
Pagi itu Nafan sengaja datang terlambat demi bisa berangkat bersama dengan Jihan. Jihan kaget melihat perubahan sikap Nafan yang begitu drastis. Dan ia sangat senang dengan itu semua.
Jihan mengantar Nafan dulu ke kantornya baru ia pergi ke tempat pemotretan.
“Nanti lo pulang jam berapa? Biar gue jemput aja.”
“Ngga usah kak. Saya bisa pulang pakai taksi online.”
“Ngga papa lagi, Fan. Gue ikhlas kok. Lo sms gue kalau dah waktunya pulang ya? Bye!”
Dan sore harinya Jihan benar-benar datang menjemput Nafan. Meskipun Nafan cukup gerah dengan tudingan orang yang mengira ia berselingkuh dengan perempuan lain, Nafan tetap pada niatnya untuk sengaja lebih dekat dengan Jihan. Jalanan begitu macet, jadi Nafan mengajak Jihan untuk berhenti makan malam dulu. Jihan menerima dengan senang hati dan bersikeras untuk mentraktir Nafan sebagai imbalan karena mau bersamanya hari itu.
***
Hari sudah semakin malam tapi Nafan belum juga pulang. Erlita yang kesulitan mengerjakan tugas berniat untuk menelepon Nafan dan memintanya untuk segera pulang dan membantunya mengerjakan tugas seperti biasa. Belum sempat ia memencet nomor telepon Nafan, sebuah pesan gambar masuk ke ponsel Erlita.
Sebuah gambar yang menunjukkan Jihan berswa foto bersama Nafan yang memasang wajah sok gantengnya dan sebuah foto yang menunjukkan tubuh tegap dan gagah Nafan dari belakang sedang menatap tugu monas dari balik pagar, sementara kedua tangannya di letakkan di saku celana. Entah kenapa foto itu terlihat keren. Tanpa sadar Erlita menekan tombol favorit di galerinya.
Sekarang ia tahu bahwa Nafan sedang berkencan dengan Jihan. Ia tidak bisa menelepon Nafan dan memaksanya pulang di tengah kencan, karena itu jelas melanggar privasi. Erlita berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri.Ia tetap berusaha fokus untuk bisa menyelesaikan tugasnya seorang diri. Tapi sia-sia.
Sekuat apapun ia berusaha, pikirannya tidak bisa fokus. Konsentrasinya pecah dan dadanya terasa panas seperti sedang terbakar. Ia memutuskan untuk mengambil sebotol minuman dingin di kulkas dan meneguknya sampai habis tak tersisa.
***
Ketika pulang, Nafan melihat kamar Erlita sangat berantakan. Botol air mineral dan tisu berceceran dimana-mana. Leptopnya masih menyala dan buku juga masih ada di tangannya tapi Erlita sudah tengkurap dan terlelap begitu saja.
__ADS_1
Dengan sabar Nafan membersihkan sampah botol minuman dan tisu yang tercecer, ia lalu mandi dan berganti baju. Setelah itu, ia membenarkan posisi tidur Erlita dan menyelesaikan tugas yang bahkan belum sampai setengahnya dikerjakan oleh Erlita. Ia juga merapikan meja rias Erlita dan memasukkan barang-barang ke dalam laci.
Saat membuka laci, ia melihat tumpukan amplop yang selalu diberikannya kepada Erlita setiap bulan, masih tertata rapi seakan tidak pernah disentuh atau digunakan sedikitpun.
Keesokan paginya, ketika bangun, Erlita sudah melihat kamarnya tertata rapi, leptop dan bukunya sudah tersusun rapi di meja. Ia segera mengecek tugasnya dan ternyata Nafan sudah menyelesaikannya dengan baik. Meskipun kesal dan ingin marah tanpa sebab, sekarang ia memilih untuk membiarkan Nafan karena ia sudah membantu Erlita menyesaikan tugas kuliahnya.
***
Hari terus berlalu, dan Nafan terlihat semakin dekat dengan Jihan. Ia bahkan tidak punya waktu lagi untuk menemani Erlita ke mall saat hari libur, atau sekedar menemani Erlita nongkrong di kafe malam hari. Semua waktu Nafan habis untuk mengurusi Jihan. Ia bahkan rajin menyiapkan sandwich dan buah untuk sarapan dan bekal Jihan, namun tak sekalipun Erlita mendapat perlakuan yang sama.
Entah kenapa ia merasa kesal. Sejak dulu ia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan dan ia benci bila seseorang berusaha merebut miliknya. Hal itulah yang kini dirasakannya. Ia mengumpamakan Nafan seperti barang lain miliknya. Tidak ingin dimiliki orang lain. Jadi ia memutuskan mulai hari ini akan merebut barang miliknya itu kembali.
***
Sepulang kuliah, Erlita sengaja mampir ke kantor Nafan. Ia membawa banyak makanan untuk Nafan dan teman-temannya dan tak lupa sebuah buah tangan mewah untuk atasannya. Ia ingin semua orang tahu bahwa dirinyalah istri Nafan, bukan Jihan yang rajin mengantar dan menjemputnya.
Seakan tidak mempedulikan perkataan Nafan, ia justru membagikan semua makanan ke teman-teman Nafan dengan penuh perhatian dan keakraban.
“Nafan beruntung memiliki istri sebaik dan secantik anda.” Puji salah seorang teman kantor Nafan.
“Anda berlebihan. Saya melakukan ini sebagai permintaan maaf karena tidak sempat mengundang anda semua ke pernikahan kami. Waktunya sangat mepet jadi kami tidak sempat menyebar undangan. Tapi lain kali saya ingin mengundang anda semua ke rumah. Kita adakan pesta kecil supaya jadi lebih akrab.”
Nafan kesal pada perbuatan semena-mena Erlita hari itu. Ia lalu menyeret istrinya itu keluar untuk bicara empat mata.
“Bisa kamu jelaskan, apa maksud dari semua ini? Bukanka ini bagian dari pelanggaran privasi?”
__ADS_1
“Tapi, apa yang salah? Saya hanya ingin mengenal mereka dan berharap menjadi lebih akrab.”
“Untuk apa?”
“Itu –“ sebenarnya Erlita sendiri juga tidak yakin itu untuk apa. “Karena saya adalah seorang ningrat yang beradab dan tahu tata krama. Sudah sepatutnya saya menghormati atasan anda dan memperlakukan teman-teman suami saya dengan baik.” Tiba-tiba saja Erlita berkata sopan dan formal.
“Suami? Kamu bicara seolah kamu tahu apa yang sedang kamu bicarakan. Padahal kamu sama sekali tidak tahu apapun.”
Erlita tidak tahu kenapa Nafan malah marah seperti itu. Bukannya seharusnya ia merasa senang dan berterima kasih karena ditengah kesibukannya, Erlita mau menyempatkan diri mampir ke kantornya dan memperlakukan teman-temannya dengan baik.
***
Sudah hampir dua jam Erlita menunggu Nafan di lobi. Ia baru tahu seperti itulah lelah dan bosannya menunggu. Ia tiba-tiba membayangkan bagaimana Nafan bisa dan mau menunggunya di tempat parkir hingga lima jam. Ada sedikit rasa bersalah terselip di hatinya. Tapi itu bagian dari hukuman karena mau menikah dengannya. Jadi Erlita tidak perlu merasa bersalah dengan hal-hal semacam itu.
“Kamu ngapain masih disini.” Erlita lega akhirnya Nafan selesai juga. Ia sudah sangat bosan menunggu.
Ia menyerahkan kunci mobilnya kepada Nafan. “Yuk pulang!”
“Maaf, tapi saya sudah ada janji dengan Kak Jihan. Jadi sebaiknya kamu pulang sendiri saja.” Nafan mengembalikan kunci mobilnya lalu segera masuk ke mobil Jihan yang baru saja datang.
Tak ingin menimbulkan gosip tentang Nafan, Erlita bergegas masuk ke mobilnya lalu mengikuti mobil Jihan dari belakang.
“Itu Lita?” tanya Jihan melihat mobil Erlita dari spion.
Nafan mengangguk. “Bisa antar saya ke suatu tempat sebentar?”
__ADS_1
Jihan membelokkan mobilnya di sebuah pertigaan sementara jalan pulang seharusnya lurus. Erlita penasaran kemana mereka akan pergi, tapi mengikuti mereka akan dituduh melanggar privasi Nafan lagi. Jadi ia memutuskan untuk lurus dan langsung pulang ke rumah.