
Setelah transit dan pindah kereta di stasiun Surabaya, mereka akhirnya tiba di Banyuwangi. Rupanya seseorang sudah menjemput mereka disana.
Nafan langsung menjabat tangan seorang pria yang sedang menunggu mereka di pintu keluar penumpang.
"Bro, makasih banget kamu mau jemput kita. Lihat sendiri kan barang bawaannya sebanyak ini."
"Santai Bro, motormu masih dirumah, besok aja kamu ambilnya."
"Ta, kenalin ini Faris, teman saya yang kebetulan rumahnya di dekat sini. Saya biasanya nitip motor disana kalau mau pergi-pergi."
Erlita menjabat tangan Faris, "Erlita."
***
Mereka menempuh perjalanan dengan mobil sekitar setengah jam melewati kawasan hutan memasuki sebuah pedesaan yang sepi dan jauh dari kata mewah.
"Mas, tadi katanya rumah Nafan deket dari stasiun?" Tanya Erlita khawatir karena ia merasa semakin jauh masuk ke pelosok. "Masnya ngga salah jalan kan?"
"Ini termasuk dekat mbak, ngga sampai setengah jam. Kalau dari bandara malah lebih lama lagi. Kalau lancar bisa sejaman. Itupun jarang ada taksi yang mau nganter ke daerah sini."
Sekarang Erlita tahu kenapa Nafan menolak untuk naik pesawat. Ia merasa sedikit tidak enak karena mengira Nafan perhitungan dan kurang uang untuk beli tiket.
Mereka berhenti pada salah satu dari tiga rumah yang berjajar menghadap ke selatan. Disitulah rumah dinas yang biasanya Nafan tempati. Ia menempati rumah paling kanan. Sedangkan yang tengah ditempati keluarga Pak Ramlan, senior Nafan. Dan yang paling ujung kiri baru kosong karena penghuni sebelumnya dimutasi ke Kalimantan sebulan yang lalu.
Faris langsung pergi setelah menurunkan Nafan dan Erlita bersama barang-barang mereka. Erlita terbengong melihat rumah yang hanya berukuran lima kali sepuluh meter, dengan struktur bangunan yang jauh dari kata kokoh dan aman. Temboknya terlibat kusam dan kotor, rangka atapnya terlihat lapuk dan lantainya ubin hitam tanpa keramik. Erlita bahkan membayangkan akan pernah bisa melepaskan sandal dan sepatunya ketika berada di dalam rumah karena jijik.
"Ta, ayo masuk! Kamu mau berdiri disitu terus?"
Erlita tidak yakin untuk masuk ke dalam rumah yang lebih mirip gudang kumuh itu. Kotor, lawas dan tak terawat. Ia berfikir untuk kembali ke kota untuk mencari penginapan. Ia benar-benar tidak sanggup tinggal di rumah itu.
__ADS_1
"Fan, bisa ngga tolong lo telpon Faris sekarang? Gue mau ikut dia balik ke kota. Gue ngga bisa tinggal di tempat seperti ini."
Nafan duduk di salah satu kursi yang ada di terasnya lalu mencoba menghubungi Faris.
"Ngga diangkat, Ta. Kayaknya sudah jauh dia. Ngga bakal mau balik lagi."
"Kalau gitu, bisa ngga lo cariin gue hotel atau penginapan di dekat sini?"
"Ada sih, Ta. Sekitar sepuluh kilo dari sini. Kalo jalan kaki sih lumayan."
"Jalan kaki?! Lo ngga punya kendaraaan?"
"Kan tadi saya sudah bilang, motor saya ada di rumah Faris. Besok baru mau diambil."
Erlita menepok jidatnya sendiri. Ingin rasanya ia mati saja. Tapi ia yakin peristiwa itu akan sangat mengenaskan mengingat tidak akan ada seorangpun yang menemukan jasadnya ditengah pelosok seperti itu.
Meskipun enggan, Erlita terpaksa mengikuti Nafan masuk ke dalam rumah. Karena rumah yang paling kiri terlihat menyeramkan.
Erlita tidak menyangka bahwa meskipun kecil dan terlihat kumuh dari luar, bagian dalam rumah Nafan terlihat bersih, rapi dan nyaman. Terutama bagian kamar utama yang berukuran sekitar tiga kali empat meter.
Terdapat sebuah ranjang berukuran single dengan sprei dan sepasang bantal guling yang tertata rapi, sebuah meja dengan deretan buku yang juga tertata sangat rapi, jendela menghadap ke teras rumah, dan lemari kayu berukuran kecil. Lantainya diberi karpet jadi terlihat lebih bersih dan nyaman.
Nafan sangat pandai menata rumahnya. Meskipun tidak ada perabot mewah disana, tapi setiap sudut rumah tertata rapi dan terlihat bersih dan nyaman. Erlita kembali melihat sekeliling. Tidak ada foto sama sekali di dinding, tidak ada ac dan tidak ada kamar mandi.
"Fan, ni rumah beneran ngga ada kamar mandinya?"
"Adalah, kalo ngga ada saya mandi dimana?"
Nafan mengajak Erlita melihat kamar mandinya yang ternyata ada di belakang rumah, tepatnya di belakang bagian luar rumah.
__ADS_1
"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!!"
*****
Erlita tak mau melepas sepatunya meski berada di dalam rumah dan Nafan tidak mempermasalahkannya karena ia tahu betul bagaimana kondisi lantai marmer di rumah Erlita. Ia hanya mau melepas ketika masuk kamar Nafan karena ada karpet di bawahnya.
Erlita melihat kamar kedua yang ada di kamar itu. Penuh dengan buku, perabot tak terpakai, lemari dan tidak ada ranjang disana. Kamar itu lebih mirip gudang. Erlita mulai ragu dengan dimana ia akan tidur.
"Fan, jangan bilang kalau kita akan tidur bersama di ranjang kecil itu."
Nafan mengangguk sambil tersenyum.
Erlita semakin frustasi. Ia sudah memikirkan bahwa malam ini ia tidak akan tidur karena tidak bisa tidur dengan ranjang keras dan sempit, bersama Nafan dan tanpa AC. Sungguh penyiksaan yang sempurna.
Erlita mencari-cari tempat kosong di kamar Nafan untuk meletakkan barangnya yang akan dibongkar. Tidak ada celah dilemari Nafan. Lemari kayu kecil itu sudah penuh dengan pakaian Nafan.
Melihat Erlita kesulitan mencari tempat, Nafan mengeluarkan semua pakaiannya, memasukkannya ke dalam kardus lalu memindahkannya di kamar satunya.
"Sekarang kamu bisa gunakan lemari ini, kalau tidak muat, sebagian tetap disimpan di dalam koper saja."
Sekarang Erlita tahu kenapa Nafan melarangnya membawa banyak koper dan kardus. Karena untuk tiga buah koper saja, rumah itu sudah kesulitan menampung. Erlita tidak pernah sekalipun membayangkan dalam hidupnya akan melihat dan merasakan sendiri tinggal di rumah kumuh, sempit dan terpencil seperti itu. Dan ia lebih tidak percaya lagi bahwa neneknyalah yang mengirimnya kesana. Orang yang paling berhati-hati dan penuh kemewahan dalam menjaganya dan membesarkannya.
"Fan, temenin gue ke kamar mandi. Dan ingat jangan tinggalin gue sampai gue kelar mandi! Awas lo!"
Nafan dengan sabar menuruti perintah istri bossy-nya itu.
Kamar mandi Nafan juga cukup nyaman dan bersih meskipun terbilang sempit. Selama mandi, Erlita berkali-kali memanggil nama Nafan karena takut ditinggal sendirian. Nafan sudah menyiapkan sandal jepit di depan kamar mandi untuk digunakan Erlita setelah keluar dari kamar mandi. Ia tidak tega melihat gadis itu kelelahan karena harus memakai hak tinggi terus selama di rumahnya.
Itu adalah kali pertama Erlita mengenakan sandal jepit dan ternyata rasanya nyaman juga. Jadi ia memutuskan untuk terus memakainya selama berada di rumah Nafan.
__ADS_1