Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 22


__ADS_3

Hari sudah mulai malam, dan Nafan benar-benar lelah hari itu. Ingin rasanya ia segera terlelah tapi tidak sama halnya dengan Erlita. Sejak sore, ia terus saja mengomel kegerahan karena tidak ada ac dan masuk angin karena kipas.


Meskipun sudah malam, ia tak kunjung mau tidur.


"Fan, sori tapi gue ngga bisa tidur sempit-sempitan disini."


Nafan langsung bangun dan berpindah ke sofa di ruang tamu.


"Fan, gue ngga bisa tidur dengan kipas angin. Masuk angin gue!"


Nafan mematikan kipas anginnya.


"Fan, gue ngga bisa tidur karena gerah!"


Nafan membuka jendela kamarnya.


"Fan, gue ngga bisa tidur dengan banyak nyamuk."


"Fan, gue ngga bisa dengan obat nyamuk, sesak nafas gue."


"Fan, gue ngga mau pake lotion anti nyamuk ntar kulit gue rusak."


Nafan hampir kehilangan semua kesabarannya. Karena semua hal yang ia lakukan untuk mengatasi keluhan Erlita, salah dan tidak bisa diterima.


"Oke. Sekarang kamu maunya apa?"


Erlita keluar dari kamar menuju teras lalu menangis di kursi. Nafan merasa bersalah tapi ia benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk membantu Erlita.


"Ta, maaf yah? Saya ngga marah kok sama kamu. Saya hanya ngga tahu harus bagaimana lagi supaya kamu bisa tidur malam ini."

__ADS_1


Erlita masih saja menangis.


"Oke, tolong bantu saya malam ini saja. Katakan bagaimana, apa yang bisa saya lakukan supaya kamu bisa tidur. Saya janji besok pagi-pagi saya akan ambil motor di rumah Faris lalu antar kamu cari hotel atau penginapan yang nyaman buat kamu."


Erlita terharu mendengar perkataan Nafan tapi ia benar-benar tidak bisa karena tidak pernah mengalaminya sebelumnya. Erlita sedikit melunak dan setuju dengan penawaran Nafan barusan. Ia akan berusaha untuk tidur malam itu saja karena sebenarnya ia juga merasa sangat lelah.


Erlita kemudian menyandarkan kepalanya ke pinggang Nafan yang berdiri di sampingnya. Nafan kemudian duduk di pegangan kursi sambil membelai kepala Erlita. Angin malam itu ternyata sangat bersahabat, tiupan sepoi-sepoinya bisa menidurkan Erlita dengan sekejap.


Nafan merasa tidak nyaman dengan posisi tidur seperti itu. Ia juga khawatir punggung Erlita akan kram saat bangun nanti. Setelah memastikan bahwa Erlita sudah tertidur pulas, Nafan membopongnya ke dalam kamar.


Ia mengusir nyamuk dengan raket nyamuk, menutup jendela, lalu menyalakan kipas angin yang sudah ditengadahkan agak ke atas agar tidak langsung mengenai tubuh Erlita.


Ketika Nafan hendak meninggalkan Erlita, tangannya justru ditahan oleh gadis itu. Erlita lalu sedikit menggeser tubuhnya agar Nafan bisa tidur di sampingnya. Nafan mengatur posisi tidurnya agar tidak membuat Erlita sesak. Erlita justru meletakkan kepalanya di lengan Nafan. Dan akhirnya Nafanpun memeluknya semalaman. Erlita benar-benar mendapatkan boneka dan selimut baru malam itu.


***


"Sudah bangun, Ta?"


"Kok lo udah rapi aja? Emang hari ini udah mulai ngantor?"


"Ngga, baru hari senin."


"Trus?"


"Saya mau ke rumah Faris buat ambil motor. Kamu tunggu dirumah sebentar ya? Saya janji ngg bakal lama."


"Terus lo kerumah Farisnya gimana?"


"Numpang Pak Heri. Kebetulan pagi ini beliau mau ke kota."

__ADS_1


***


Sudah hampir sejam Erlita menunggu, tapi Nafan belum juga pulang. Ia sudah mandi, sarapan dan berdandan, dan sekarang ia sedang gabut. Tidak tahu mau melakukan apa. Tiba-tiba saja banyak ide bermunculan di kepalanya. Ia sudah membuat daftar barang yang harus dibelinya.


Tak lama kemudian Nafan datang dengan motor maticnya. Erlita langsung bersiap lalu mengunci pintu dan naik ke motor Nafan. Nafan tidak menyangka bahwa Erlita akan setidak betah itu tinggal di rumahnya. Sampai-sampai ia langsung pergi begitu melihat Nafan datang. Padahal semalam ia meminta Nafan menemaninya tidur. Tapi hari ini dengan mudahnya ia pergi seakan tidak terjadi apa-apa.


Di tengah perjalanan, Nafan baru ingat bahwa Erlita hanya membawa tas jinjingnya. Itu artinya ia harus mengantar barang-barang Erlita yang lain, nanti.


Mereka sudah tiba di kota, dan Erlita meminta Nafan untuk mengantarnya ke studio foto. Ia mencetak foto-foto pernikahan mereka. Satu berukuran besar sementara yang lainnya kecil-kecil. Ia juga mencetak beberapa foto yang diambil saat pesta ulang tahun Nafan dan pernikahan Jihan. Ia juga membeli beberapa bingkai foto.


Setelah itu, ia minta diantar ke toko elektronik untuk membeli ac dan led tv berukuran besar.


"Ta, mau dipasang dimana?"


"Di rumah kamulah."


"Ta, daya listriknya cuma sembilan ratus watt. Ngga bakal cukup untuk AC, kulkas dan televisi."


"Udah tenang aja, biar tehnisinya yang urus. Pokoknya kita terima beres. Semua barang akan dikirim dan dipasang sampai bisa nyala."


"Tapi, Ta -"


Erlita mengangkat tangan seperti neneknya, tanda tak mau menerima pendapat apapun.


***


Siang itu mereka sibuk memasang foto, membenahi posisi kamar dan menata ulang ruang tamu dan dapur. Sementara Nafan mengambil bagian bersih-bersih, menyapu, mengepel lantai dan membersihkan kamar mandi, kaca serta debu-debu di perabot dan kursi.


Rumah jadi lebih nyaman lagi karena sekarang ada sebuah foto pernikahan berukuran besar terpasang di dinding ruang tamu, dan beberapa foto kecil betebaran di setiap sudut rumah. Nafan mengecat ulang kusen bagian depan rumahnya agar terlihat lebih baru dan segar. Ia juga memasang kasa nyamuk di setiap jendela agar Erlita tidak protes lagi soal nyamuk.

__ADS_1


Keesokan harinya, AC dan televisi mereka tiba dan langsung dipasang. Karena daya listriknya kecil, maka mereka harus mematikan setrika, sanyo dan lampu belakang bila ingin menyalakan AC. Meskipun agak merepotkan, tapi Erlita mulai merasa bisa tinggal di rumah itu.


Tadinya ia berniat membeli ranjang yang lebih besar, tapi Nafan melarang. Karena selain kamar jadi semakin sempit, keuangannya saat itu tidak memungkinkan untuk membeli lebih banyak perabot lagi. Ditambah lagi, Nafan merasa lebih nyaman tidur berdesakan dengan istrinya.


__ADS_2