
Nafan merasa sangat berterima kasih dengan pesta yang dibuat Erlita untuknya. Sebagai gantinya Nafan berusaha lebih keras untuk membantu Erlita menyelesaikan skripsinya. Bab demi bab sudah mereka lalui. Kini sampai pada bab penelitian dan pembahasan.
Karena membahas soal industri kreatif, Erlita memutuskan untuk melakukan penelitian di Bandung. Meskipun sebenarnya bisa saja ia meneliti tentang perusahaan keluarganya, tapi ia malas berurusan dengan pamannya.
Erlita segera mengajukan surat ijin melakukan penelitian. Setelah surat ijinnya keluar, ia pergi ke Bandung bersama Nafan beberapa kali setiap hari jumat sampai minggu malam, karena kebetulan Nafan libur pada hari sabtu. Mereka menginap di salah satu hotel milik keluarga Susbihardayan di Bandung.
Suatu hari ketika mereka sedang di tengah perjalanan menuju Bandung, Erlita menyampaikan niat baik neneknya untuk memintanya bekerja di perusahaan. Erlita pikir itu usulan yang sangat bagus karena ia tidak perlu lagi melihat Nafan menjadi bawahan di sebuah Departemen yang menurut Erlita tidak terlalu keren.
"Fan, kenapa sih lo ngga terima aja tawaran Eyang buat kerja di perusahaan Eyang?"
"Saya sudah punya pekerjaan dan saya sudah cukup puas dengan pekerjaan yang saya miliki."
"Plis deh, apa hebatnya sih jadi polisi hutan? Kalau lo mau, Eyang bisa jadiin lo orang nomor satu di kantor polisi pusat. Tinggal bilang aja."
"Ta, saya mendapatkan pekerjaan saya melalui proses seleksi yang adil dan berdasarkan kemampuan saya sendiri. Dan saya sangat bangga dengan itu. Soal kenapa polisi hutan, itu karena saya sangat senang dekat dengan alam terbuka. Saya ingin memelihara dan melindungi hutan agar tidak lagi terjadi longsor atau bencana alam lain yang bisa merenggut banyak nyawa. Dengan menjadi polisi hutan saya bisa menjaga keamanan hutan yang sangat penting bagi hajat hidup orang banyak. Selain itu, saya tidak perlu sibuk mencari muka karena saya bekerja jauh di dalam hutan. Tidak menarik banyak perhatian dan tidak banyak berurusan dengan keramaian."
"Sumpah gue ngga ngerti kenapa di era sosmed kaya gini masih ada aja orang yang ngga suka perhatian dan keramaian. Situ sehat?"
"Kadang tidak dikenal dan tidak menarik perhatian itu jauh lebih menyenangkan dan menenangkan."
"Gue yakin cuma lo orang yang berfikir seperti itu. Popularitas membuat pundi-pundi rupiah lo makin deras mengalir jadi lo ngga perlu lagi pusing mikirin cicilan kartu kredit lo."
"Uhuk. Uhuk..." Nafan tiba-tiba saja tersedak padahal tidak sedang minum. Ia merasa cukup tersindir dengan perkataan Erlita barusan.
__ADS_1
***
Malam itu, mereka menemukan sebuah reservasi atas nama Bramantyo, Paman Erlita yang juga adalah Ayah Jihan. Namun sampai malam hari tak seorangpun datang untuk check in. Erlita sengaja menunggu di restoran yang ada di lobi karena penasaran dengan siapa pamannya itu akan datang.
Sekitar pukul sembilan malam, seorang wanita seusia neneknya datang untuk check in di kamar yang dipesan Bram. Sekitar hampir satu jam kemudian seorang pria datang ke kamar yang sama. Postur tubuhnya tegap dan gagah. Erlita yakin itu bukan Bram, pamannya.
Karena penasaran, Erlita mengajak Nafan untuk mengikuti pria itu. Dari cara berjalannya Erlita seperti mengenal pria itu. Ketika berdiri di depan pintu, pria itu membuka topi jaketnya. Betapa kagetnya Erlita mengetahui bahwa pria itu adalah Johan, kakak sepupunya.
***
Bahan penelitian Erlita sudah terpenuhi dan penulisan skripsi juga sudah hampir rampung. Ia hanya perlu menunggu sebentar lagi sampai skripsinya disetujui lalu diujikan dalam sebuah sidang. Karena fokus menyelesaikan skripsi Erlita jadi jarang keluar rumah. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar untuk membaca buku dan menyelesaikan skripsi.
Ketika tiba di bagian pengolahan data ia merasa sedikit kesulitan. Jadi ia memutuskan untuk meminta bantuan Johan. Ia membawa beberapa camilan ke kamar Johan. Seperti yang sudah-sudah, Johan selalu menyambut Erlita dengan baik di kamarnya.
Kamar Johan tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan kamarnya dan Jihan. Desain interiornya juga sangat minimalis. Ada dua buah ranjang (Twin bed), sebuah meja belajar dengan dua layar komputer berukuran besar, kursi yang nyaman, cool box, dan dua lemari berisi pakaian dan perkakas komputer milik Johan.
“Ngapain lo? Tumben kesini?” tanya Johan to the point.
Seperti biasa, Erlita akan langsung tidur di ranjang favoritnya yang terletak di atas meja komputer Johan. “Kangen aja. Dah lama banget gua ngga kesini.”
Johan malas menanggapi alasan yang sangat dibuat-buat itu.
Erlita nyengir, “Iya, iya. Gue kesini mau minta tolong kak. Gue lagi ngerjain skripsi dan gue kesulitan ngolah datanya. Tolongin gue kak. Plis...”
__ADS_1
Johan menjulurkan tangannya tanpa menjawab.
Erlita lalu menyerahkan data dan skripsinya kepada Johan. Sementara menunggu Johan beraksi Erlita ketiduran di ranjang Johan.
“Ta! Bangun! Ni dah selesai.”
“Hah?! Beneran? Cepet banget kak?”
“Cepet apaan? Lo nya aja yang kelamaan molor.”
Lagi-lagi Erlita hanya bisa nyengir. “Makasih ya kak. Lo emang debes deh...”
“Kak, lo janji yah sama gue. Lo bakal dateng ke sidang skripsi dan wisuda gue.”
“Ngapain? Kan dah ada suami lo?”
“ Ya sih, tapi kaya udah jadi kebiasaan aja gitu kak. Selalu lo yang nemenin gue ngambil raport, dipanggil guru BP, nemenin gue pentas pas SMP. Pokoknya lo tuh selalu ada di setiap fase penting hidup gue. Yah meskipun lo cuma dateng dan ngga ngomong apa-apa. Tapi sumpah gue seneng dan makasih banget sama elo kak. Gue bersyukur banget punya kakak sepupu kaya elo.”
Johan tetap asyik bermain dengan komputernya. Ia sama sekali tidak menggubris gombalan Erlita.
“Ya dah, gue balik dulu ya kak. Kalo lo butuh apa-apa, lo bisa hubungi gue.”
Akhirnya Johan bisa tersenyum mengingat kembali perkataan dan tingkah lucu adik sepupunya itu. Ia lalu mengirim sebuah pesan singkat kepada Erlita.
__ADS_1
“Bakso Gajahmada, komplit tambah pentol besar, sayur banyak, saos sambal dipisah.”
Erlita tertawa menbaca pesan singkat dari Johan. Ia hafal betul selera baksa favorit kakak sepupunya itu. Tiba-tiba saja ia juga merindukan bakso legendaris itu.