Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 47


__ADS_3

Plak..


Sebuah tamparan mendarat di wajah Farah. Tak terima Sania menamparnya begitu saja, Farah menjambak dan mendorong tubuh Sania hingga terjerembab ke latai dan kepalanya membentur dinding.


“Tante!” Erlitra yang sedari tadi menyaksikan dari pintu, segera menghampiri dan membangunkan Sania yang tak sadarkan diri.


“Erlita?! Sejak kapan kamu datang?”


Erlita tak menggubris Farah, ia segera menelepon ambulance dan membawa Sania ke rumah sakit. Farah yang merasa takut dan khawatir dengan keadaan Sania mengikuti ambulance hingga ke rumah sakit.


“Ta, gimana keadaan Sania?”


“Seperti apa jawaban yang Tante Farah inginkan?”


“Kok kamu malah nanya sama Tante sih?”


“Tante dengar Lita baik-baik ya? Kalau sampai terjadi sesuatu sama Tante Sania, Lita ngga akan diam saja. Lita pastikan kali ini Tante akan mendapat ganjaran yang setimpal atas apa yang sudah Tante perbuat pada Tante Sania dan Ibu.”


Farah terkejut mendengar bahwa ternyata Erlita sudah mendengar semuanya. Ini sangat berbahaya baginya. Ia harus memastikan gadis itu tutup mulut.


“Ta, maksud kamu apa?”


“Kenapa Tan? Tante Farah takut kalau Erlita tahu bahwa Tante yang maksa Ibu pergi ke sungai hari itu?”


“Ta, jangan asal ngomong! Tante ngga maksa Ibu kamu. Dia yang maksa untuk pergi nyari Om kamu yang belum pulang hari itu.”


“Tante Naina maksa pergi karena Mama terus saja merengek dan mengatakan bahwa Papa berniat bunuh diri di pantai karena malu setelah mengtahui bahwa ia sudah menikahi wanita penipu yang mengaku-ngaku sebagai anak kandung dari keluarga bangsawan.” Johan tiba-tiba saja datang ke rumah sakit untuk menemui mamanya yang lagi-lagi menimbulkan masalah dalam keluarganya.


“Tutup mulut kamu Jo! Jangan mengatakan hal yang tidak kamu ketahui kebenarannya!” Farah marah dituduh sebagai penipu oleh anaknya sendiri.


“Papa sudah cerita semuanya, Ma. Semua yang mama lakuin pada Tante Naina hari itu.”

__ADS_1


“Tapi meskipun benar mama yang meminta Naina membantu mama untuk mencari papa kamu, mama tidak membunuh Naina. Dia sendiri yang masuk ke sungai untuk menyelamatkan anak itu. Bukan mama yang membunuhnya!”


“Tapi semua itu tidak akan pernah terjadi jika mama tidak memaksa Tante Naina pergi ke sungai."


Merasa terpojok, Farah memilih menangis dan berpura-pura menyesali perbuatannya.


“Sebaiknya mama pulang, atau kita akan membicarakan lebih banyak aib mama disini.”


Yakin bahwa ancaman putra kandungnya itu bukan hanya isapan jempol, Farah memilih untuk mundur selangkah. Ia bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.


“Kak, Lo dari mana aja? Tadi gue ke rumah lo –“


“Tadi gue keluar sama Sisil. Ada beberapa hal yang harus gue selidiki.”


“Kak, darimana lo tah soal cerita itu? Cerita nyokap gue?”


“Bokap gue. Dia merasa sangat bersalah sama nyokap lo, Ta. Karena nyokap lo pergi buat nyari dan nyelametin Bokap gue, padahal nyokap gue cuma ngarang cerita soal bokap gue yang mau bunuh diri. Meskipun gue tahu ini ngga pantes dan ngga bisa ngerubah apapun, gue tetep mau minta maaf sama lo soal perbuatan orang tua gue sama lo.”


Bagaimanapun sangat berat bagi seorang Erlita untuk kehilangan seorang Ibu diusia enam tahun padahal ia baru saja kehilangan ayahnya dua tahun sebelumnya.


“Oh ya Ta, lo tadi kerumah gue mau apa?”


Erlita kembali teringat tujuannya datang mencari Johan. Ia menyerahkan akte kelahiran Bram kepada Johan. Setelah membacanya sesaat, Johan mengembalikan akte itu kepada Erlita.


“Gue sudah tahu Ta. Gue juga sudah ketemu sama nenek kandung gue, waktu lo sama Nafan lihat gue sama nenek di hotel.”


“Jadi –“


“Mungkin lo malah belum tahu siapa orang tua nyokap gue sebenarnya.”


“Maksud lo apa, Kak?”

__ADS_1


“Nyokap gue anak petani biasa yang sangat miskin dan hidup di pelosok desa. Nyokap gue lari dari rumah pas lagi usia sepuluh tahun. Entah bagaimana ceritanya, ia dipungut oleh sebuah keluarga kaya yang punya anak tunggal yang sedang sakit-sakitan. Setelah anak kandung keluarga kaya itu meninggal, nyokap gue ngaku-ngaku sebagai anak kandung keluarga itu dan nikah sama bokap gue.”


“Apa?!” Erlita tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


“Johan benar, Ta.”


“Eh, Tante Sania sudah siuman?! Gimana keadaan Tante?”


“Tante baik-baik saja. Cuma pusing sedikit.”


“Syukurlah.” Erlita menggenggam tangan tantenya yang masih dipasang selang infus.


“Ta, semua yang Johan bilang itu benar. Tepat sehari sebelum kematian ibu kamu Bram dan Farah bertengkar hebat karena kebohongan Farah terbongkar. Bram tahu bahwa selama itu Farah menipunya. Awalnya Farah bekerja di pabrik ayah kamu, ia sangat menyukai ayah kamu. Tapi ayah kamu menikah dengan ibu kamu dan Farah tidak terima. Ia kemudian menggunakan latar belakang palsunya untuk mendekati ibu kamu dan memintanya agar mau mendekatkan Farah dengan Bram. Akhirnya ibu kamu meyakinkan Eyang dan Bram agar mau menerima Farah sebagai bagian dari keluarga. Bram akhirnya setuju menikah dengan wanita pilihan ibu kamu karena sudah sejak lama sebelum ibu kamu mengenal ayah kamu, Bram sudah sangat mencintai ibu kamu. Tapi takdir menentukan lain."


Sania memperbaiki posisi duduknya, "karena pertengkaran malam itu, Farah jatuh dari tangga dan tulang kakinya retak sehingga ia tidak bisa berjalan untuk sementara waktu. Sampai keesokan harinya, Bram belum juga pulang jadi Farah meminta tolong ibu kamu untuk membantunya mencari Bram. Kesalahan terbesarnya adalah, ia mengarang cerita bahwa Bram mengiriminya pesan bunuh diri dari sungai, padahal ia tahu persis bahwa ibu kamu tidak bisa berenang.”


“Jadi maksud tanta, Tante Farah memang berniat untuk mencelakai ibu?”


Sania mengangguk, “Yah, meskipun kita semua tahu bahwa ibu kamu pada akhirnya meninggal karena penyebab lain.”


“Sejak kejadian itu, Farah berjanji akan menjadi wanita yang buta dan tuli di rumah ini. Ia hanya akan diam demi membesarkan Johan dan Jihan, tidak akan berbuat apapun dan tidak akan kemana-mana lagi agar tidak menimbulkan masalah bagi keluarga. Tapi nyatanya, meskipun ia hanya mengurung diri di rumah, ia tetap saja bisa menimbulkan kekacauan sebesar ini.” Sania menunjuk kondisi tubuhnya yang terbaring di rumah sakit karena ulah Farah.


“Lalu, apa tante juga tahu soal peristiwa kebakaran yang menewaskan Om Danu?”


“Kata polisi, itu hanya kecelakaan biasa yang terjadi karena korsleting listrik.”


“Apa tante yakin tidak ada fakta lain yang disembunyikan?”


“Maksud kamu apa, Jo? Tante ngga ngerti.”


Johan maklum jika Tantenya yang agak lemot memang tidak tahu tentang beberapa kebenaran yang ia temukan setelah menyelidikinya sekian lama.

__ADS_1


“Memangnya kebakaran itu kenapa, Kak?”


__ADS_2