
Lagi-lagi di luar harapan Erlita, Nafan mengendarai supercarnya dengan sangat santai. Ia hafal dengan semua tombol dan fitur canggih di dalam mobilnya. Bahkan cara mengemudi Nafan jauh lebih halus daripada Erlita. Ia semakin kesal karena lagi-lagi gagal menjatuhkan Nafan.
Erlita mulai berfikir bagaimana Nafan bisa berkendara dengan sangat baik seperti itu padahal ia naik motor butut sehari-hari. Erlita menepisa rasa penasarannya. Ia tidak peduli dan tak ingin peduli dengan Nafan. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah bagaimana cara menunjukkan jati diri Nafan dan niat sebenarnya Nafan menikahinya. Ia juga sudah bertekad untuk membuat Nafan menyesal telah menikahinya.
Sesampainya di kampus, ia meminta Nafan untuk menunggunya di dalam mobil di tempat parkir. Melihat Nafan menurut, Erlita sengaja mengulur waktu untuk membuat Nafan kelelahan menunggu. Tiga jam kemudian ia mengirim sebuah pesan ke ponsel Nafan.
“Pergi ke kantin dan belikan aku minum lalu bawa ke kelas! Sekarang!”
Nafan sadar ia sedang diuji. Ia keluar dari mobil, pergi ke kantin untuk membelikan minuman yang dipesan Erlita.
Nafan sangat hafal dengan kelakuan mahasiswa di kampus-kampus elit seperti kampus Erlita. Karena kebanyakan dari mereka adalah anak dari keluarga kaya seperti Erlita, mereka biasanya hobi nongkrong di kantin, hura-hura, ikut kelas hanya untuk absen dan sisanya membayar teman untuk mengerjakan tugas dan memberikan catatan untuk mereka.
Jadi ia sama sekali tidak merasa heran melihat kantin lebih ramai daripada ruang kelas. Itu juga yang menjadikan satu alasan kenapa ia enggan berkuliah di kampus seperti itu.
"Gimana kalau Erlita? Dia ngga bakal nolak kalau cuma lima detik."
"Sepuluh detik juga gue jabanin. Ergi dilawan....." Kata Ergi congkak.
Nafan mendengar beberapa anak sedang membicarakan Erlita, jadi meskipun sudah mendapatkan minuman yang dipesan, ia memilih untuk tetap duduk dikursinya agar bisa mendengar sisa pembicaraan gerombolan pemuda itu.
"Oke, lo boleh pake ini." Salah seorang pemuda memberikan kartu atmnya, "unlimited! Khusus buat hari ini."
Ergi mengambil kartu atm itu, "Gue jadi penasaran apa isinya cukup buat bayarin handphone idaman gue."
__ADS_1
"Kalau gitu lo bisa langsung datengin kelas Erlita, cium dia sepuluh detik di depan seisi kelas. Kalau lo sukses bikin Erlita nangis dan bisa balik dalam keadaan selamat, semua isi atm gue buat lo."
"Deal, lo emang atm berjalan gue, Bin. Siap menjalankan perintah, Kapten Robin!" Ergi bergegas pergi ke kelas Erlita untuk menjalankan misinya.
Nafan jadi tahu siapa nama pemuda brengsek yang harus diberinya pelajaran hari itu. Ia pun berjalan santai mengikuti Ergi yang ia yakini sedang menuju kelas Erlita.
Tepat saat hendak membuka pintu kelas, sebuah tangan mencengkram tangan Ergi dan mendorongnya menjauh dari pintu kelas Erlita.
"Apa-apaan lo?" Ergi marah karena Nafan tiba-tiba saja mendorongnya tanpa sebab.
Nafan meletakkan telunjuknya di bibir tanda Ergi harus memelankan suaranya. "Jangan ganggu Erlita!"
"Siapa lo berani ikut campur urusan gue?!"
Merasa dipermainkan, Ergi bangkit lalu menarik tubuh nafan dan berniat menghantam wajahnya. Tapi Nafan ternyata memiliki refleks yang sangat bagus, ia dengan gesit menghindar dan membiarkan tubuh Ergi menabrak tembok.
"Lo pikir lo sudah cukup hebat cuma dengan jadi pesuruhnya Erlita? Lo bakal segera tahu sejalang apa majikan lo itu!"
"Wah, ni bocah ngga ada takut-takutnya yah?!" Nafan menghampiri Ergi lalu merampas kartu atm milik Robin.
Ergi yang marah terus-terusan mencoba untuk menghajar Nafan, tapi pria itu terus saja bisa menghindari serangan Ergi.
"Pergilah atau saya akan memberi tahu dekan kalau kalian sedang mepertaruhkan harga diri seorang wanita demi ini." Nafan menunjukkan kartu atm yang berhasil dirampasnya dengan satu tangan.
__ADS_1
Karena takut berurusan dengan dekan dan dikeluarkan dari kampus, Ergi memilih segera pergi menjauh dari Nafan. Mengetahui bahwa Erlita sudah aman, Nafan meletakkan botol minumnya di kursi depan kelas Erlita lalu kembali ke mobil setelah mengirim pesan kepada Erlita bahwa minumannya sudah siap di depan pintu kelas.
Ergi ditemani Robin dan tiga orang temannya yang lain sudah siap menunggu Nafan di parkiran mobil Erlita. Mereka sudah mendengar cerita dari Ergi dan berniat membalas perbuatan Nafan.
"Oh, jadi elo, pesuruh barunya Erlita? Gue ngga yakin kalo lo pacar barunya Erlita. Karena jelas banget lo jauh dari kriteria cowok favorit Erlita. Jadi lo cuma sopir?" Tanya Robin penuh dengan nada penghinaan.
"Sori, tapi saya sedang males bermain-main." Nafan dengan santai balik badan dan meninggalkan gerombolan Robin.
Tak terima dengan sikap sok Nafan, Robin menarik tubuh Nafan dan berusaha menghajarnya. Lagi-lagi Nafan hanya menghindar karena tidak ingin melukai bocah-bocah ingusan itu.
Merasa kesal karena melihat Robin dipermainkan, keempat temannya ikut mengeroyok Nafan dan perkelahianpun tak terelakkan lagi. Tapi Nafan selalu punya cara mengendalikan kebrutalan kelima bocah tengil itu. Ia berhasil membuat kelimanya bertekuk lutut tampa pertumpahan darah sedikitpun.
"Sekarang bisa jelaskan kenapa kamu minta Ergi buat ngelecehin Erlita?"
"Gue ngga terima gadis congkak itu mutusin gue seenaknya terus pacaran sama Dean, saingan gue."
"Kamu tau kenapa Lita mutusin kamu?"
"Karena Dean." Jawab Robin yakin
"Ckckck, itu karena kamu tolol dan kekanak-kanakan. Saya saja gerah sama bocah kaya kamu, apalagi Lita?"
Nafan melempar atm kearah Robin, "Jangan coba-coba ganggu Erlita lagi karena kalian bakal berurusan sama saya!"
__ADS_1