Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 37


__ADS_3

Hari itu tanggal merah dan seperti biasa, Nafan sibuk membersihkan dan membenahi rumah ketika tiba-tiba seorang gadis datang ke rumahnya. Gadis yang pernah dikenal dan dekat dengannya di masa lalu.


“Eh, Sisil, kok bisa ada disini? Masuk Sil.”


nafan mempersilakan Sisil masuk lalu menyuguhinya segelas minuman. “Tahu darimana kalau saya tinggal disini?”


“Alan.” Jawab Sisil singkat.


“Dasar ember!”


“Aku sengaja ke Jogja karena dengar kakek kamu meninggal. Kata Alan sudah lama kamu ngga tinggal di Jogja.”


Nafan mengangguk. “Lalu ada perlu apa kau jauh-jauh menemuiku disini?”


Sisil terlihat kikuk, sepertinya ia belum siap ditodong langsung dengan pertanyaan seperti itu. Tapi bukan Nafan namanya kalau suka bertele-tele dan kebanyakan basa-basi.


“Eh, itu.... Anu...... Saya kebetulan sedang ada pekerjaan disini jadi sekalian mampir buat tahu kabar kamu.”


“Oh.”

__ADS_1


Hanya sebuah ‘oh’? Ternyata waktu belum bisa merubah sikap dingin dan tidak peka Nafan sejak dulu. Sisil kesal melihat reaksi Nafan yang sangat datar dan biasa. Padahal mereka pernah sangat dekat dan memiliki hubungan istimewa di masa lalu. Setelah sangat lama tidak bertemu Nafan tidak terlihat antusias untuk mengetahui lebih jauh tentang kabar dari mantan kekasihnya itu.


“Aku tidak menyangka kalau kau akan memilih untuk mengambil jalan yang sulit.”


“Aku bahagian dengan pilihanku jadi kau tidak perlu mengasihaniku seperti itu.”


“Fan, kakek kamu sudah meninggal. Apa tidak ada sedikitpun keinginan di hati kamu untuk menyerah dan memberikan apa yang paling beliau inginkan? Kamu tidak bisa melakukannya saat beliau masih hidup. Tapi sekarang beliau sudah meninggal dan kamu adalah satu-satunya harapannya. Sampai kapan kamu akan bersembunyi dan menyerahkan semua tanggung jawabmu kepada Alan?”


“Aku sama sekali tidak tertarik semua yang kakek miliki.”


“Jangan keras kepala! Semuanya berbeda sekarang. Kamu adalah suami yang harus membahagiakan dan membanggakan istri, cucu yang harus meneruskan perjuangan almarhum kakeknya dan juga tumpuan hidup jutaan orang yang ditinggalkan kakekmu. Jangan terus-terusan bersikap egois dan hanya memikirkan kebagiaanmu sendiri! Selama ini kamu sudah menikmati semua kebebasan yang kamu inginkan, jauh dari tekanan keluarga ibumu dan juga tuntutan dari kakekmu. Apa itu belum cukup?”


“Sisil, aku tahu kita memiliki hubungan yang sangat baik sejak kecil. Tapi aku rasa bukan kapasitas kamu untuk berbicara seperti itu.”


Tiba-tiba saja Nafan merasa sedikit menyesal telah meninggalkan kakeknya terlalu lama. Sisil benar, ia terlalu egois dan keras kepala. Ia hanya memikirkan dirinya sendiri.


Selama ini ia berusaha lari dan bersembunyi dari keluarga besar ibunya yang selalu saja memanfaatkannya untuk mendapatkan hak atas warisan almarhum ibunya. Ia juga berusaha menghindari kakek yang selalu menekan dan menuntutnya untuk meneruskan usaha keluarganya yang diyakini Nafan menjadi penyebab kedua orang tuanya meninggal.


Perusahaan keluarga itulah yang membuat kedua orang tuanya nekat pergi ke Jakarta dan akhirnya tidak pernah kembali pulang karena mengalami kecelakaan di jalan. Karena itu Nafan memutuskan untuk pergi dari rumah dan meninggalkan kehidupan yang selama ini mencekiknya.

__ADS_1


“Cukup, Sil. Sekarang kakek sudah meninggal. Tidak ada gunanya kita membahas ini.”


“Kamu masih belum berubah, Fan. Masih tetap Nafan yang keras kepala dan mau benar sendiri!”


Merasa kesal dan tidak ada lagi yang bisa dibicarakan, hari itu Sisil bergegas pamit dari rumah Nafan. Meskipun merasa kesal dengan sikap Nafan, tapi ia merasa lega karena bisa menyampaikan keinginan yang mungkin belum sempat disampaikan kakeknya kepada Nafan.


Selain itu ia merasa sedikit lega karena meskipun ada sebuah foto pernikahan berukuran besar tergantung di dinding ruang tamu, ia tahu bahwa Nafan tinggal sendiri di rumah itu.


Sisil yakin masih memiliki banyak waktu untuk kembali berbicara dengan Nafan dan berharap banyak bahwa keajaiban bisa kembali membawa Nafan ke kehidupan aslinya juga kepadanya.


Beberapa hari kemudian, Sisil kembali datang ke rumah Nafan. Hari itu ia membawa banyak bahan makanan dan berniat untuk memasak beberapa menu makanan kesukaan Nafan di rumah Nafan. Tak ingin menimbulkan fitnah, Nafan menolak ide Sisil dan memintanya untuk tidak datang lagi.


“Kamu kenapa sih, Fan? Aku Cuma ingin membuatkan makanan kesukaanmu. Itu saja.”


“Terima kasih Sisil. Tapi sungguh kau tidak perlu melakukannya. Aku sudah terbiasa masak sendiri dan lagi aku sudah beristri. Aku tidak mau membuat istriku salah paham jika melihat kau tiba-tiba memasak makanan untukku di dapurku.”


“Kenapa kau masih saja peduli pada wanita yang sama sekali tidak mempedulikanmu? Dia bahkan tidak bersamamu sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa ada wanita lain yang bisa jauh lebih baik darinya.”


“Tidak perlu Sisil. Aku tidak perlu wanita lain karena aku sudah sangat mencintainya. Dan memilikinya saja sudah cukup membuatku merasa memiliki segalanya.”

__ADS_1


Sepertinya Sisil sangat terluka karena perkataan Nafan itu karena ia langsung pergi dari rumah Nafan tanpa pamit.


***


__ADS_2