
Sejak kecil Erlita selalu mendidik Alfa untuk menjadi seorang anak laki-laki yang kuat dan bertanggung jawab karena bagaimanapun juga ia adalah calon pewaris seluruh harta kekayaan Susbihardayan dan Kusumo nantinya.
Ia tidak ingin memanjakannya dan membuatnya kelabakan ketika harus menjalani takdirnya sebagai pewaris nantinya, seperti yang dilakukan neneknya dulu terhadapnya.
Erlita selalu mewanti-wanti Nafan untuk tidak memanjakan Alfa tapi di sisi lain ia selalu saja mengkhawatirkan Alfa dan melakukan tindakan berlebihan untuk mengamankan posisi Alfa. Misalnya saja dengan menjadi salah satu donatur terbesar bagi sekolah tempat Alfa belajar.
Bagi keluarga konglomerat seperti Erlita, memberikan dukungan dana kepada sekolah tempat putranya mengajar merupakan sebuah bentuk tanggung jawab dan dedikasi. Ia dengan senang hati menjadi sponsor utama dalam setiap agenda kegiatan yang diadakan sekolah Alfa.
Tentu saja secara otomatis hal itu membuat Alfa selalu menerima prioritas dan perlakuan istimewa di sekolahnya. Disadari atau tidak, kehidupan masa sekolah Alfa terbilang sangat nyaman dan aman.
Sejak kelas satu sekolah dasar, ia selalu saja diikutkan semua bentuk kegiatan dan perlombaan di sekolah. Alasannya, tentu saja karena ibunya adalah sponsor utama. Akan sangat aneh jika putranya tidak ikut serta ambil bagian dari kegiatan-kegiatan tersebut.
Dan entah bagaimana, tanpa usaha dan bakat khusus, Alfa selalu saja berhasil menyabet gelar juara. Meskipun tidak selalu mejadi juara pertama, tapi ia tidak pernah gagal menyabet gelar juara. Entah juara dua, tiga, umum atau pun harapan.
Erlita selalu bangga dengan prestasi dan penghargaan yang diterima putranya. Ia mengumpulkan semua foto, tropi dan piagam penghargaan di dinding dan lemari khusus yang disiapkannya.
Semua itu seakan menjadi obat sekaligus candu bagi Erlita yang selalu membangga-banggakan dan menganggap bahwa putranya adalah anak yang luar biasa kompeten.
Suatu ketika, saat itu Alfa berusia delapan tahun dan duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Saat itu sekolahnya sedang mengadakan lomba melukis antar sekolah dan seperti biasanya, namanya tiba-tiba saja muncul sebagai peserta padahal ia tidak pernah sekalipun merasa pernah mendaftarkan diri.
“Ma, Alfa ngga mau ikut lomba melukis. Alfa ngga suka ngegambar apalagi melukis. Alfa ngga bisa, Ma!”
“Sayang, kamu tenang aja, ya? Pokoknya, Alfa hanya perlu belajar sama Pak Soni, guru lukis Alfa, gimana caranya melukis yang baik. Mama hanya ingin tahu sampai sejauh mana kemampuan Alfa melukis. Mau ya sayang? Siapa tahu ternyata kamu berbakat dalam hal melukis. Ya kan?”
__ADS_1
“Tapi Ma –“
“Dan satu lagi, Pak Walikota bakal datang pada acara penghargaannya karena kebetulan putra beliau juga salah satu peserta di sana. Mau ya sayang? Plis....”
“Mama suruh Alfa melukis hanya supaya mama bisa ketemu sama Pak Walikota?”
"Kesimpulan yang bagus!" Batin Erlita
“Ya ngga gitu sayang, maksud Mama, kamu bakal ngerasa lebih bangga lagi kalau dinyatakan jadi juara dan menerima penghargaan langsung dari Walikota.”
“Kalau Mama pengen ketemu Bapak Walikota, Mama tinggal bilang aja sama Papa. Alfa pernah lihat Papa minum kopi sama Pak Walikota di kafenya Om Kenny.”
"Aduh! Susah banget sih ngebujuk ni anak." gumam Erlita kesal
“Ya sudah, itu soal gampang. Nanti biar mama bicara sama Papa soal itu. tapi yang pasti kamu harus ikut lomba melukis itu.”
Bahkan Erlita tidak lagi menggunakan kalimat pertanyaan ketika menawarkan sebuah acara atau lomba kepada Alfa. Sekarang ia lebih banyak menggunakan kata, “Mama ngga mau tahu, pokoknya kamu harus ikut ....... “
Dan itu mulai membuat Alfa merasa jengah.
***
Seperti sebuah skenario yang sudah tertulis di buku panduan yang wajib dijalankan Alfa, hari itu ia harus mengikuti lomba melukis seperti yang diinginkan mamanya. Sekitar enam orang siswa, termasuk Alfa dibawa ke sebuah tempat diselenggarakannya lomba melukis tersebut.
__ADS_1
Banyak siswa dari sekolah lain yang juga berpartisipasi dan siap di tempat mereka masing-masing. Sesuai nomor undian yang diterima, Alfa duduk di deretan paling belakang di dekat seorang siswi kelas tiga dari SD Ciputra bernama Kinara.
Perlombaan dimulai dan semua siswa mulai beraksi dengan lukisannya masing-masing. Juri memberi mereka waktu dua jam untuk menyelesaikan lukisan sederhana kreasi mereka.
Satu jam sudah berjalan tapi Alfa tak kunjung menemukan ide tentang apa yang ingin dilukisnya. Ia sama sekali tidak suka dan tidak bisa melukis. Dan meskipun baru berusia delapan tahun ia tahu persis bahwa duduk disana dan mengikuti lomba itu adalah sebuah hal yang konyol untuk dilakukannya.
Kalau saja bukan karena mamanya yang terus memaksa, ia tidak akan pernah mau mengikuti lomba itu.
Demi tidak terlihat terlalu memalukan, Alfa akhirnya menggambar sekenanya. Ia melukis sebuah pemandangan yang lebih mirip lukisan abstrak yang tidak jelas arah dan tujuannya.
Kinara sempat menoleh karena Alfa terlihat menertawakan lukisannya sendiri. Tapi ia kemudian kembali sibuk dengan lukisan miliknya sendiri yang luar biasa indah dan nyaris sama dengan penampakan aslinya.
Meskipun tidak memperhatikan dengan seksama, tapi Alfa tahu bahwa Kinara sangat serius dalam melukis karena gadis itu terlihat seperti patung yang tak berpaling sedikitpun dari lukisan yang dilukisnya.
***
Waktu habis dan juri meminta semua peserta meninggalkan lukisan mereka di tempat. Alfa sempat melihat lukisan Kinara yang luar biasa bagus. Dan ia merasa sangat kagum dengan lukisan-lukisan lain yang juga tak kalah bagus.
Rupanya tempat itu memang diperuntukkan bagi siswa-siswi berbakat. Dan dia jelas tidak termasuk dalam kategori itu.
Alfa sama sekali tidak tertarik dengan pengumuman perlombaan karena ia yakin bahwa ia tidak akan masuk bahkan dalam sepuluh besar. Ia meminta ijin gurunya untuk pulang lebih dulu bersama sopir pribadinya. Tapi gurunya melarang dan memintanya untuk terus menunggu sampai pemenang lomba diumumkan.
Satu jam kemudian, pemenang lomba dibacakan dan walikota sendiri yang langsung memberikan hadiahnya kepada para pemenang.
__ADS_1
Juri mengumumkan juara harapan tiga, dua dan satu. Lalu dilanjutkan dengan juara tiga yaitu Saka dari SD Taruna, juara dua Kinara dari SD Ciputra dan juara pertama Alfa dari SD Teladan.
"Apa? Mana mungkin?"