Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 25


__ADS_3

“Jakarta?!”


Nafan segera masuk dan mengecek kamarnya.


Salah satu koper Erlita tidak ada disana. Semua uang dibawa dan ia hanya meninggalkan sebuah memo bahwa ia harus segera pulang ke Jakarta karena ada urusan penting, di atas meja.


Nafan benar-benar kecewa. Setelah apa yang dilakukannya untuk gadis itu, ia ditinggalkan begitu saja tanpa pamit. Bahkan semua uang yang susah payah didapatkannya dengan menggadaikan harga diri justru dipergunakan Erlita untuk meninggalkannya begitu saja.


Nafan merasa dirinya sangat buruk dan tidak layak untuk mampu membuat Erlita bertahan di sampingnya. Ia merasa gagal menjadi seorang laki-laki, suami dan pemimpin untuk Erlita.


Malam itu, Nafan merasa sangat kesepian. Meskipun ia sudah cukup lama tinggal sendiri di rumah itu, tapi kehadiran Erlita membawa suasana berbeda dalam hidup Nafan.


Meskipun sering direpotkan karena harus berkali-kali mengepel lantai saat Erlita bolak-balik berjalan dengan sandal kotornya, atau harus bangun pagi untuk memasak atau terpaksa tidur di sofa karena Erlita ngambek. Semua itu terasa sangat menyenangkan baginya.


Nafan merasa tidak ingin lagi hidup sendiri seperti dulu. Untuk pertama kalinya ia memiliki sesuatu untuk dijaga dan dipertahankan, meskipun pada akhirnya ia akan tetap kehilangan dan ditinggalkan. Ia sangat merindukan istrinya itu.


***


Hanya butuh dua jam bagi Erlita untuk kembali ke Jakata. Ia sedang dalam perjalanan dari bandara menuju rumahnya. Ia sengaja naik taksi online karena ia tidak bisa menghubungi siapapun di rumahnya untuk menjemputnya ke bandara.


Erlita berhenti di depan gerbangnya. Setelah memencet bel dan menunggu cukup lama di depan gerbang, seorang security datang untuk membuka pagar. Sepertinya itu adalah petugas security baru karena Erlita belum pernah melihatnya sebelumnya.


“Anda siapa?” tanya security baru itu.


Erlita cukup kesal karena baru kali itulah ada pekerja di rumahnya yang tidak mengenalinya.


“Saya pemilik rumah ini.” Erlita hendak masuk tapi si petugas kemanan menghentikannya.


“Maaf, Nona. Tapi Tuan Bram tidak mengijinkan saya membawa siapapun masuk tanpa persetujuan beliau.”


“Apa kau sudah bosan kerja?!” Hardik Erlita kesal. “Bilang sama Om Bram, Erlita ada disini!”


Petugas keamanan itu segera menghubungi Bram.”Maaf, Nona. Tuan tidak mengijinkan anda masuk.”


Wah, ini benar-benar keterlaluan namanya. Bagaimana mungkin, Nona pemilik rumah tidak diijinkan untuk masuk ke rumahnya sendiri. Tidak masuk akal.


“Oke, Kalau begitu sampaikan pada Eyang Pratiwi bahwa Erlita datang!”

__ADS_1


“Maaf, Nona, tapi Nyonya Pratiwi sedang dirawat di rumah sakit. Jadi –“


“Apa?! Rumah sakit? Rumah sakit mana???”


***


Erlita berlari menyusuri lorong rumah sakit. Ia tidak percaya bahwa tidak seorangpun yang memberitahunya bahwa neneknya sedang sakit parah dan dirawat di rumah sakit. Ia hampir gila karena takut tidak sempat bertemu neneknya sebelum meninggal. Erlita menangis sampai lupa bahwa ia meninggalkan kopernya di depan rumah sakit.


Perawat menunjukkan kamar tempat neneknya dirawat. Erlita melihat alat bantu nafas dan banyak selang lain terpasang di tubuh neneknya.


“Yang, Eyang bangun. Ini Lita, Yang. Cucu Eyang sudah datang.” Erlita masih sesenggukan menahan tangisnya.


Pratiwi segera membuka matanya, senang mendengar suara yang sudah lama dirindukannya akhirnya datang juga.


“Yang, Eyang denger Lita?!” Erlita senang neneknya sadar.


“Jangan sedih, Eyang cuma ketiduran. Istirahat sebentar.”


“Yang, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Eyang bisa sampai dirawat disini? Kenapa ngga panggil dokter dan suster ke rumah seperti biasanya? Alat-alat kesehatan yang Eyang butuhkan di rumah masih bisa terpakai semua kan, Yang?”


Pratiwi mengangguk, “Bram yang ingin Eyang seperti ini.”


Pratiwi kembali mengangguk. “Ta, tolong cari cara supaya Eyang bisa segera ikut kamu ke Banyuwangi.”


“Apa?! Tapi Yang. Itu ngga mungkin. Lita pulang karena tidak tahan dengan keadaan disana. Bagaimana mungkin Lita ajak Eyang kembali ke tempat seperti itu? Lita yakin Eyang juga ngga bakal betah.”


“Tolong, Ta..”


Erlita memikirkan baik-baik permintaan neneknya itu. Enggan rasanya ia kembali ke tempat kumuh dan terpencil itu, tapi bagaimana ia harus membujuk neneknya untuk mengurungkan niatnya pergi ke sana.


***


Sudah beberapa hari Erlita menginap di rumah sakit untuk merawat neneknya. Entah kenapa ia selalu teringat Nafan yang selalu meyiapkan sarapan dan makan malam untuknya, mengajaknya pergi ke kota dengan motornya dan yang akan memeluknya ketika sedang mengalami kecemasan seperti saat itu.


Ia merindukan pria yang tidak memiliki banyak uang itu. Ia merindukan bertengkar dengan Nafan karena harus berebut listrik untuk menyalakan AC, atau membuat Nafan marah karena harus berkali-kali mengepel lantai. Ia merindukan hal-hal yang dulu sangat dibencinya.


Erlita sudah memutuskan untuk kembali ke Banyuwangi bersama neneknya. Ia hanya perlu berbicara dengan pamannya agar diijinkan membawa neneknya pergi dari sana.

__ADS_1


Keesokan harinya, Erlita bertemu dengan Bram yang kebetulan lewat dan mampir ke rumah sakit untuk menengok sang ibu.


“Om, Lita mau bicara sama Om.”


Mereka duduk bersebelahan di kursi tunggu di depan kamar tempat Pratiwi dirawat.


“Om, Lita mau minta ijin sama Om untuk bawa Eyang ke Banyuwangi. Lita pengen ngerawat Eyang disana.”


“Ngga. Om ngga akan ijinin. Akan sangat berbahaya bagi Eyang kalau harus menempuh perjalanan sejauh itu dengan kondisi seperti sekarang.”


“Tapi Om, Lita sudah konsultasi sama dokter dan kata mereka tidak masalah untuk merujuk Eyang ke Rumah Sakit Umum Daerah di Banyuwangi.”


“Ta, Om sudah bilang ngga. Jadi itu artinya ngga.” Bram pergi meninggalkan Erlita.


Sebenarnya bukan soal kesehatan Pratiwi yang Bram pertimbangkan, tapi lebih pada khawatir bahwa Erlita akan mempengaruhi neneknya untuk mengambil alih kekuasaan milik Bram.


***


Siang itu Nafan sedang berkebun di samping rumahnya untuk mengalihkan rasa rindunya kepada Erlita yang semakin menggebu-gebu. Ia yakin bahwa kesibukan akan berhasil mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang di luar nalar. Jadi untuk mengisi hari liburnya itu, sejak pagi Nafan berolahraga, membersihkan rumah kemudian berkebun.


Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Sosok pria jangkung berkacamata, yang sudah sangat dikenalnya, turun dari mobil dan bergegas menghampirinya.


“Mas, tolong ikut saya pulang. Tuan sakit parah.”


Nafan tidak bergeming. Ia tetap saja asyik melanjutkan berkebunnya seakan Alan tidak ada disana.


“Mas, tolong dengarkan saya, Mas.”


Nafan menatap Alan dengan seksama. Ia tahu Alan pasti sangat lelah berkendara sendiri dari Jogja ke Banyuwangi. Ia lalu masuk dan membuatkan minuman untuk Alan.


“Lan, untuk apa kamu melakukan hal-hal sulit yang tidak akan membuahkan hasil?”


“Tapi Mas, kali ini saya tidak berbohong. Tuan memang sakit dan sekarang sedang di rawat di ICU rumah sakit.” Alan menunjukkan beberapa foto pasien tengah di rawat di ruang ICU.


Nafan tersenyum, “Apa kalian tidak capek bermain sandiwara?”


Alan tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan Nafan. Ia menelepon nomor telepon rumah sakit tempat Tuannya di rawat lalu meminta disambungkan kepada dokter yang bertanggung jawab. Ia kemudian memberikan ponselnya kepada Nafan.

__ADS_1


Dokter menjelaskan tentang kondisi pasien yang sedang ditanganinya itu. Nafan mendengarkan dengan seksama sampai ia yakin bahwa apa yang dikatakan Alan bukan sebuah rekayasa seperti yang sudah-sudah.


Nafan bergegas mandi, berganti baju lalu mengemas barang-barang pribadinya dan ikut ke Jogja bersama Alan.


__ADS_2