
Sementara Erlita dan Nafan disibukkan oleh Alfa yang semakin jauh menyimpang dari harapan mereka, Sisil dan Johan justru semakin lengket dan harmonis. Putra tunggal mereka akhirnya memilih jalan yang sama dengan ibunya.
Bersekolah di jurusan dan perguruan tinggi yang sama dengan Alfa, dan bercita-cita menjadi pengacara hebat. Sisil sangat bangga dan yakin dengan keinginan putra semata wayangnya itu.
Bagaimana tidak? Di usia yang masih sangat belia, Alfa dan Handoyo berhasil mengungkap misteri di balik kematian mendiang kakek mereka. Dan tidak hanya itu, mereka juga banyak membatu Sisil dalam memenangkan berbagai kasus hukum yang ditanganinya.
Sisil yakin anak dan keponakannya itu pasti akan unggul karena memiliki pengalaman langsung dibanding teman-temannya di kampus yang hanya belajar berdasarkan teori. Karena itu, berbeda dengan Erlita, Sisil justru sangat mendukung kedua remaja itu untuk mengejar cita-cita dan keinginan mereka untuk menjadi pengacara seperti dirinya.
Berbeda dengan Sisil dan Erlita, Jihan yang kian sukses dengan bisnis salon kecantikan dan sekolah modelingnya mulai disibukkan dengan ulah Nasya yang semakin brutal dan urakan seperti dirinya dulu.
Di usia yang masih awal dua puluhan, Nasya yang sudah terjun ke dunia modeling mulai senang minum minuman keras, merokok dan bergaul dengan banyak laki-laki. Tidak jarang ia membuat Jihan pusing karena tiba-tiba saja ditemukan wartawan dalam keadaan teler di bar atau sedang berkelahi dengan sesama model gadis di club malam.
Cerita paling memilukan datang dari keluarga Kenny dan Rania yang hingga usia pernikahan mereka yang kedua puluh lima tahun belum juga dikaruniai seorang anak. Untuk melipur lara mereka, keduanya sering membawa Arka, anak bungsu Erlita yang masih duduk di bangku sekolah dasar untuk tinggal bersama mereka.
Ranialah yang mengantar jemput Arka ke sekolah, menghadiri undangan wali murid di sekolah Arka dan menemani Arka berlibur ketika liburan sekolah tiba.
__ADS_1
Kenny dan Rania menyayangi Arka seperti anak kandung mereka sendiri dan Erlita membiarkan Arka menjadi obat bagi rasa kecewa dan penantian panjang kakak sepupunya itu.
Karena usianya yang semakin senja dan belum juga ingin menikah lagi, maka Sania mengajak Rania dan Kenny kembali ke rumah mereka di paviliun sayap kiri. Sania tidak ingin mati kesepian di rumah sebesar itu. Dan keceriaan Arka melengkapi kebahagiannya sebagai ibu, mertua dan nenek.
Bramantyo yang berhasil membangun kembali kerajaan bisnisnya masih saja belum bisa merelakan kepergian Electa, cucunya. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa bersalah kepada gadis malang itu. ia yakin bahwa Electa menderita penyakit dan akhirnya meninggal secara mengenaskan sebagai karma atas kejahatannya di masa lalu.
Karena itu, Bram mulai memperbaiki diri dan membangun sebuah rumah sakit khusus untuk anak-anak dengan penyakit langka yang diberi nama Electa.
Di usianya yang tidak lagi muda, Bram tidak ingin menyerah. Meskipun harus memulai bisnisnya dari awal, ia berhasil mengembangkan usahanya. Ia ingin kelak bisa dengan bangga mewariskan usahanya sendiri kepada cucu tunggalnya, Nasya.
***
“Apa kamu yakin akan mengajak Sisil juga?” goda Nafan kepada istrinya yang cemburuan itu.
Erlita mengangguk yakin, “Meskipun kalian datang bersama ke sana tapi ada aku dan kak Johan yang akan selalu mengawasi kalian. Jadi jangan coba-coba untuk bernostalgia dengan Sisil!”
__ADS_1
Nafan tertawa. “Bukankah akan lebih baik jika kita pergi kesana berdua saja?”
Erlita menatap mata Nafan tajam, “Itu adalah impian kalian, jadi aku tidak ingin egois dengan merebutnya. Tapi aku juga tidak ingin tidak hadir di salah satupun mimpimu. Jadi aku memutuskan untuk mengajak semuanya kesana.”
Nafan memeluk tubuh mungil Erlita dari belakang, “Lalu apakah kau juga bisa melakukan hal yang sama kepada Alfa?”
“Aku bukannya tidak ingin memberinya kesempatan mengejar mimpinya. Hanya saja aku takut dia pergi terlalu jauh. Aku tidak akan bisa kehilangan dia seperti kakak kamu kehilangan kamu.”
Nafan kemudian memutar tubuh Erlita hingga kini keduanya saling berhadapan.
“Sayang, sejauh-jauhnya burung terbang, ia akan kembali pulang saat lelah dan sakit. Kita adalah rumah bagi Alfa, jadi ia akan kembali kepada kita ketika ia membutuhkan kita.”
“Lalu, apa aku harus membiarkannya?”
“Aku akan berusaha agar bisa selalu sehat dan hidup lebih lama, agar saat aku pergi Alfa sudah siap dengan tugas dan tanggung jawabnya. Sementara itu, berilah dia kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri dulu. Agar dia tahu sulinya tersesat, menderitanya kekurangan dan bersyukurnya memiliki.”
__ADS_1
Erlita tampak memikirkan dan mempertimbangkan perkataan Nafan. Entah kenapa setiap perkataan pria itu menjadi semacam bius yang selalu bisa menidurkannya. Erlita selalu saja menganggap bahwa perkataan Nafan benar, masuk akal dan selalu berakhir mengikutinya layaknya terhipnotis.
Begitu juga malam itu. Erlita akhirnya mengalah dan mengijinkan Alfa menjalani kehidupannya sendiri. Sembari mendidik Arka agar bisa menjadi penopang dan pendorong yang kuat bagi kakaknya. Ia ingin kedua putranya saling mendukung dan menguatkan suatu saat nanti.