Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 39


__ADS_3

Mbah Minto bangun mendengar suara ribut Johan dan Farah. Ia mencoba membuka matanya dan samar melihat seseorang yang mirip dengan putrinya, “Ani?!”


Langkah Farah mengejar Johan tiba-tiba berhenti, ia menoleh kepada Mbah Minto lalu mencoba untuk mendekati pria tua itu.


Nafan membiarkan keduanya berbicara jadi ia meninggalkan kamar Mbah Minto dan mencari tahu keberadaan Johan.


Nafan melihat Johan sedang minum segelas kopi di bawah pohon di salah satu taman rumah sakit. Ia mendekati Johan yang sepertinya masih sangat emosi karena menenggak habis kopi panas yang ada di dalam cangkir kertasnya.


“Jadi dugaan gue bener? Mbah Minto yang lo rawat selama ini adalah kakek kandung gue?”


“Jadi maksud kamu –“


“Lo ngga nyangka kan? Gue juga ngga pernah nyangka kalau nasib bakal mempermainkan hidup gue seperti ini.”


Nafan berusaha menenangkan Johan yang suaranya mulai parau menahan tangis.


“Nyokap gue ternyata anak seorang petani miskin di desa dan bokap gue adalah anak haram Eyang Kakung Suryo dengan pembantu rumah tangga mereka yang bernama Ratih. Hebat bukan?”


“Tapi darimana kamu tahu –“


“Gue pernah denger waktu Eyang marah sama bokap gue dan bilang kalau dia anak haram. Bokap gue mengira kalau itu hanya ucapan seorang ibu yang sedang emosi kepada anaknya. Tapi sejak hari itu hidup gue ngga tenang karena penasaran dan pengen ngebuktiin bahwa omongan Eyang Putri tu ngga bener. Bahwa gue adalah cucu sah yang memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan Erlita dan Kenny. Lalu gue terus mencari informasi sampai suatu hari seseorang mantan pembantu di rumah eyang memberi tahu gue soal Ratih yang dihamili oleh Eyang lalu dibuang entah kemana untuk menutupi aib keluarga mereka. Sebagai gantinya eyang bersedia merawat anak mereka, bokap gue, sebagai bagain dari keluarga Susbihardayan.”


“Jadi yang waktu itu ketemu sama kamu di sebuah hotel di Bandung waktu itu –“


“Lo lihat gue?”


Nafan mengangguk ragu, “Sama seorang wanita seusia Eyang.”


Johan mendengus kesal, “Itu Ratih, nenek kandung gue.”

__ADS_1


“Terus kenapa kamu reservasi dengan nama Om Bram?”


“Karena nenek-nenek itu tidak akan mau datang kalau tahu gue yang undang dia kesana.”


“Jadi –“


“Yah, gue sengaja pengen ketemu dia. Gue pengen tahu seperti apa wajah dari wanita yang sudah menghancurkan harga diri dan masa depan gue. Dan merebut kebahagiaan, Eyang, wanita yang memberikan seluruh hidupnya untuk memberikan kehidupan dan status yang layak buat gue.”


Sekarang Nafan tahu betul bagaimana perasaan Johan. Pria yang selama ini menganggap bahwa dirinya adalah cucu lelaki keluarga bangsawan Susbihardayan ternyata tidak lebih dari sekedar cucu dari anak haram suaminya dengan seorang wanita dan juga cucu dari wanita penipu yang rela meninggalkan orang tua kandungnya demi menjadi anak palsu dari keluarga kaya yang bahkan tidak pernah mau mengakui keberadaannya.


“Jadi sekarang lo tahu kan gimana malunya gue harus berhadapan denga Erlita, cucu kandung Eyang, yang selama ini banyak menderita karena ulah keluarga gue, terutama Bokap gue?”


Tak lama kemudian Johan mendengar dari Nafan yang baru kembali dari kamar Mbah Minto bahwa beliau baru saja meninggal dunia di samping anak kandungnya, Farah yang tidak lain adalah Ani.


***


Malam itu Erlita dan Kenny sedang ngobrol di ruangan kerja Erlita. Meskipun jam kerja sudah berakhir dan kantor mulai sepi, mereka masih saja asyik membicarakan dan mengeluhkan kehidupan mereka yang jauh dari kata mulus dan damai.


“Yah, gue emang ngga ngerti kenapa Nafan marah Cuma karena lo ngomong gitu doang, tapi gue lebih ngga ngerti lagi kenapa Johan ikut-ikutan pergi dan belum pulang sampai sekarang.”


Erlita bergegas bangun dari tidurnya, “Apa?! Jadi kak Jo belum balik ke rumah sampai sekarang?”


Kenny menggeleng. “Beberapa hari yang lalu, gue lihat Tante Farah baru pulang setelah sekitar dua hari pergi tanpa pamit. Ia ngga mau bilang apa-apa bahkan setelah Om Bram menampar dan menghajarnya saat sarapan bersama.”


Sudah beberapa hari ini sejak pulang dari villa di Bandung, Erlita sengaja melewatkan sarapan pagi bersama karena malas melihat keributan paman dan bibinya.


“Terus bokap lo kemana kak? Perasaan gue juga jarang liat akhir-akhir ini.”


“Bokap pulang ke rumah orang tuanya karena Nyokap gue terus aja marah dan mengancam untuk bercerai. Gue sudah lama tahu Bokap gue selingkuh, cuman gue ngga tahu kenapa baru sekarang tiba-tiba saja nyokap gue yang bucin abis sama bokap gue minta cerai.”

__ADS_1


“Mungkin karena Eyang sudah ngga ada, jadi ngga ada lagi yang Tante Sania takutin buat cerai.”


“Mungkin juga.” Kenny kembali meneguk minuman keras yang ada di hadapannya.


“Kak gue laper, cari makan di luar yuk!”


***


Erlita kaget mendapati Rania sedang mengendap-endap di dekat mobilnya.


“Rania! Kamu lagi apa di situ?”


Dengan takut-takut dan ragu, Rania akhirnya berani mendekati Erlita dan menyerahkan flashdisk yang dibawanya.


“Ini apa?”


“Ibu bisa cek sendiri kalau sudah tiba di rumah.”


***


Setelah makan malam dengan Kenny di restoran favoritnya, Erlita bergegas pulang untuk memeriksa isi flashdisk yang diberikan Rania kepadanya. Ada banyak sekali tabel dan data yang diberikan Rania, tapi tak satupun yang bisa dipahaminya.


Ia berniat menghubungi Rania untuk menanyakan maksud dibalik data dan tabel yang dibacanya, tapi diurungkannya niat itu karena jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


“Duh, Kak Jo kemana sih? Nafan juga! Mereka seharusnya ada disini buat bantu gue ngebaca data ini.”


Erlita akhirnya terlelap sebelum sempat mengerti maksud dan tujuan Rania sebenarnya.


Pagi itu ia berniat untuk memanggil Rania secara pribadi ke ruangannya, tapi belum sempat ia masuk ke dala ruangannya, Lolita, sekretarisnya mengabarkan bahwa hari ini dewan direksi akan mengadakan rapat untuk membahas perilaku Erlita yang dinilai menyimpang dan memperburuk citra perusahaan.

__ADS_1


Awalnya Erlita tidak mengerti perbuatannya yang mana yang dianggap menyimpang. Tapi ia kemudian melihat sebuah vidio yang menunjukkan ia sedang bersama Kenny di ruang kerjanya dengan sebuah botol minuman keras di atas meja di hadapan mereka, juga foto-foto ia dan kedua kakaknya sedang berpesta di sebuah hotel di Bandung dengan sebotol minuman keras di meja mereka.


__ADS_2