Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 8


__ADS_3

Rupanya keberuntungan belum menyapa Erlita malam itu. Ketika hendak memasuki kamarnya, ternyata neneknya masih belum tidur dan memergokinya pulang larut malam. Terlebih lagi beliau melihat Nafan berjalan kerepotan membawa belasan kantong belanja milik Erlita.


“Kenapa kamu belum juga berubah padahal sudah menikah?”


“Maksud Eyang apa? Apa memang perlu ada yang dirubah?”


“Mulai hari ini kamu tidak boleh pergi kemanapun sendiri kecuali bersama Nafan!”


“Tapi yang, kalau dia kerja?”


“Kamu tidak akan pergi kemanapun tanpa ijin Nafan!”


“Tapi, Yang –“


Nafan senang karena akhirnya mendapat satu kesempatan untuk memimpin. Ia bergegas masuk ke kamar dan menjatuhkan semua belanjaan Erlita di tempat tidurnya.


Sekilas ia melihat barang-barang yang tercecer, sepotong pakaian dengan harga tujuh digit, tas dengan harga delapan digit dan kacamata merk terkenal yang sudah pasti sangat mahal karena Nafan pernah melihat istri atasannya mengenakan kacamata yang sama. Nafan menelan salivanya berat.


“Eh, mo ngapain lo ngelihatin barang-barang gue?"


“Hanya memastikan kalau ini bukan barang-barang selundupan.” Jawab Nafan santai sambil berjalan menuju sofa untuk tidur.


“What?! Selundupan? Wah perlu dikasi pelajaran ni orang?!” gumam Erlita dalam hati.


***


Keesokan harinya, sesuai perintah sang nenek, Nafan mengantar Erlita ke kampus.

__ADS_1


“Mana buku sama tas gue?” Erlita menanyakan tas dan buku yang dititipkannya pada Nafan kemarin


“Di loker.”


“What?! Kok lo tinggalin di loker sih? Itu kan isinya barang-barang pribadi gue. Penting semua.”


“Kalau penting kenapa dititipin ke orang lain?”


“Ya karena gue per—“ Erlita langsung mengoreksi ucapannya. “Kan udah gue bilang, gue ada urusan lain dan ribet kalau bawa gituan.”


Orang ini ternyata sangat menyebalkan bagi Erlita. Selalu saja membuatnya emosi dan tidak nyaman. Lihat saja, Erlita akan membuatnya menunggu selama lima jam. Biar dia tahu akibat berurusan sama Erlita Susbihardayan.


***


Setelah selesai kuliah, Erlita minta untuk diantar ke sebuah kafe untuk nongkrong dengan teman-temannya. Mereka berhenti di sebuah kafe mewah di tengah kota.


Dan tidak seperti kafe-kafe pada umumnya yang memiliki ruangan terbuka dan ramai, kafe ini justru menyediakan ruang-ruang privat yang di dalamnya terdapat masing-masing satu meja bar dan bartender yang khusus melayani mereka saja. Jadi lebih seperti kafe di dalam kafe.


Teman-teman Erlita sudah berkumpul ketika mereka tiba. Lima orang gadis dan tiga orang pria. Salah seorang pria yang kemudian Nafan tahu bernama Dean datang menyambut, memeluk lalu mengajak Erlita duduk di sebelahnya.


Erlita sama sekali tidak merasa canggung diperlakukan Dean seperti itu dengan keberadaan Nafan disana. Malah lebih terlihat seperti Erlita tidak menganggap bahwa Nafan ada.


Alih-alih ikut duduk bersama Erlita dan teman-temannya, Nafan memilih duduk di kursi bar dan berbincang dengan si bartender.


“Sopirnya Non Lita ya mas?”


Nafan mengangguk enteng. “Emang Non Lita sering banget kesini ya mas?

__ADS_1


“Iya sudah seperti rumah kedua. Kadang datang sendiri sambil nangis-nangis, kadang rame-rame kaya gini kadang sampai ketiduran disini sendirian seperti kemarin.”


“Emang kemarin Non Lita pulang dari sini jam berapa?”


“Hampir tengah malam. Padahal dia kesini dari sore, sekitar jam tujuhan gitu.”


Nafan lega mengetahui kemarin Erlita hanya ketiduran disana dan sendirian. Lalu ****** itu milik siapa? Kenapa ada disana? Nafan kembali mengamati Erlita yang sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya sambil bermesraan dengan Dean.


“Kalau yang itu siapa ya mas?”


“Oh, itu Mas Dean, pacarnya Non Lita.”


“Mereka sering kesini berdua?”


“Pernah sih tapi ngga terlalu sering. Ngga tau lagi kalau di ruangan lain. Biasanya sih Non Lita sukanya disini. Tapi mungkin juga Non Lita pengen ganti suasana dan pilih ruangan lain, saya kurang tahu.”


Tak lama kemudian Dean datang ke meja bar dan memesan racikan beberapa jenis minuman yang Nafan tahu benanyakan mengandung alkohol. Dean lalu kembali ke kursinya dan menyerahkan minuman itu kepada Erlita. Nafan langsung bangkit dan merebut gelas di tangan Erlita lalu mengembalikannya kepada Dean.


“Eh, apa-apaan lo?” tanya Dean marah dengan sikap kurang ajar Nafan.


Nafan tidak menjawab tapi malah menyeret Erlita untuk bangkit dan keluar dari kafe.


“Tunggu disini!” Nafan meninggalkan Erlita di dalam mobil lalu kembali ke meja kasir untuk membayar pesanan Erlita.


Nafan cukup kaget karena harga minuman dan sewa tempat di kafe itu hampir setengah dari gaji pokoknya selama satu bulan. Ia terpaksa menggunakan kartu kredit yang selama ini hanya duduk manis di dalam dompetnya.


Nafan tergolong orang yang sangat berhati-hati dalam menggunakan kartu kredit. Sejak memilikinya, ia hanya sekali saja menggunakannya untuk membayar obat milik Mbah Minto, lansia sebatang kara yang kebetulan tinggal di dekat rumah dinasnya. Dan ia sedikit menyesal karena hari itu, Nafan terpaksa menggunakannya lagi untuk urusan yang sangat tidak penting.

__ADS_1


__ADS_2