Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 52


__ADS_3

Pesta pernikahan Johan dan Sisil berjalan lancar. Ketika semua tamu pulang, Johan sengaja mengumpulkan seluruh anggota keluarganya yang kebetulan hadir semua malam itu.


Seluruh anggota keluarga Susbihardayan sudah berkumpul di tempat yang sudah Johan siapkan, kecuali Bram yang malam itu masih mendekam di penjara dan tidak berniat untuk hadir memberikan restu kepada anak sulung dan menantunya itu.


“Malam ini saya hanya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena mama, tante Sania, Om Pras, Kak Kenny, Kak Rania, Jihan, Dean, Nafan dan Erlita berkenan menyempatkan diri hadir dalam acara yang sangat penting untuk saya dan Sisil ini. Dan karena ini adalah kali pertama kita semua berkumpul kembali dalam satu meja, maka saya harap pertemuan kita malam ini akan bisa kembali berlanjut di hari-hari berikutnya. Agar keutuhan keluarga Susbihardayan bisa kembali terjalin erat seperti ketika masih ada Eyang.”


Sania kemudian ikut angkat bicara, “Karena sekarang Eyang sudah tidak ada lagi bersama kita, maka Tante adalah orang yang paling tua dan akan bertanggung jawab atas kebersamaan keluarga besar kita. Untuk itu, meskipun kita semua sudah tinggal terpisah dan masing-masing, Tante harap setiap hari minggu kita bisa menyempatkan waktu untuk kembali berkumpul untuk sarapan bersama.”


Sania kemudian menangis mengingat betapa hebat pesona ibunya ketika menertibkan semua anak dan cucunya untuk mau duduk bersama setiap sarapan pagi.


“Terlepas dari semua yang telah terjadi, Tante hanya ingin Keluarga Susbihardayan tetap bisa akur dan bersatu. Demi Eyang Kakung dan Eyang Tiwi.” Sania menyeka lelehan air matanya dengan tisu.

__ADS_1


“Setuju, Tan! Johan setuju banget dengan usul tante. Sekarang kita sudah punya Nasya sebagai anggota keluarga baru Susbihardayan dan ke depan akan ada anak-anak lain yang akan hadir. Jadi kita perlu mempertemukan dan mengakrabkan mereka setidaknya seminggu sekali agar bisa rukun dan mengenal satu sama lain.”


“Lita juga setuju, Tan!”


“Tumben mama punya ide sebagus itu?” puji Kenny yang kemudian diikuti cubitan kecil Rania di perut kanan Kenny.


“Well, kalau ngga ada lagi hal penting yang ingin kalian bicarakan, mending gue langsung cabut aja. Buang-buang waktu!” Jihan bangkit, lalu menggendong Nasya.


Orang berikutnya yang ingin meninggalkan forum itu adalah Prasetyo. Tapi sebelum ia sempat bangkit dari duduknya, Sania memaksanya untuk duduk kembali.


“Undangan ini tidak berlaku untukmu, Pras. Sejak kita berpisah dan kamu memutuskan untuk menikahi perempuan lain, nama kamu sudah dihapuskan dari silsilah Keluarga Susbihardayan. Jadi, saya harap ke depannya, kamu tidak perlu terlalu berusaha untuk kembali menjadi bagian dari kami. Karena baik aku maupun Kenny tidak lagi membutuhkan kehadiran kamu.” Sania mengucapkannya dengan lantang tanpa menoleh sedikitpun kepada Prasetyo yang duduk dua kursi di kirinya.

__ADS_1


“Tante –“


“Ini urusan rumah tangga Tante, Ta. Jadi tante harap kamu ngga perlu ikut campur.”


Erlita tidak punya pilihan selain menuruti titah tantenya.


“Kalau menurut mama ngga ada yang berhak ikut campur urusan rumah tangga Mama, aku sama Rania pamit dulu. Silakan dilanjutkan urusan rumah tangganya.”


Kenny bangkit lalu menggamit tangan Rania agar mengikutinya meninggalkan forum keluarga besar itu.


“Kenny!” Sania dan Pras memanggil Kenny bersamaan tapi Kenny sama sekali tidak peduli dan terus saja berlalu.

__ADS_1


__ADS_2