Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 7


__ADS_3

Robin dan gengnya merasa sangat kagum dengan sikap Nafan yang menurut mereka sangat keren dqn berkharisma. Tiba-tiba saja mereka jadi gerombolan fans yang mengerubungi Nafan di kantin kampus.


"Kak, ajarin gue bela diri dong. Lo keren banget!"


Nafan benar-benar risih meladeni bocah-bocah ingusan itu, belum lagi cewek-cewek yang ikutan mengerumuninya setelah mendengar cerita hiperbola yang dikoar-koarkan Robin dan teman-temannya.


Tiba-tiba saja Nafan menjadi populer dan memiliki banyak penggemar, yang Nafan sendiri tidak tahu kenapa mereka bersikap begitu menggelikan padahal ia tidak berbuat apa-apa.


Erlita yang baru menyelesaikan kelasnya dan datang ke kantin merasa penasaran dengan apa yang sedang dikerumuni teman-temannya. Ketika mendekat, ia melihat Nafan sedang sangat santai menikmati minumannya di tengah kerumunan orang-orang yang mengelu-elukannya.


"Eh, ada apaan ini?"


"Ta, sopir lo hebat banget. Keren banget." Puji Ergi tanpa basa-basi.


"Iya Ta, gue mau ngantri jadi calon pacarnya. Dah banyak banget yang daftar." Kata salah seorang teman perempuannya.


"Apa? Bagaimana mungkin Nafan bersikap begitu santai padahal ia sendiri mengaku sebagai seorang sopir? Bukannya ia seharusnya merasa malu dan minder? Kenapa dia malah jadi rebutan? Daftar pacar? Kenapa malah semua cewek pengen daftar jadi pacar Nafan? Mereka kan cewek-cewek tajir? Harusnya ilfil dong pacaran sama sopir? Kenapa mereka malah bangga? Ni cowok sebenernya siapa sih? Susah banget dijatuhin!" Gumam Erlita dalam hati.


Ngga bisa dibiarkan. Erlita berniat untuk mempersulit hidup Nafan, bukan malah membuatnya terkenal seperti itu.


“Oh ya, Fan, sepertinya lo ngga usah nungguin gue lagi. Masih banyak yang harus gue kerjain. Jadi lo bisa langsung pulang sekarang dengan taksi online.” Erlita memaksakan senyum palsunya.

__ADS_1


Nafan kembali mendekati Erlita lalu menyerahkan kunci mobil kepada Erlita. Ia senang akhirnya bisa bebas dari hama kecil yang selalu mengganggunya itu. "Dengan senang hati, Nona."


"Tenang aja, Ta. Biar gue yang anterin Kak Nafan kemanapun." Robin menawarkan jasa yang sama sekali tidak Erlita harapkan.


"Iya bareng gue juga ngga papa kok."


"Biar gue aja yang anter pulang."


"Gue aja yang temenin."


Teman-teman gadis Erlita justru berebutan untuk mengantar Nafan dengan mobil mereka masing-masing.


Ia langsung pergi begitu saja tanpa menunggu persetujuan Nafan.


***


Malam sudah semakin larut tapi Erlita tak kunjung datang. Nafan mulai cemas. Bukan karena ia benar-benar khawatir dengan keselamatan gadis yang baru sehari dinikahinya itu, tapi lebih karena ia sudah diberi amanah oleh nyonya rumah tempatnya tinggal saat itu.


Seperti itulah yang Nafan pikirkan. Sebagai pria yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya, sudah selayaknya ia segera membawa pulang gadis liar itu sebelum tengah malam, meskipun harus dengan cara diseret sekalipun.


Nafan beranjak dari tempat duduknya. Ia berniat mencari keberadaan Erlita meskipun ia sendiri belum yakin ke arah mana ia akan mencari. Ketika hendak mengambil motornya di parkiran basement, ia sengaja tidak lewat dalam rumah.

__ADS_1


Ia memilih untuk lewat luar sedikit memutari paviliun sayap kiri (rumah Jihan) dan menuruni tangga di sisi taman. Ia rasa dengan begitu, ia akan memiliki lebih banyak waktu untuk mempertimbangkan ke arah mana ia akan memulai pencarian Erlita.


Ketika hendak berbelok ke arah taman, Nafan melihat dua sosok orang yang tengah berbincang di halaman samping rumah Jihan. Dua orang pria dan wanita yang terlihat saling bergurau sambil melakukan beberapa kontak fisik seperti bersentuhan, berpegangan tangan dan mengusap kepala layaknya orang yang sedang bermesraan.


Nafan tahu bahwa tindakannya melihat mereka diam-diam adalah salah. Jadi ia berniat untuk segera meninggalkan tempat itu dan kembali fokus pada misi utamanya. Tepat saat Nafan hendak berbalik, kedua orang itu tiba-tiba berciuman dan berpelukan mesra satu sama lain.


Heran dengan tingkah mencurigakan mereka, Nafan kembali mengamati mereka dengan lebih jeli. Setelah puas dengan aksinya, mereka bertingkah kikuk dan segera saling menarik diri satu sama lain. Betapa kagetnya Nafan setelah mengetahui kedua sosok yang ternyata sudah dikenalnya itu.


***


Ketika menuruni tangga menuju basement tiba-tiba saja Erlita datang dengan mobilnya. Meskipun ia sedikit lega karena tidak perlu susah payah keluar rumah untuk mencari Erlita dan gadis itu pulang dalam keadaan tidak mabuk, sebenarnya ia merasa perlu untuk menjawab rasa penasarannya tentang kemana saja perginya gadis itu. Tapi ia segera menepisnya. Ia tidak perlu bertindak impulsif atas hal-hal remeh seperti itu.


“Eh, mau kemana lo? Terus ngapain lo ada disini?” tanya Erlita yang selalu sangat terbuka dengan rasa ingin tahunya.


“Salah jalan.” Jawab Nafan singkat, tak ingin memperpanjang perdebatannya dengan Erlita di tengah malam seperti itu.


Erlita tertawa, bisa-bisanya Nafan membuat alasan konyol seperti itu. Kenapa ia tidak jujur saja bahwa ia sedang mengecek mobil Erlita dan atau menunggunya datang karena khawatir. Dasar pria eskimo! Begitu batin Erlita.


“Tapi bagus lo ada disini. Jadi lo bisa bawain semua belanjaan gue.” Erlita menyerahkan kunci mobilnya lalu berlalu meninggalakan Nafan.


Nafan membuka pintu mobil Erlita dan kesal karena harus membongkar dan membawa belasan kantong belanja milik Erlita. Setelah menurunkan semua belanjaan dan hendak menutup pintu, ia melihat benda kecil terjatuh di lantai mobil Erlita, sebuah ******.

__ADS_1


__ADS_2