
Bram menghentakkan kasar sendoknya ke meja.
“Om, Tante! Nasya sepertinya bingung dengan apa yang sedang kita bicarakan. Tidak bisakah kita menikmati sarapan sembari membicarakan hal lain yang lebih menyenangkan?”
“Kenapa, Ta? Kamu takut Om tiba-tiba saja pergi dan mengacaukan acara kamu?”
“Bukan, Om. Bukan begitu –“
“Erlita hanya khawatir kalau meja makan yang baru dibelinya berubah jadi ring tinju.” Tukas Nafan tiba-tiba.
“Nafan!” Erlita memelototi Nafan yang bukannya membantunya meredam suasana tapi malah menyiram bensin ke kobaran api.
“Senang bisa bertemu langsung dengan pewaris tungga Kusumo Group. Selama ini aku selalu gagal setiap kali berhadapan dengan kakekmu. Tapi kurasa tak akan sulit lagi jika harus berhadapan dengan penggantinya.”
“Syukurlah kalau begitu, Om. Kita jadi bisa saling memudahkan dan mendukung satu-sama lain.”
“Oh ya, Ta. Apa kau tahu bahwa ayahmu sangat membenci ayah Nafan karena berusaha menggoda ibumu?”
Semua mata langsung tertuju kepada Bram.
“Aku tidak pernah menyangka jika takdir akhirnya mempertemukan kalian seperti ini. Anda sejak awal aku tahu bahwa kau adalah anak Bagaskara Cokro Kusumo, maka aku akan mencegah keponakanku untuk tidak mengecewakan kedua orang tuanya.”
“Maksud Om apa?” tanya Erlita dengan suara parau.
Bram dengan santai melahap makanan di hadapannya, “Kau sudah cukup dewasa, jadi Om rasa sudah waktunya kau tahu bahwa masa lalu keluarga kita dan keluarga Kusumo cukup rumit.”
Bram mengunyah makanannya, “Bagaimana Om ngejelasinnya ya Ta? Jadi gini, papanya Nafan adalah mantan pacar ibu kamu. Mereka tiba-tiba saja datang dari Jogja ke Jakarta dan entah bagaimana, hari itu Ayah kamu melihat Ibu kamu selingkung dengan Ayahnya Nafan. Karena marah, mereka sempat berkelahi. Dan entah bagaimana juga, tiba-tiba saja kami mendengar kabar bahwa kedua orang tua Nafan tewas dalam sebuah kecelakaan ketika dalam perjalanan pulang ke Jogja. Apa kalian tidak curiga bahwa mereka kemungkinan bertengkar hebat di jalan lalu kecelakaan nahas itu terjadi?”
Bram kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, menguyah perlahan dan santai, lalu kembali melanjutkan ceritanya.
“Lucunya lagi, beberapa tahun kemudian, ibu kamu dikabarkan meninggal karena terhanyut arus sungai setelah menyelamatkan Nafan, anak dari mantan kekasihnya. Apa kamu tidak sedikitpun berfikir bahwa ibu kamu masih saja mengkhianati perasaan ayah kamu bahkan setelah ayah kamu meninggal?”
__ADS_1
“Meninggal karena Om, maksudnya?” tanya Erlita balik
“Apa?!” kali ini semua mata berpaling dan tertuju kepada Erlita.
“Sampai kapan Om akan berusaha menutupi fakta bahwa Om lah yang menyebabkan ayah meninggal dalam kebakaran itu?”
Bram tiba-tiba saja tersedak. Ia tidak menyangka jika Erlita akan begitu saja mengungkit kejadian lama itu di hadapan semua anggota keluarganya.
“Itu kecelakaan, Ta. Jangan ikut-ikutan konyol seperti Eyang.” Bela Bram.
“Oh ya? Apa Om yakin?”
Erlita meraih ponselnya lalu mengirimkan semua gambar bukti kejahatan Bram yang selama ini disimpan neneknya rapat-rapat.
****
Erlita menghempaskan tasnya ke ranjang.
“Kita tidak punya sumber informasi lain yang mendukung jadi peluang kebenarannya hanya lima puluh persen.”
“Selama ini gue pikir uang bisa menyelesaikan segalanya. Ternyata gue salah besar. Eyang kakung memulai usahanya dengan merampas bisnis dan Eyang Tiwi dari Eyang kamu. Lalu takdir mempertemukan kedua orang tua kita dan kita. Apa ini masuk akal?”
“Sayang, bagaimanapun juga. Itu adalah kisah masa lalu. Latar belakang kelam sejarah keluarga kita selama tiga generasi. Aku berharap ke depan kita bisa membuat sejarah yang lebih baik untuk anak dan cucu kita nantinya.”
“Fan, gue ngga tahu lagi gimana harus ngadepin keluarga gue.”
“Ta, ayo mulai semuanya dari awal! Jangan biarkan noda masa lalu merusak sejarah yang akan kita tulis ke depannya. Semua sudah terjadi, menghukum Om Bram tidak akan membuat ayah kamu kembali. Kita hanya perlu mengawasinya agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Dengan begitu kamu bisa lebih tenang menghadapi keluarga besar kamu.”
“Gue pengen memperbaiki semuanya”
“Terlambat sayang.. Saat ini kita hanya perlu memastikan bahwa semua kesalahan di masa lalu tidak akan pernah terulang kembali.”
__ADS_1
Erlita mengangguk. Nafan benar. Ia tidak layak hidup menanggung beban kesalahan pendahulunya di masa lalu seperti yang selama ini neneknya lakukan. Ia ingin menata hidupnya untuk menulis sejarah yang lebih indah dan layak dibanggakan di masa depan bersama pria yang sangat dicintainya itu.
***
Waktu berlalu, acara sarapan bersama tiap minggu mulai menjadi tradisi dan kebiasaan yang bisa diterima semua pihak. Meskipun tidak selalu berakhir dengan baik, tapi kebiasaan itu cukup berhasil untuk membuat hubungan baik keluarga besar Susbihardayan kembali membaik.
Pagi itu, Kenny mengabarkan berita dukanya karena kembali harus kehilangan calon anak keduanya akibat keguguran yang dialami Rania. Meskipun Sania tidak pernah akrab dengan menantunya itu, terlihat jelas di wajahnya bahwa ia juga merasa kehilangan dan sedih atas apa yang mereka alami.
Setelah selesai sarapan, Erlita sengaja mengajak Rania ngobrol di taman belakang rumahnya.
“Kak, sebenarnya apa yang terjadi? Sampai lo harus kembali kehilangan janin di kandungan lo?”
“Gue mengalami lemah jantung sejak kecil,Ta. Kenny sudah tahu soal itu jauh sebelum kami menikah. Karena detak jantung gue ngga normal, kandungan gue jadi ikutan lemah dan terganggu.”
Erlita memeluk Rania yang mulai berlinangan air mata.
“Kenny sangat ingin punya anak. Tapi gue sudah dua kali gagal jadi istri yang baik buat dia.”
“Lo ngga boleh ngomong gitu, Kak. Gimanapun juga bukan salah lo kalau keadaannya kaya gini. Ini namanya takdir. Gue tahu persis gimana rasanya kehilangan calon anak kita. Tapi sama kaya gue, lo juga ngga boleh nyerah. Akan ada saatnya Tuhan percayakan malaikat-malaikat kecil itu ke kita. Yah?”
Rania mengangguk. “Makasih lo mau nyemangatin gue ya, Ta?”
***
Beberapa minggu kemudian, Johan mengumumkan kehamilan Sisil pada momen sarapan bersama. Meskipun sempat berselisih dan sama-sama tidak menyukai Sisil, Bram dan Farah tampak ikut senang mendengar putra mereka akan menjadi ayah.
Jihan juga terlihat senang dengan kabar bahwa putrinya yang sudah berusia tiga tahun akan segera memiliki adik sepupu.
Erlita senang karena bisa menciptakan momen dimana semua anggota keluarganya bisa saling berbagi kabar, kesedihan dan kebahagiaan serta saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Ia yakin, neneknya akan sangat bangga melihatnya saat itu.
Setelah apa yang mereka alami, Erlita akhirnya mampu menyatukan kembali keluarga yang sempat tercerai berai. Meskipun momen itu hanya datang seminggu sekali.
__ADS_1
***