
Nafan yang baru mendengar kejadian yang menimpa Sania segera menyusul Erlita ke rumah sakit.
“Ta, gimana keadaan Tante Sania?”
“Udah siuman tadi. Sekarang lagi istirahat, mungkin karena pengaruh obat.”
“Kenny sudah tahu?”
Erlita menggeleng, “Kak Kenny baru berangkat bulan madu. Jadi biar gue aja yang jagain Tante buat ngegantiin Kak Kenny.”
“Ya ngga bisa gitu dong, Ta. Kamu kan juga sedang hamil, butuh banyak istirahat juga.”
“Kamu kok jadi over protektif gitu sih? Aku ngga papa kok. Tenang aja.”
“Jelas dong, Sayang. Kamu dan anak kita tuh penting banget buat aku, jelaslah kalau aku over protektif sama kalian.”
Erlita mengecup bibir pria yang tak henti-hentinya mengkhawatirkan kandungannya itu. “Makasih ya?”
Nafan tersenyum melihat istrinya yang sudah lebih agresif dan berani menciumnya lebih dulu.
“Oh ya, aku punya sesuatu buat kamu.” Nafan menunjukkan dokumen pendukung dari Departemen Kehutanan yang menguatkan copy dokumen asli milik perusahaan Erlita.
“Jadi ini beneran legal kan Fan? Gue ngga berbuat kejahatan kan?” Erlita menangis karena merasa sangat bahagia bisa terbebas dari bayang-bayang jeruji besi yang bisa saja mengurungnya dalam waktu yang sangat lama jika kasus itu tidak segera dipecahkan.
Erlita segera menghubungi Johan dan Sisil untuk mempersiapkan konfrensi pers guna mengklarifikasi tuduhan ilegal logging yang sempat menghampiri perusahaan mereka.
***
Konferensi pers berjalan lancar dan Erlita merasa sedikit lega karena sudah memberitahukan kebenarannya kepada masyarakat. Sekarang ia hanya perlu memikirkan bagaimana mengatasi kerugian atas banyaknya pembatalan kontrak pembelian yang diterima perusahaan gara-gara kasus itu.
“Ta, Fan, ada yang pengen gue dan Sisil sampein ke lo berdua. Beberapa waktu ini kita berdua mencoba buat nyelidikin dan nyari tahu siapa dalang di balik kasus ini.”
Johan menyodorkan beberapa rekaman percakapan, foto dan aliran dana yang menunjukkan bahwa ayahnyalah yang menyuruh orang-orangnya untuk menjatuhkan Erlita.
__ADS_1
“Kak, serius?!”
Johan menunduk lesu. Ia merasa marah, kesal dan juga malu kepada Erlita karena ayahnya tak henti-hentinya membuat Erlita susah padahal ia adalah orang hina yang ditolong dan diberi kehidupan layak oleh keluarga Erlita.
“Gue dan Johan juga sudah siapin berkasnya kalau –kalau lo berniat membawa kasus ini ke meja hijau.” Sisil menyerahkan dokumen berisi laporan dan tuntutan atas perncemaran nama baik, fitnah dan perbuatan yang merugikan Erlita.
Sekarang Erlita tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi pamannya itu. Ia tidak yakin bahwa memenjarakannya saja cukup untuk membuatnya jera. “Kasih gue waktu buat berfikir.”
Bagi Erlita sekarang yang terpenting adalah mengembalikan kepercayaan pasar kepada perusahaannya. Ia tidak boleh membiarkan perusahaannya gulung tikar karena persoalan seperti itu.
Erlita mengirimkan rekaman konferensi persnya beserta bukti-bukti yang ia miliki kepada para klien dan customernya, tapi tak seorangpun dari mereka yang berniat memulai kembali kerjasama dengan perusahaan yang tidak stabil seperti Susbihardayan Group.
Erlita kehabisan akal, dengan pengalamannya yang sangat dangkal, ia bahkan tidak mampu mengatasi krisis sebesar itu seorang diri. Jika pamannya bisa memberikan persoalan serumit itu kepadanya, tentunya pamannya juga pasti memiliki jawaban dan jalan keluar atas persoalan yang dibuatnya. Untuk itu, menemui Bram.
“Om, Lita ngga percaya Om bisa setega ini sama Lita. Lita ngga tahu kenapa Om sebenci itu sama Lita?”
“Karena kamu dan orang tua kamu selalu saja merebut apa yang seharusnya menjadi milik Om.”
“Apa kamu tahu bahwa Ayah kamu pantas menerima hukuman mati karena merebut Naina dari Om?”
Erlita terbelalak, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja pamannya katakan.
“Dia juga meninggalkan kamu, anak kecil yang ngga berguna yang pada pada akhirnya merebut semuanya dari Om.”
“Lita ngga ngerebut apapun dari Om. Dan ibu bukan barang yang bisa seenaknya kalian perebutkan. Ibu memilih ayah karena ibu mencintai ayah dan ayah lebih pantas untuk mendapatkan ibu.” Erlita benar-benar marah kali ini.
Erlita lalu melemparkan akte kelahiran kepada pamannya, “Om seharusnya tahu siapa yang lebih pantas untuk menjadi pewaris sah Susbihardayan sejak awal!”
Bram membaca akte kelahiran miliknya dengan seksama. Ia tidak tahu bahwa selama ini Pratiwi benar-benar menutup rapat rahasia itu meskipun ia punya bukti untuk mengusirnya dari rumah. Ia adalah anak haram dari Suryo Susbihardayan dengan Ratih, salah seorang pembantu di rumah mereka.
“Ini pasti rekayasa!”
“Om sudah terlalu banyak melakukan rekayasa sampai tidak bisa lagi membedakan mana yang asli dan palsu. Eyang sudah lama memendam luka demi membesarkan anak dan cucunya dengan baik. Eyang berusaha menjaga harkat dan martabat Om, menjadikan Om layaknya anak sah Susbihardayan. Tapi apa? Om malah membunuh anak kandung orang yang memberi Om kehidupan. Dan sekarang Om berniat mengambil alih semua yang sama sekali bukan hak Om dari cucu sah orang yang merawat dan membesarkan Om. Dan Om masih berharap layak untuk disebut manusia? Om adalah monster dan bencana buat Lita.”
__ADS_1
Bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, Bram justru marah dikata-katai dan dihina oleh keponakannya sendiri. Ia bangkit dan berniat untuk menampar Erlita. Tapi Johan tiba-tiba saja masuk dan menangkisnya lalu mendorongnya hingga jatuh ke lantai.
Merasa tak puas memberi ayahnya pelajaran, Johan menarik baju ayahnya dan melayangkan bogem mentah ke wajah sang ayah. Bram terhuyun dan kembali terjerembab ke lantai.
“Itu untuk Lita, Mama dan Jihan yang sering papa sakiti!” Johan menyeret Erlita keluar dari ruangan ayahnya.
***
Nafan meradang mendengar perlakuan Bram kepada istrinya. Ia berniat untuk segera memenjarakan pria berhati batu itu.
Beberapa hari kemudian, Nafan dan Erlita, melalui kuasa hukumnya secara resmi mengajukan peninjauan kembali atas kasus korupsi dan penggelapan dana perusahaan Susbihardayan Group yang terjadi beberapa bulan lalu karena ditemukan adanya bukti (novum) yang belum terungkap dalam persidangan sebelumnya.
Mereka juga mengajukan tuntutan pidana atas pencemaran nama baik, fitnah dan perbuatan tidak menyenangkan serta tuntutan perdata atas kerugian yang ditimbulkan perusahaan akibat tindak pidana tersebut kepada Bramantyo.
Setelah melalui berbagai tahapan hukum, akhirnya Bintoro dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari tahanan, sedangkan Bram justru harus menghadapi serangkaian proses hukum terkait tuntutan pidana dan perdata yang diajukan Erlita kepada pihak berwajib.
****
Meskipun belum merasa puas hanya dengan menyeret Bram ke jalur hukum, Erlita terpaksa melakukannya karena tidak ingin pamannya yang kejam itu membahayakan hidupnya dan bayi yang ada dalam kandungannya.
Kasus yang menimpa Erlita dan juga isu tindak pidana yang dilakukan Bram membuat kondisi perusahaan Erlita kian sulit. Selain menurunnya tingkat kepercayaan pasar yang berimbas pada penurunan nilai saham mereka, tingkat penjualan dan keuntungan perusahaan menurun drastis.
Mereka tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi jika tidak harus segera melakukan langkah penyelamatan. Hari itu Erlita memimpin rapat dengan para petinggi perusahan. Mereka menyepakati opsi akuisisi sebagai salah satu solusi yang bisa mereka lakukan saat itu. Berat bagi Erlita untuk menyerahkan kendali perusahaannya kepada orang lain.
Bagaimanapun juga, kakek dan neneknya sudah bekerja sangat keras untuk membangun dan membesarkan perusahaan itu. Ia mengalami stres berat tapi juga tidak punya pilihan selain menerima hasil keputusan rapat pimpinan hari itu.
Nafan merasa sangat sedih melihat istrinya selalu murung dan kehilangan semangat dari hari ke hari. Tak jarang Erlita meminta sarannya berharap bisa menemukan opsi lain selain pengambilalihan perusahaan. Ia paham betul betapa istrinya tidak rela kehilangan hak atas perusahannya setelah apa yang dilaluinya karena Bram.
Karena tekanan dan stres yang dialaminya, Erlita akhirnya mengalami keguguran dan menjadi semakin depresi karena harus kehilangan anak yang sudah dinanti-nantinya selama ini.
Nafan tidak bisa berdiam diri lagi. Ia mulai meyakinkan dirinya bahwa sudah tiba saatnya ia turun tangan. Ia tidak bisa membiarkan satu nyawa lagi melayang karena kesalahannya.
***
__ADS_1