Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 15


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, pagi itu Nafan bangun dengan tubuh Erlita di sampingnya. Ia mengingat dengan baik kejadian semalam. Wajahnya bersemu merah. Tak ingin Erlita melihatnya tersipu malu, Nafan bergegas masuk ke kamar mandi.


Erlita yang bangun dengan tubuh telanjang hanya tertutup selimut merasa malu, canggung dan kikuk. Ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Nafan setelah ini. Ia segera memakai bajunya lalu berniat untuk mandi di kamar mandi luar demi menghindar dari Nafan.


“Sudah bangun, Ta?” tanya Nafan yang baru keluar dari kamar mandi.


“Sial!” rutuk Erlita dalam hati.


“Mau kemana? Ngga mandi dulu?” tanya Nafan lagi.


Ia menegakkan badannya seolah tidak terjadi apa-apa. “Iya emang mau mandi, tapi tadi lo lama banget jadi gue mau mandi di luar.”


Nafan juga berusaha untuk bersikap biasa. Ia tidak ingin suasana menjadi canggung. Ia segera memakai seragam kerjanya lalu bersiap untuk berangkat.


“Tunggu!” Erlita mengeluarkan sebuah jaket dari salah satu kantong belanjaannya lalu menyerahkannya kepada Nafan.


“Sebenarnya kemarin gue ke kantor lo buat ngasih ini.”


Nafan menyesal sempat berprasangka yang macam-macam kepada Erlita. Ia biasanya tidak mau mengenakan barang bermerk, tapi kali itu ia tidak ingin lagi mengecewakan istrinya yang telah memberinya malam terindah dalam hidupnya.


Nafan terlihat sangat tampan dengan jaket itu.

__ADS_1


“Bawa motor ato mau gue anter?”


“Motor!” jawab Nafan cepat.


Ia tidak ingin berlama-lama terjebak bersama Erlita di dalam mobil. Apalagi kalau sampai membicarakan soal kejadian malam itu. Nafan benar-benar tidak sanggup mendengarnya.


Tiba-tiba saja Erlita mendekat, lalu mencium punggung tangan Nafan.


***


Hari itu Jihan merasa sangat kesal. Setelah ditinggalkan Nafan semalam ia langsung pergi ke apartemen Dean dan melampiaskan kekesalan dan hasratnya kepada Dean. Mereka begitu menikmati malam itu. Ia bahkan merasa sangat puas bisa merebut Dean dari Erlita. Tapi entah kenapa pagi itu ia tidak merasa lebih baik. Ia masih tidak bisa terima bahwa Nafan lebih memilih Erlita daripada dirinya.


***


Pagi itu Nafan terlihat sangat berbeda. Selain karena jaket barunya, ia terlihat lebih segar dan bersemangat. Wajahnya juga lebih ramah dan berbinar.


“Kenapa lo? Habis menang lotre? Ceria amat kelihatannya.” Tanya salah seorang temannya.


“Ah gue tahu, lo pasti habis eeee sama istri lo kan?” tebak salah seoran teman yang lain


“Apaan sih?” Nafan berusaha menghentikan kekepoan teman-temannya.

__ADS_1


“Pasti semalem habis dapet jatah, ya kan?!” tebak salah seorang teman yang lain lagi.


"Jangan-jangan malah baru malam pertama?!


"Bro, kemana aja lo, masak sudah berbulan-bulan nikah baru ngelakuin malam pertama? Wah,,, wah,,,”


Begitulah hari itu Nafan harus bersabar menjadi bulan-bulanan semua teman sekantornya.


***


Sehari sebelum ulang tahun Nafan, Erlita sengaja menyiapkan sebuah pesta kejutan untuk Nafan. Setelah menghubungi pihak EO dan semua tenant yang ambil bagian dalam pesta itu, Erlita mengirim sebuah email undangan kepada kepala departemen tempat Nafan bekerja. Ia juga menjelaskan bahwa ini adalah sebuah pesta kejutan dan sengaja diadakan sepulang kerja agar Nafan tidak curiga.


Sejak pagi di hari ulang tahun Nafan, semua bersikap normal seperti biasa. Nafan segera menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas pulang karena sudah janji akan membantu Erlita mengerjakan skripsinya. Namun, sebelum pulang, ia mampir dulu ke toko kue langganan Erlita. Ia membeli beberapa camilan.


Sesampainya di rumah ia melihat kebun sudah dihiasi dengan sangat indah dan beberapa orang teman kerjanya juga sudah di sana. Ia tidak menyangka bahwa Erlita akan memberikan pesta kejutan seperti itu. Ia sebenarnya tidak suka dengan gemerlap pesta dan berkerumun dengan orang banyak tapi untuk malam itu saja, ia tidak ingin mengecewakan Erlita.


Semua tamu sudah datang ketika Nafan keluar setelah mandi dan berganti baju. Malam itu ia mengenakan kemeja yang sudah disiapkan Erlita. Nafan terlihat sangat gagah dan tampan dengan kemeja yang lengannya digulung setengah itu. Pesta segera dimulai dan berlangsung dengan meriah. Bahkan sang nenekpun ikut hadir menyapa para tamu.


Nafan tak pernah jauh-jauh dari istrinya. Erlita bahkan tanpa sungkan melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya ketika tengah bicara dengan para tamu. Nafanpun kemudian memeluk pundak Erlita dengan mesra. Pratiwi sangat senang melihat keduanya. Ia merasa seakan dosa lamanya sedikit tertebus. Ia berharap Nafan dan Erlita mampu bertahan sampai akhir dan tidak menyerah seperti dirinya.


Jihan yang melihat semuanya dari jendela kamarnya semakin merasa kesal dan marah. Untuk pertama kalinya ia merasa ingin menghancurkan dan menyingkirkan Erlita dari hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2