
Malam itu Erlita berdandan sangat sederhana karena tidak ingin menarik perhatian media. Bagaimanapun juga saat ini ia adalah seorang CEO di sebuah perusahaan ternama, jadi ia harus bisa menjaga citra dan martabatnya.
Erlita berangkat bersama Johan dengan satu mobil sedangkan Kenny pergi sendiri dengan mobil pribadinya. Erlita dan Johan tiba di Bandung hampir tengah malam, sementara Kenny sedikit terlambat karena kerepotan mencari pom bensin.
Erlita memesan minuman dan makanan ringan untuknya dan Johan. Beberapa menit sebelum jam dua belas malam, Johan justru pamit ke toilet. Erlita terus menatap jam tangannya yang semakin mendekati angka dua belas, namun Johan dan Kenny belum juga datang.
Tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu.
“Selamat ulang tahun sayang.”
Sebuah kado tersulur di hadapannya. Dan sebuah suara yang sangat familiar ditelinganya. Erlita segera menoleh, “Nafan?!”
Nafan memeluk Erlita erat sambil tak henti-hentinya mengucapkan banyak doa untuk kebaikan Erlita diusianya yang semakin bertambah.
“Kok lo tahu gue ada disini?”
“Taulah, kan soulmate.”
“Apaan sih? Lebay!!” Erlita menutup wajahnya yang bersemu kemerahan mendengar gombalan garing Nafan.
Ingin rasanya ia langsung menanyakan soal Sisil tapi ia tidak ingin merusak suasana malam itu, jadi diurungkannya niat itu.
Tak lama kemudian Nafan kembali memeluknya seakan belum puas melepas rindunya pada pujaan hatinya itu. Dibalik punggung Nafan, Erlita melihat seorang pria dan wanita misterius sedang berjalan bersama menuju kamar hotel. Ia seperti tidak asing dengan wajah itu.
“Fan, itu tante Farah dan om Pras.”
Nafan langsung menoleh, tapi ia sama sekali tidak kaget karena sudah sering memergoki keduanya bermesraan di teras samping rumah Farah.
“Fan. Lo tolong ikutin mereka. Pastiin bahwa apa yang gue lihat dan pikirin ngga bener. Gue bakal nahan kak Johan dan –“
Erlita melihat Kenny baru saja masuk bersama ibunya, Tante Sania. “Sial!”
“Fan, plis bantu gue jangan sampe mereka ketemu!”
Erlita segera menyambut bibinya Farah dan kakak sepupunya, Kenny.
“Lama banget nyampenya kak? Jam dua belasnya sampe lewat tuh..”
__ADS_1
“Iya sori, Ta. Mami nih banyak banget acaranya jadi mesti bolak-balik berhenti.”
“Ya sudah ngga papa, yuk Tan, Lita sudah pesen meja disana.”
Tak lama kemudian Johan ikut bergabung bersama mereka. “Loh, Nafan belum datang Ta?”
“Nafan?” sahut Kenny dan Sania bersamaan.
“Iya gue sengaja undang dia biar lo ngga galau terus. Males gue kalau kamar gue berantakan terus gara-gara tisu ma ingus lo.”
“Awas lo kak!”
“Oh, jadi lo yang undang dia? Pantes aja dia tahu kalau kita bakalan party disini.”
“Terus sekarang Nafannya kemana?”
“Nafan? Ah, itu... Anu.. ke... ke kamar tan. Lagi ke kamar bentar buat naruh barang.”
“Oh yaudah, terus kamar tante yang mana?”
“Ah, itu.. Lita kan ngga tau kalau tante mau ikut jadi...”
“Dih, males banget.” Johan tidak terbiasa tidur dengan orang lain.
“Ini, tan.” Erlita menyerahkan kunci kamar Kenny kepada Sania.
“Ya sudah tante langsung ke kamar dulu ya. Capek banget.”
“Loh tante jauh-jauh ke Bandung ngga pengen ikut ngerayain ultah Lita, Tan?”
“Dih, orang Tante Cuma khawatir karena Kenny pergi sendirian.”
“Ya salam..”
****
Saat hendak mencari kamarnya, Sania sempat melihat seseorang keluar dari sebuah kamar. Meskipun hanya melihat bagian punggungnya saja, Sania yakin kenal betul dengan sosok tersebut. Alih-alih naik ke kamarnya, Sania bersembunyi di depan lift sambil menunggu pria itu kembali masuk ke kamarnya. Dan benar saja, pria itu adalah Prasetyo, suaminya.
__ADS_1
Sania penasaran, untuk apa Prasetyo menginap disana. Bukannya tadi dia bilang mau pulang ke rumah orang tuanya karena ada acara keluarga? Apa mungkin acara keluarganya diadakan di hotel itu? Tapi kenapa ia dan Kenny tidak diajak?
Daripada penasaran, Sania langsung saja mengetuk pintu kamar suaminya. Tak lama kemudian Prasetyo membuka pintu dengan setengah telanjang sedangkan di dalam terdengar suara seorang wanita yang juga tak asing di telinganya.
“Siapa sayang?”
“Sayang?” Sania mengulang pertanyaan wanita yang tengah tidur di bawah selimut di ranjang Prasetyo.
Prasetyo panik karena tertangkap basah oleh istrinya. Sania langsung mendorong Prasetyo yang berusaha menutup pintu lalu membuka selimut yang ternyata ada Farah hanya mengenakan segitiga tipis untuk menutupi *********** di balik selimut.
Sania tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia bergegas keluar dari kamar itu sambil menangis. Bagaimana mungkin suaminya tega berkhianat dengan adik iparnya sendiri. Prasetyo segera memakai bajunya lalu mengejar Sania yang sudah memasuki lift.
Ketika pintu lift terbuka, Sania bertrmu dengan Nafan.
“Loh, Tante Sania kok ada disini?”
Sania tidak menghiraukan Nafan ia terus mencari kamarnya sambil menangis. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan Prasetyo datang untuk mengejar Sania.
“Fan, apa kamu lihat tante Sania? Dimana kamarnya?”
Nafan mengankat kedua bahunya karena tidak ingin ikut campur dalam urusan mereka.
“Terus kamu ngapain disini?”
“Ngerayain ultah Erlita Om, Kenny sama Johan juga ada disini. Om mau ikut gabung?”
“Sial!” Prasetyo menggeleng cepat. “Jangan bilang mereka kalau om ada disini.”
***
Nafan kembali ke restoran di dekat lobi hotel dengan tenang seakan tidak terjadi apa-apa. Erlita senang melihat sikap Nafan karena menurutnya, itu berarti semuanya berjalan aman. Tidak terjadi perang dunia yang sangat mengerikan.
Nafan segera bergabung dengan ketiga bersaudara yang sedang bermain truth or dare itu. Giliran botol mengarah ke Kenny. Pria tambun dan berkacamata itu memilih truth. Ia kemudian memberikan satu pengakuan bahwa ia sering melihat ayahnya, Prasetyo, berganti-ganti wanita dan ia menutupi semua itu dari ibunya dengan berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa.
Kenny kecil yang sering dianggap bodoh karena tidak naik kelas dan selalu terlambat dalam banyak hal, kerap melihat ayahnya bercinta dengan wanita berbeda di rumahnya saat sang ibu tidak ada di rumah.
Ayahnya bahkan sama sekali tidak merasa sungkan atau canggung ketika aksinya diketahui oleh Kenny karena menganggpa bahwa putanya itu hanya bocah tolol yang tidak tahu apa yang sedang ayahnya lakukan. Ayahnya hanya minta Kenny menutup mulutnya rapat-rapat dan bertingkah seolah tidak pernah melihat apa-apa atau ayahnya akan menceraikan ibunya manja yang tidak bisa apa-apa selain belanja dan foya-foya.
__ADS_1
Nafan kemudian menuangkan minuman untuk mereka semua dan tertawa seolah apa yang baru saja Kenny ceritakan adalah hal biasa yang tidak perlu dicemaskan. Nafan tidak ingin suasana jadi canggung karena cerita Kenny.
Nafan juga mencoba untuk mencairkan suasana dengan jokes-jokes super garingnya. Meskipun begitu Kenny jadi bisa kembali tersenyum dan merekapun kembali melanjutkan permainaa. Kali ini botol mengarah kepada Johan. Dan iapun memilih dare karena ia tidak ingin membuat pengakuan konyol apapun seperti yang dilakukan kakak sepupunya, Kenny.