
Sebenarnya Erlita sangat sedih dengan keadaan keluarga besarnya yang tercerai berai karena harta warisan yang ditinggalkan neneknya.
“Fan, apa menurut lo sebaiknya gue bagi rata aja warisan Eyang supaya keluarga gue ngga bertengkar lagi?”
“Jangan konyol! Eyang menitipkan semuanya ke kamu bukan tanpa alasan dan pertimbangan. Lihat saja, ruko yang dikelola Jihan sudah berpindah kepemilikan kepada orang lain. Milik Kenny terbengkalai tidak terurus sama sekali. Padahal tempat yang Eyang pilihkan untuk mereka adalah lokasi-lokasi terbaik dan potensial. Apa kamu berfikir hotel dan mall kamu akan bisa bertahan lama jika jatuh ke tangan mereka?”
“Tapi Fan. Aku tidak butuh semua itu! aku ingin keluarga besarku kembali utuh dan rukun seperti dulu!”
“Ta, itu semua perjalanan takdir. Kita tidak bisa memaksakan skenario kita. Bukan salah kita jika Om Pras dan Tante Sania akhirnya bercerai. Bukan salah kita juga jika Jihan harus pindah ke luar negeri dan dicabut semua hak istimewanya oleh Eyang. Jadi jangan menyiksa diri sendiri atas akibat dari perbuatan mereka sendiri!”
Erlita mengerti betul maksud perkataan Nafan. Tapi bagaimanapun juga semua itu terjadi karena mereka iri dengan keistimewaan yang Eyang berikan kepadanya. Jika saja Eyang memperlakukan mereka semua sama, mungkin Erlita tidak perlu menyaksikan semua kekacauan saat itu.
“Lita dengar! Hal terbaik yang bisa kamu lakukan saat ini adalah memastikan bahwa Susbihardayan Group mampu bertahan dan berkembang baik. Agar semua pengorbanan Eyang dan orang tua kamu tidak sia-sia.”
***
Hari minggu pertama setelah pernikahan Johan dan Sisil tiba. Erlita menyiapkan semua jamuan untuk acara sarapan bersama semua keluarga besarnya. Ia berharap semua orang berkenan hadir meskipun mungkin akan terasa canggung dan sulit untuk pertama kalinya.
Karena tidak ingin semua persiapannya sia-sia, malam sebelumnya Erlita sudah menelepon semua keluarganya untuk tidak lupa hadir sarapan bersama di rumah induk esok pagi. Sebagian menyatakan antusiasmenya, namun sebagian lagi tampak dingin dan tidak tertarik sama sekali.
Tapi Erlita tetap tidak mau menyerah. Ia ingin mempersiapkan yang terbaik untuk minggu pertama itu. Ia meminta semua pembantu rumah tangga membantunya membersihkan rumah dan menyiapkan aneka hidangan istimewa favorit keluarga.
__ADS_1
Pagi itu, Johan dan Sisil datang paling awal untuk membantu Erlita menyiapkan segala hal. Meskipun baru pasangan pengantin baru itu yang tiba, Erlita tetap merasa bersyukur karena tidak harus sarapan berdua saja dengan Nafan.
Tak lama kemudian, Sania datang diikuti dengan Kenny dan Rania. Erlita jadi semakin bersemangat ketika Farah ternyata juga mau hadir dan sarapan bersamanya juga.
Erlita mencoba menghubungi Jihan. Ia berharap kakak sepupunya itu mau bertemu dan berkumpul kembali dengannya dan keluarga lainnya. Tapi sia-sia karena Jihan sama sekali tidak berniat untuk mengangkat panggilan telepon dari Erlita.
“Yeah, karena waktu sarapan sudah hampir lewat dan Kak Jihan juga belum bisa dihubungi, kita mulai aja sarapannya.” Ucap Erlita berusaha menutupi rasa kecewanya.
Tepat ketika mereka hendak memulai sarapan dengan rasa canggung, tiba-tiba saja Jihan datang bersama Dean dan Nasya. Yang lebih mengejutkan lagi, Bram ikut masuk di belakang Jihan.
Semua orang terperanjat menyaksikan siapa yang baru saja masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju meja makan.
Jihan memeluk singkat Erlita yang masih saja berdiri mematung akibat terperanjat dengan kehadiran Bram.
“Thanks ya Ta, udah bikin acara penyambutan yang cukup meriah untuk Papa.” Jihan mengulas senyuman penuh cibir.
“Kenapa? Apa jangan-jangan Papa sudah dicoret dari silsilah keluarga Susbihardayan juga?” Sindir Jihan lagi.
Jihan kemudian menyeret sebuah kursi kosong di samping mamanya lalu mempersilakan papanya untuk duduk. Lalu ia pun mengambil posisi duduk di samping Dean.
Erlita segera menguasai diri. Ia kemudian bergegas ke dapur mengambil peralatan makan untuk pamannya yang baru keluar dari penjara itu. Ia sendiri yang kemudian meletakkan dan menata peralatan makan Bram di mejanya.
__ADS_1
“Selamat datang kembali, Om. Makan yang banyak yah? Om kelihatan kurusan.” Erlita membalas senyuman Jihan.
“Well, karena semua anggota keluarga sudah berkumpul, mari kita mulai sarapannya!” ajak Erlita untuk mencairkan kecanggungan diantara semua orang.
Bukan Sania namanya kalau tidak ceplas-ceplos dan suka asal bicara.
“jadi Bram, berapa banyak jaminan yang harus Jihan bayar agar bisa mengeluarkanmu dari penjara?”
“Kenapa, Kak? Apa itu begitu mengganggumu?”
“Aku sedikit menyesal karena tidak bisa ikut menjempumu ke penjara. Kalau saja Jihan memberitahuku lebih awal, aku pasti ikut ke penjara untuk menyambut kepulanganmu.”
“Tidak perlu sebaik itu! Kau membuatku terharu saja. Bagaimanapun juga akan lebih baik jika kau fokus mencari suami baru untuk menemanimu berbelanja. Agar tidak hanya bisa menghindar setiap bertemu Pras dengan istri barunya.”
“Siapa peduli dengan Pras? Aku juga tidak butuh teman belanja. Sudah terlalu banyak pelayan mall yang mau melayaniku secara cuma-cuma dan senang hati.”
“Kau masih saja menyedihkan diusia setua ini, Kak. Kalau saja kau sedikit lebih pintar, mungkin kau tidak harus berakhir sebagai wanita kesepian yang tak memiliki apa-apa seperti sekarang.”
“Kalau saja kau bisa lebih pandai menjaga istrimu, mungkin aku tidak harus menjadi seburuk ini. Benar kan, Farah?”
Bram menghentakkan kasar sendoknya ke meja.
__ADS_1