
Sisil mulai mengikuti skenario penyelidikan yang dilakukan Erlita dan sepupu-sepupunya. Semakin mendalami kasus korupsi dan penggelapan dana, semakin banyak fakta yang mereka temukan.
Siang itu, Erlita sedang membuka brankas milik neneknya dengan kunci yang beberapa hari lalu ditemukannya di dalam kado pernikahan yang diberikan neneknya dan baru sempat di bukanya.
Tidak seperti kebanyakan orang yang menggunakan brankas untuk menyimpan uang dan harta berharga lainnya, Pratiwi hanya menyimpan beberapa lembar kertas berisi artikel, foto-foto lawas dan beberapa dokumen terkait kasus kebakaran yang menewaskan ayah Erlita.
Erlita membaca berkas-berkas itu dengan seksama dan betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa peristiwa kematian ayahnya bukan murni karena kecelakaan seperti yang diyakininya selama ini. Dengan tubuh gontai, ia bergegas menemui Bintoro di penjara.
***
“Non Lita, ada perlu apa menemui saya disini?”
“Pak Bin, tolong jelasin soal ini sama Lita!” Erlita menunjukkan berkas-berkas yang ditemukannya di brankas neneknya. “jadi yang Eyang bilang bahwa Om Bram terlibat dalam kematian Papa itu benar?”
“Sabar Non! Non Lita harus tenang.” Bintoro mengamati sekitar memastikan bahwa mereka tidak sedang diawasi.
“Nyonya Besar sudah lama tahu bahwa kematian Tuan Danu bukan murni kecelakaan. Ada orang yang sengaja memicu kebakaran hari itu. Nyonya besar sudah melakukan penyelidikan dan menemukan saksi kunci yang bisa membantu beliau mengungkapkan kasus itu. Tapi sehari sebelum Nyonya besar membuat laporan ke pihak berwajib, saksi itu dibunuh dengan sangat mengenaskan dalam sebuah kecelakaan mobil. Nyonya tahu siapa pelakunya, tapi beliau tidak punya bukti dan saksi. Bahkan beliau menerima sebuah surat ancaman yang mengatakan bahwa Non Lita juga tidak akan selamat jika Nyonya terus menyelidiki kasus itu. Karena tidak ingin membahayakan keselamatan Non Lita, Nyonya besar memilih untuk menyerah dan menutup kasus itu.”
Erlita menangis histeris. Ia tidak menyangka bahwa neneknya akan merelakan begitu saja kematian anak tertuanya demi melindungi Erlita.
“Tapi saya yakin, Nyonya punya tujuan lain dengan mendesak Non Lita agar mengambil alih perusahaan.”
“Maksud Pak Bin apa?”
“Maaf jika saya lancang, Non. Tapi apa Non Lita tahu bahwa Tuan Bram bukan anak kandung Nyonya Besar?”
Erlita mengangguk lesu.
__ADS_1
“Sejak dulu, Nyonya selalu khawatir jika Tuan Bram menguasai perusahaan dan menyingkirkan Non Lita. Karena itu, kami sudah menyusun rencana untuk mengeluarkan Tuan Bram dari perusahaan karena kesalahannya sendiri. Nyonya sudah lama tahu bahwa Tuan Bram sering melakukan penggelapan dana perusahaan dalam jumlah besar. Tapi beliau memilih waktu yang tepat, yaitu sampai Non Lita menikah dan menyelesaikan kuliah, untuk mengungkapnya.”
“Tapi kenapa Pak?”
“Karena Nyonya anggap setelah lulus kuliah, Non Lita sudah mempunyai modal ilmu dan mampu untuk menjalankan perusahaan. Selain itu ada orang yang senantiasa menjaga dan melindungi Non Lita jika Tuan Bram tidak terima dengan keberadaan Non Lita di perusahaan dan berniat mencelakai Non Lita.”
“Jadi?”
“Saat Non Lita pindah ke Banyuwangi, Nyonya berniat untuk mengungkap semua tindak kejahatan Tuan Bram terhadap perusahaan. Tapi sepertinya ada banyak mata-mata di perusahaan. Jadi, kami ditikung sebelum sempat memperkarakan kasus itu. Tuan Bram merekayasa bukti yang kami miliki dan menjadikan saya sebagai kambilng hitam menggantikan Tuan Bram. Nyonya shock berat mendengar berita itu sampai beliau terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena serangan jantung.”
“Jadi itu alasan kenapa Eyang tidak mau kembali ke rumah?”
Bintoro mengangguk, “Mungkin Nyonya marah dan tidak ingin lagi bertemu Tuan Bram.”
***
“Maaf, Tuan. Saya baru menerima laporan dari pihak kepolisian. Non Lita sedang mengunjungi Bintoro dan sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius tentang Tuan.” Pria itu menyerahkan rekaman suara yang langsung didengarkan Bram dengan seksama.
“Jadi bocah licik itu sudah tahu semuanya?”
“Maaf Tuan. Sepertinya begitu. Orang kita juga melaporkan bahwa Tuan Muda Johan juga banyak membantu Nona menyelidiki kasus penggelapan dana itu.”
“Mereka tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera memberi mereka pelajaran.”
***
Beberapa bulan ini Erlita tengah sibuk mempersiapkan peluncuran produk baru andalannya untuk menggebrak pasar furnitur dalam negeri dan menigkatkan penjualan ekspornya ke luar negeri.
__ADS_1
Erlita memilih sebuah kursi single yang terbuat dari kayu berkualitas, sangat nyaman terutama untuk anak dan lansia, dibuat dengan kesan yang mewah dan elegan namun bahannya dibuat dengan seringan mungkin agar mudah dipindahkan dan tidak makan tempat.
Kenny sudah berhasil membuat desain produk seperti yang Erlita inginkan, mereka kemudian memulai proses produksi besar-besaran dan memulai promo besar-besaran juga.
Bramantyo yang merasa sangat terusik dengan penyelidikan diam-diam Erlita, berniat memanfaatkan momen besar itu untuk memberikan sebuah pukulan telak kepada Erlita. Ia pun mulai merancang sebuah skenario untuk menjatuhkan Erlita kembali dengan bantuan orang-orang kepercayaannya di dalam perusahaan.
Pagi itu Erlita sangat bersemangat karena promo produk barunya berjalan lancar dan mendapat respon positif dari pasar dalam dan luar negeri. Ia berniat untuk fokus dan semakin menggencarkan promo produk barunya itu untuk meningkatkan angka penjualan. Dengan begitu ia berharap dewan komisaris kembali mempercayai kemampuannya dan mengembalikan posisi CEO kepadanya.
“Selamat Pagi, Bu.” Rania yang sudah diangkat jadi sekeretaris pribadinya datang tergopoh-gopoh ke ruangan Erlita. “Apa Ibu sudah melihat ini?”
Erlita membaca artikel yang ditunjukkan Rania kepadanya. Pagi itu rupanya sedang ramai diberitakan bahwa perusahaan Erlita terlibat kasus ilegal logging terkait produksi besar-besaran produk kursi single barunya.
“Bagaimana bisa muncul berita seperti ini? Cepat hubungi Sisil!”
***
“Ta, gue udah selidiki semuanya. Dokumen pembelian dan pengiriman kayu semua palsu.”
“Tidak mungkin, Bu. Kami, Tim legal perusahaan sudah memastikan bahwa semua bahan kayu yang kami beli adalah asli dan resmi. Tidak mungkin kami menerima dokumen palsu untuk pembelian kayu dalam jumlah sebanyak itu.”
“Lalu bagaimana mungkin media tahu bahwa kita membeli kayu ilegal? Sementara saya tidak tahu apa-apa?”
“Ta, gue yakin pasti ada yang ngga beres. Kasi gue waktu buat selidiki semuanya.” Johan ikut hadir dalam rapat perusahaan hari itu atas undangan Erlita.
“Tolong segera atasi masalah ini at –“ Erlita tiba-tiba pingsan.
“Ta!”
__ADS_1
***