Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 45


__ADS_3

Nafan segera ke rumah sakit begitu mendengar kabar bahwa istrinya pingsan di tengah rapat perusahaan.


“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?”


“Sepertinya pasien terlalu lelah dan setres. Jadi perlu lebih banyak beristirahat. Dan Bapak juga harus lebih banyak memperhatikan kesehatan istri Bapak karena beliau sedang hamil enam minggu.”


“Apa? Saya ngga salah dengar kan Dok?”


“Ngga, Pak. Istri Bapak sedang mengandung dan usia kandungannya sudah enam minggu. Jadi Bapak harus menjaga istri dan calon anak Bapak baik-baik.”


Nafan sangat senang mendengar kabar kehamilan istrinya itu. Ia sudah sangat lama menantikan datangnya hari itu, hari dimana ia dinyatakan resmi menjadi calon ayah dari bayi yang dikandung Erlita. Saking senangnya ia sampai lupa nomor kamar istrinya dirawat dan malah salah masuk ke kamar pasien lain.


Saat kembali ke kamar, Erlita sudah sadar dan bisa diajak bicara.


“Sayang, gimana kondisi kamu? Sudah baikan?”


Erlita mengangguk, “Fan, gue harus balik ke kantor. Gue ngga bisa tidur-tiduran disini sementara keadaan kantor sedang kacau.”


“Ta, sabar, Ta! Kamu sedang sakit dan butuh istirahat, jadi plis lupain sebentar urusan kantor. Biar Kenny dan Johan yang urus.”


“Ngga bisa Fan. Perusahaan yang dibangun Eyang dengan keringat dan air mata bakal hancur kalau gue ngga berbuat apa-apa.” Erlita mulai menangis ketakutan.


“Sebenarnya ada masalah apa, Ta?”


“Gue beli kayu dalam jumlah besar untuk produk kursi terbaru gue. Gue udah minta tim legal untuk mengecek semua dokumen jual beli dan mereka bilang aman. Tapi hari ini tiba-tiba saja muncul pemberitaan bahwa gue ngebeli kayu hasil ilegal logging. Banyak kecaman masuk ke email perusahaan dan banyak kontrak pemesanan produk yang dibatalkan sepihak karena masalah ini. Gue bisa bangkrut dan terseret kasus ilegal logging kalau terus seperti ini.”


“Tenang, Ta. Saya akan bantu kamu untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi janji sama saya kamu akan tetap disini sampai dokter ijinkan kamu pulang. Kamu sedang mengandung anak kita dan saya ngga pengen kamu dan anak kita kenapa-napa.”


“Apa?! Hamil???”


Nafan mengangguk, “Iya sayang, dokter bilang kamu sedang hamil enam minggu.”

__ADS_1


Raut muka Erlita berubah, senyumnya mengembang dan matanya berbinar bahagia. Ia senang karena akhirnya bisa memberikan seorang bayi mungil untuk suaminya yang sangat dicintainya itu.


“Saya berjanji untuk selalu menjaga kamu dan calon anak kita. Jadi sebaiknya kamu juga lebih berhati-hati menjaga diri mulai sekarang.”


Erlita mengangguk lalu memeluk Nafan, air mata bahagia mengalir dari ujung matanya.


***


Malam itu, Nafan sengaja mengundang Johan, Kenny, Rania dan beberapa kepala departemen terkait untuk mengadakan rapat darurat terkait kasus yang menimpa perusahaan.


“Jo, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa bisa seperti ini?”


“Fan, kalau memperhatikan bukti dan keterangan dari departemen legal dan keuangan perusahaan, kayu yang kita beli adalah kayu legal. Namun entah bagaimana, dokumen yang asli tiba-tiba hilang dan beredar dokumen palsu yang menyatakan bahwa kayu-kayu itu ilegal. Parahnya lagi, saat kita menunjukkan copy dokumen aslinya, kita justru dituduh memalsukan dokumen itu agar terlihat asli.”


“Terus bagaimana solusinya?”


“Ada satu cara yang bisa kita lakukan jika tidak bisa segera menemukan dokumen aslinya.”


“Apa?” tanya semua orang serentak.


“Departemen Kehutanan?! Biar gue yang urus.” Nafan yakin bisa meminta bantuan rekan-rekan lamanya di Departemen Kehutanan untuk menyelesaikan masalah ini.


“Sementara itu, gue bakal cari tahu siapa pelakunya dan apa motifnya.” Johan sangat penasaran dengan hal itu.


***


Pagi itu Nafan menemui Pak Dandy, mantan kepala departemennya saat masih bekerja sebagai pns di Departemen Kehutanan dulu.


“Lama tidak bertemu. Saya tidak menyangka kamu mengundurkan diri dari pns dan berubah menjadi sekeren ini.” Gurau Pak Dandy melihat penampilan perlente Nafan dalam balutan setelan jas berwarna hitam.


“Bapak belum berubah, masih saja suka bercanda dan awet muda.”

__ADS_1


“Kamu memang paling bisa, Fan.” Mereka tertawa bersama


“Ada perlu apa kamu menemui saya?”


Nafan kemudian menceritakan niat dan tujuannya menemui Dandy hari itu.


“Tapi, Fan, kami tidak memiliki wewenang seperti itu. Kalaupun bisa, itu harus melalui serangkaian proses birokrasi yang panjang dan makan waktu lama.”


“Karena itu saya datang menemui Anda, karena kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Ada ribuan bahkan jutaan karyawan yang akan jadi pengangguran jika masalah ini tidak segera dibereskan.”


Dandy paham betul permasalahan yang sedang Nafan hadapi. Ia juga tahu seberapa besar pengaruh perusahaan yang sedang Erlita kendalikan. Dandy segera mengecek databasenya dan mencari tahu status kayu yang dibeli Erlita dari dokumen yang Nafan bawa.


Setelah beberapa jam kemudian mereka menemukan fakta bahwa semua kayu itu legal. Tingga bagaimana Dandy memangkas proses birokrasi untuk menerbitkan surat pendukung atas keaslian dokumen yang dimiliki perusahaan Erlita.


“Kasih saya waktu untuk menuntaskan masalah birokrasi. Karena bisa masalah ini sampai dipersoalkan di kemudian hari, tidak hanya saya, semua kepala instansi terkait akan menanggung akibatnya.”


“Baik, Pak, saya mengerti posisi anda, saya mengharapkan bantuan dan dukungan dari Anda.”


Dandy bukan orang yang tidak tahu membalas budi. Nafan sudah sangat banyak membantunya saat mereka bersama-sama bertugas di departemen kehutanan provinsi Kalimantan Timur beberapa tahun yang lalu.


Bagaimana Nafan, yang saat itu menjadi bawahannya, sangat berdedikasi untuk memberantas segala bentuk pencurian hasil hutan dan penyalahgunaan atau eksploitasi berlebih terhadap potensi hutan yang membuatnya dipromosikan sebagai Kepala bagian kepegawaian di Departemen Kehutanan.


***


Sementara itu, Sania juga bertekad untuk menceraikan suaminya, Prasetyo yang lagi-lagi ketahuan selingkuh bahkan setelah diusir dari rumahnya dan terpaksa kembali ke rumah orang tuanya yang mulai bangkrut dan terlilit banyak hutang.


Prasetyo menolak gugatan cerai Sania karena tidak ingin tambang emasnya hilang begitu saja. Selama ini ia menikmati kehidupan mapan dan mewah tanpa harus melakukan pekerjaan yang berat dan berarti. Ia hanya perlu menjadi suami dari satu-satunya anak perempuan konglomerat Pratiwi dan Suryo Susbihardayan.


Tapi sebagai pria hidung belang yang merasa bahwa dirinya sangat mempesona dan berharga, tentu tidak mudah bagi Prasetyo untuk puas hanya dengan seorang Sania yang manja, boros dan tidak bisa apa-apa. Ia bahkan hanya bisa melahirkan seorang anak bodoh yang tidak bisa dibanggakan seperti Kenny.


Jadi ia memilih untuk tetap mempertahankan pernikahannya dengan Sania sambil menghabiskan seluruh masa mudanya untuk bersenang-senang dengan banyak wanita di luar sana tanpa sepengetahuan Sania.

__ADS_1


Namun kejadian dengan Farah beberapa waktu lalu menjadi momen yang sangat sulit bagi Prasetyo untuk mengelak dari tuduhan perselingkuhan. Bagaimanapun juga Sania sudah bertekad untuk berpisah dengan Prasetyo, jadi pria itu hanya perlu menunggu sampai pengadilan memutuskan perceraian mereka.


Kini hidupnya makin sulit tanpa dukungan harta dari kedua orang tuanya dan ditambah lagi, ia melakukan banyak pemeriksaan akhir-akhir ini dan kuat dugaan bahwa ia terjangkit virus HIV AIDS, yang membuat hidupnya kian terpuruk.


__ADS_2