belakang kepala Kenny, “Ngegombal aja lo, Kak. Eneg gue ngedengernya.”


Bukannya marah, Kenny justru menghampiri Erlita dengan penuh semangat, “Gue ngga ngegombal Ta. Ini pertama kalinya dalam hidup gue, gue pengen serius nikahin seseorang.”


“Lo pikir nyokap lo bakal setuju lo nikah sama anaknya Pak Bin?”


“Gue ngga peduli, Ta. Kalau perlu gue bakalan keluar dari rumah kalau nyokap gue ngga mau ngerestuin hubungan gue sama Rania. Kalau perlu gue bakalan kawin lari dan pergi jauh ke luar negeri.”


“Gila lo, Kak.” Erlita menoyor kening kakak sepupu tertuanya itu.


“Jadi siapa pengacara yang akan kita pakai?” tanya Johan mengalihkan topik soal kawin lari Kenny dan Rania.


Nafan berniat mengusulkan sebuah nama, tapi melihat tampang moster istri kecilnya, Nafan mengurungkan diri. Tak lama kemudian, Erlita menyodorkan sebuah kartu nama di atas meja dan Johan segera mengambilnya.


“Cecilia Judith, SH.MH.”


Nafan menoleh kepada Erlita tidak percaya bahwa istrinya akan mengajukan nama gadis yang paling dicemburuinya itu.


“Lo yakin mau pake orang ini, Ta? Lo dah selidiki track recordnya? Latar belakangnya? Dan cara kerjanya?” Johan sepertinya menjadi orang yang paling tidak yakin dengan kepabilitas pengacara yang diusulkan Erlita.


“Itu tugas lo, Kak.” Jawab Erlita kepada Johan.


***

__ADS_1


__ADS_2