
Alfa tidak percaya bahwa namanya dipanggil sebagai juara pertama. Ia yakin juri salah menyebutkan nama jadi ia tidak mau maju karena takut dipermalukan.
Juri kembali memanggil nama Alfa untuk maju ke depan dan menerima penghargaan sebagai juara satu. Dan gurunya dengan bersemangat menjemput Alfa dan memaksanya maju ke podium.
Alfa tahu bahwa ada yang harus diluruskannya. Ia penasaran kenapa gambar anehnya justru jadi juara. Ia kemudian memutuskan untuk maju dan memeriksa sendiri alasannya.
Lukisan masing-masing juara sudah dipajang di belakang pelukisnya. Dan betapa kagetnya Alfa melihat bahwa lukisannya sudah berubah menjadi lukisan lain yang sangat indah.
Alfa tercekat. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia merasa harus mengaku bahwa lukisan yang ada di depan semua orang itu bukanlah lukisan miliknya.
Tapi kemudian mamanya datang dan mengantarnya naik ke atas podium dengan senyuman penuh kebahagiaan dan kebanggan.
Alfa tidak punya pilihan lain selain menerima hadiah dan penghargaan yang diberikan kepadanya karena mamanya sudah siap memotretnya di depan podium. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada mamanya jika ia tiba-tiba saja membuat kekacauan.
Semua pemenang saling bersalaman dan memberi selamat. Tapi Alfa sama sekali tidak berani menatap Kinara. Ia yakin gadis itu tahu bahwa lukisan itu bukan miliknya. Ia takut Kinara akan buka suara dan mempermalukannya dan mamanya di acara itu.
Tapi sungguh di luar dugaan, gadis itu justru menghampiri Alfa dan memberinya ucapan selamat layaknya tidak terjadi apa-apa. Gadis itu kemudian pulang sembari menggandeng tangan Pak Walikota.
“Sayang, jadi kamu sudah kenal sama anaknya Pak Walikota?” goda Erlita kepada Alfa.
“Padahal, tadinya mama mau memperkenalkan kalian berdua. Eh, ngga tahunya sudah saling kenal.”
“Ma, Alfa mau ngomong sama Mama.”
“Yasudah, kita ngobrol di mobil aja yah? Sekalian pulang.”
“Jadi bisa mama jelasin kenapa lukisan Alfa bisa berubah? Itu jelas-jelas bukan lukisan Alfa, Ma!”
“Sayang, udah tenang aja. Kan Mama sudah pernah bilang, kamu Cuma perlu belajar dan ikut lomba. Soal lainnya, biar Mama yang urus.”
“Jadi, maksud Mama, Mama yang sengaja nukar lukisan Alfa sama lukisan milik orang lain?”
Erlita hanya tersenyum.
“Ma, itu namanya penipuan, Ma. Kejahatan. Kan Mama selalu bilang sama Alfa untuk ngga boleh curang? Tapi kenapa sekarang Mama malah berbuat curang?”
“Ini bukan curang, sayang. Tapi strategi. Udah kamu tenang aja ya?”
Itu adalah kali pertama Alfa merasa kecewa dengan tindakan Mamanya dan merasa paling buruk dengan menjadi juara satu.
***
Sejak kejadian lomba melukis itu, Alfa berubah jadi anak yang pendiam dan tertutup. Ia tidak lagi banyak bercerita dan bercanda dengan orang tuanya. Setiap kali selesai makan malam bersama, ia selalu lebih banyak diam dan kemudian mengurung diri di kamar dengan alasan belajar.
Erlita sadar bahwa putranya sedang berusaha menghindarinya. Tapi ia tetap saja meyakini bahwa tindakannya benar dan Alfa marah hanya karena ia belum memahami niat baiknya. Ia yakin suatu saat nanti Alfa akan mengerti dan justru berterima kasih kepadanya.
__ADS_1
“Ma, ada apa sebenarnya? Kenapa Alfa jadi pendiam gitu?”
“Ngga ada apa-apa kok, Pa. Cuma masalah sepele. Nanti juga dia bakalan ngerti.”
“Masalah sepele?”
Erlita kemudian menceritakan semuanya kepada Nafan.
“Ma, kenapa kamu ngelakuin hal seperti itu? kamu keterlaluan,Ma!”
Nafan bergegas meninggalkan Erlita di meja makan lalu menghampiri Alfa di kamarnya.
“Al, lagi apa?”
“Lagi belajar, Pa.” Jawab Alfa tanpa menoleh.
“Alfa masih marah sama Mama?”
Bocah itu menggeleng.
“Kalau sama Papa, marah juga?”
Lagi-lagi Alfa menggeleng.
“Papa tahu kamu marah dan kesal sama Mama. Papa juga kesal sama Mama dan Papa sudah sampein kekeselan Papa sama Mama.”
“Terus?” bocah itu sepertinya mulai tertarik untuk berbicara dengan papanya.
“Mama mengakui kalau kali ini Mama memang salah dan kelewatan. Dan Mama juga sudah minta maaf sama Papa. Kalau Mama minta maaf juga sama Alfa, apa Alfa mau maafin Mama?”
Alfa mengangguk, “Alfa sudah maafin Mama, Pa.”
“Terus kenapa kamu masih aja ngediemin Mama?”
“Karena Mama belum bertanggung jawab dan memperbaiki kesalahannya.”
“Bertanggung jawab?”
“Pa, kalau aja Mama ngga nuker lukisan aku, Kinara pasti jadi juara satu. Lukisan Kinara bagus banget, Pa. Dan dia layak untuk jadi juara. Tapi Mama sudah merusak semuanya.”
“Kinara?”
“Anaknya Walikota.”
“Apa?”
__ADS_1
****
Siang itu, Nafan sengaja meluangkan waktu untuk mengantar Alfa mendatangi SD Ciputra. Alfa ingin menemui Kinara untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf.
Nafan senang anak lelakinya berani bersikap ksatria seperti itu. jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak mendukung meskipun istrinya menentang habis-habisan niat baik mereka berdua.
Alfa memasuki pintu gerbang dan meminta ijin kepada petugas keamanan yang berjaga untuk bisa bertemu dengan Kinara. Petugas keamanan kemudian menunjukkan letak kelas Kinara.
Alfa dengan percaya diri dan berani memasuki area sekolah dan menuju ke kelas Kinara. Sebuah kebetulan karena mereka ternyata bertemu di depan perpustakaan.
“Ya ampun ada cowok ganteng Nara!” kata salah seorang teman Kinara ketika mereka bertemu dan berhadapan.
“Udah cuekin aja. Dia itu penipu, pembohong.” Bisik Kinara kepada temannya itu.
Keduanya lalu pergi meninggalkan Alfa tanpa mau mendengar sepatah katapun penjelasan dari Alfa. Meskipun Kinara terlihat berbisik, tapi Alfa bisa mendengar dengan jelas bahwa Kinara menyebutnya penipu dan pembohong.
Dan entah kenapa perkataan itu meninggalkan luka yang aman pedih di hati Alfa. Tuduhan atas apa yang tidak kita lakukan itu adalah hal yang menyesakkan, setidaknya itulah pelajaran yang Alfa dapatkan hari itu.
***
Waktu berlalu, Alfa kembali berbaikan dengan Erlita. Dan sejak kejadian itu, Erlita mulai bersikap agak kendor kepada Alfa. Ia tidak lagi gemar memaksakan kehendaknya. Melainkan lebih banyak mendengarkan pendapat dan pemikiran dari putranya itu.
Masih sama seperti biasanya, setiap setidaknya dua bulan sekali, Erlita akan mengajak Alfa untuk berkunjung ke rumah Jihan. Saat bertemu dan bermain dengan Electa adalah healing yang paling menyenangkan bagi Alfa.
Ia sudah menganggap Electa seperti adik kandungnya sendiri. Dan sebagai seorang kakak, jiwa kepemimpinan dan melindungi Alfa sangat besar.
Setiap kali bermain, ia akan selalu menjaga Electa dengan baik agar tidak sampai terluka sedikitpun. Karena semua orang selalu mewanti-wanti bahwa Electa sedang sakit dan jika mengalami pendarahan akan sulit untuk berhenti.
Siang itu, sepulang sekolah, ketika menghampiri rumah Electa ternyata sedang kosong. Electa sedang tidak ada di rumah.
“Kok sepi, Bik? Kak Jihan sama Electa kemana?”
“Nyonya sedang membawa Non Electa ke rumah sakit Bu.”
“Rumah sakit?”
“Tadi Non Electa jatuh di sekolah, kakinya luka-luka.”
Erlita menutup mulut menganganya dengan kedua telapak tangan.
“Dean sudah tahu Bik?”
“Sudah, Bu. Katanya Tuan langsung menyusul ke rumah sakit.”
“Ya sudah kalau gitu saya langsung ke rumah sakit aja.”
__ADS_1