Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 34


__ADS_3

“Karena gue yang ulang tahun, gue mau kasih lo tantangan. Tantangannya lo harus meminta minum dari kamar nonor 3001.”


“Ta.” Nafan berusaha memberi kode kepada Erlita untuk membatalkan nomor kamarnya tapi sepertinya Erlita tidak paham dan malah kembali menegaskan angka 3001.


Johan yang tidak suka bertele-tele, langsung bangkit dan menuju lift untuk menuju kamar 3001. Nafan berusaha mengejar dan menghentikan Johan, tapi bukan Johan namanya kalau mau munyerah tanpa alasan yang jelas. Pantang baginya untuk mengalah pada tantangan yang diberikan Erlita.


“Apaan sih Fan. Kenapa lo ikutin gue? Lo takut gue curang?”


“Ngga. Bukan gitu. Plis jangan kamar itu. Gimana kalau 4001? Atau 5001? Atau 2001?”


Johan menyingkirkan tubuh Nafan yang terus saja berusaha menghalangi jalannya.


“Jo, Plis dengerin gue kali ini aja.”


Johan sama sekali tidak menggubris Nafan dan sudah berdiri tepat di depan kamar 3001 dan mulai mengetuk. Mereka menunggu di depan pintu sementara Erlita dan Kenny segera menyusul mereka karena penasaran dengan apa yang terjadi.


Pintu terbuka dan lagi-lagi Prasetyo muncul di balik pintu. Setelah mendengar cerita Kenny, Johan sama sekali tidak terkejut menemukan pamannya setengah telanjang di hotel. Dengan tenang ia menjalankan misinya dengan meminta Prasetyo mengambilkan segelas air putih untuknya.


Prasetyo yang tengah shock karena dua kali tertangkap basah kikuk dan bingung mau berbuat apa. Ia pun semakin tidak mengerti kenapa Johan mengganggunya hanya untuk segelas air putih.


“Siapa Mas?” terdengar suara wanita yang tidak asing di telinga Johan dari dalam kamar.


Johan yang sedari tadi berdiri berhadapan dengan Prasetyo memiringkan sedikit tubuhnya untuk melihat pemilik suara itu. Karena Prasetyo tak kunjung mengambilkan apa yang dimintanya, Johan berniat segera mengambil sendiri gelasnya lalu pergi meninggalkan pamannya yang menjijikkan itu.


Prasetyo berusaha menahan Johan yang hendak menerobos masuk ke kamarnya, tapi tubuh Johan lebih tinggi dan besar darinya. Prasetyopun gagal. Tepat saat Johan hendak kembali keluar setelah mengambil segelas air, wanita yang sedang tidur di ranjang Prasetyo membalik tubuhnya yang tertutup selimut.


“Mama?!”


Farah kaget melihat putranya berdiri di hadapannya.


“Johan, Kamu –“


Johan melempar gelas berisi air di tangannya ke dinding, lalu mendorong tubuh Prasetyo ke dinding dan keluar dari kamar itu dengan wajah merah padam. Johan seperti dalam mode yang siap membunuh siapapun di hadapannya.


Nafan berusaha menahan Erlita dan Kenny yang hendak mengejarnya.


“Ta, plis kamu sama Kenny tunggu di sini. Biar saya yang urus Johan.”

__ADS_1


Erlita yang masih tidak mengerti hanya bisa menuruti permintaan Nafan. Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing sementara Nafan berlari mengikuti Johan yang sedang menuju ke mobilnya. Nafan langsung masuk ke mobil Johan tanpa menunggu ijin. Mobil itu lalu meluncur dengan kecepatan tinggi.


***


Nafan membiarkan Johan memacu mobilnya dengan kecepatan rata-rata diatas seratus kilometer per jam. Meskipun agak ngeri melihat laju mobil yang bisa mencelakainya kapan saja itu, Nafan berusaha menahan diri. Ia membiarkan Johan melampiaskan kekesalannya malam itu.


Setelah keluar dari tol, tiba-tiba saja Johan menghentikan mobilnya di sebuah lahan kosong di pinggir jalan.


“Lo bisa turun disini, Fan. Gue ngga mau Lita ngerengek karena jadi janda di hari ulang tahunnya.”


“Saya akan turun kalo kamu juga turun.”


“Jadi lo sudah tahu kalo nyokap gue ada disana?”


Nafan memilih untuk tak menjawab pertanyaan Johan.


“Gue benci banget sama nyokap gue karena sering banget gue lihat Bokap gue ngehajar nyokap gue. Tapi hari ini gue jauh lebih benci sama nyokap gue karena selingkuh sama cowok sampah kaya Prasetyo.”


Nafan tetap pada misinya untuk hanya menjadi pendengar yang baik tanpa komentar sedikitpun yang malah bisa jadi minyak yang membakar bara api.


“Gue selalu mengurung diri karena malas berhadapan sama bokap gue. Tapi kali ini gue ngga tahu mau sembunyi dimana lagi untuk menghindari semua sampah di hidup gue.”


Setelah melihat Johan puas melampiaskan amarahnya, Nafan segera mengajaknya kembali ke dalam mobil. Kali ini Nafan yang memegang kemudi. Mereka kembali ke hotel.


“Saya akan antar kamu pulang –“


“Gue ngga mau pulang!”


“Oke, saya akan antar kamu kemanapun kamu mau, tapi sekarang, kita harus balik ke hotel dulu buat jemput Lita.”


***


Mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah mewah di sebuah kawasan elit. Selain besar, rumah itu memiliki struktur bangunan yang sangat kokoh. Desain arsitekturnya pun sangat detail dan dibuat dengan bahan-bahan pilihan yang sangat mewah, sangat berkelas.


Tak lama kemudian seorang pelayan keluar untuk menyambut mereka dengan sangat sopan dan formal.


“Selamat datang Tu-“ pelayan itu segera mengoreksi ucapannya setelah melihat kode dari Nafan, “Mas Nafan.”

__ADS_1


“Bi, malam ini kami ijin menginap disini yah?” Nafan mendekati pelayan itu seperti sedang membisikkan sesuatu.


Pelayan itu kemudian undur diri, “Panggil saya, jika Mas Nafan, Mas Johan dan Mbak Lita butuh sesuatu.”


Erlita merasa agak aneh melihat Nafan sepertinya sangat familiar dengan rumah itu, bahkan juga dengan pembantu yang ada di sana.


“Ini rumah milik kenalan saya. Malam ini kita bisa menginap disini.”


“Apa lo sering nginep disini?”


“Sebelum saya pindah ke rumah kamu, saya kos disini. Pemiliknya sering pergi-pergi jadi rumah ini kosong.” Nafan terpaksa berbohong.


“Gue butuh alkohol.” Johan tiba-tiba memotong obrolan mereka


Nafan menepuk perlahan punggung Johan. Lalu membawanya masuk. Plavon bangunan rumah itu dibuat sangat tinggi sehingga terasa sangat lega dan sejuk. Erlita sangat menyukai konstruksi dan desain interior rumah itu. Ia merasa sangat nyaman dan betah disana.


Rumah itu dikelilingi banyak pepohonan besar di luarnya, sehingga udaranya terasa sangat segar. Ada banyak kamar berukuran besar di dalamnya, tapi malam itu mereka memutuskan untuk tidur bertiga di karpet super tebal di depan televisi yang terletak di ruang tengah.


Malam itu, Nafan membiarkan Johan mabuk dan meluapkan semua keluh kesah dan emosi yang selama ini dipendamnya seorang diri. Melihat wajah bingung Erlita, Nafan akhirnya menjelaskan apa yang terjadi.


Erlita menutup mulut menganganya dengan kedua telapak tangan, “Jadi Om Pras dan Tante Farah –“


Nafan mengangguk.


“Pantas tadi tante Sania menangis di kamarnya pas aku pamit. Apa jangan-jangan tante Sania juga sudah lihat mereka?”


Nafan kembali mengangguk.


“Wah... ini namanya bahaya. Keluarga gue bakal hancur. Bakal ada perang dunia keempat!” Erlita bergidik ngeri membayangkan keempat paman dan bibinya saling menyerang.


“Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Sebaiknya kita tidak ikut campur.”


“Jadi sejak kapan lo tahu bahwa mereka – ? dan kenapa tadi lo diam aja kalo sudah tahu? Seharusnya gue bisa cegah kak Jo biar ngga sampe tahu.”


“Tadi juga saya sudah kasih kamu kode supaya ngga nunjuk kamar 3001, tapi –“


“Oh, jadi tadi maksud lo –“ Erlita menepok jidatnya sendiri menyesali kebodohannya.

__ADS_1


***


__ADS_2