Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 61


__ADS_3

Pesta ulang tahun ke sembilan Alfa tiba. Erlita sudah menyulap lobi rumahnya menjadi tempat pesta yang sangat mewah dan meriah. Karena Erlita yang memilih semuanya, maka pesta ulang tahun itu jadi lebih mirip pesta pernikahan.


Erlita memasang panggung dengan latar belakang penuh dekorasi mewah dengan sebuah singgasana tunggal yang dibuatnya secara khusus untuk tempat Alfa duduk. Ia juga memesan katering termahal di kotanya.


Dan bukannya mendatangkan badut ulang tahun seperti layaknya pesta anak-anak, Erlita justru mengundang penyanyi terkenal dan group band yang tengah banyak digandrungi saat itu untuk menjadi bintang tamu.


Meskipun Erlita juga menyiapkan sebuah play ground besar dan lengkap di halaman samping, tapi kebanyakan tamu yang datang adalah orang-orang dewasa.


Ternyata tamu undangan Erlita lebih banyak daripada teman-teman sekolah dan bermain Alfa. Tapi seperti itulah Erlita. Ia selalu menjadikan dirinya pusat perhatian dunia. Jadi ia seringkali lupa bahwa ia sedang mempersiapkan pesta untuk seorang anak kecil berusia sembilan tahun.


Hari itu, semua keluarga besar Susbihardayan datang untuk memberikan ucapan selamat kepada Alfa, termasuk Rania dan Kenny yang baru saja melalui masa-masa sulit akibat kembali kehilangan jabang bayi dalam kandungan Rania. Mereka memberikan sebuah ponsel keluaran terbaru sebagai hadiah.


Bram dan Farah juga terlihat hadir dan memberikan sebuah motor mini untuk Alfa. Sementara Johan dan Sisil memberikan sepatu sekolah brand luar negeri edisi terbatas. Sangat sulit untuk mendapatkan sepatu dengan ukuran kaki Alfa yang terbilang masih kecil. Tapi toh mereka berhasil mendapatkannya.


Jihan dan Dean juga tidak mau kalah. Mereka memberikan jam tangan bermerk dengan harga cukup fantastis untuk ukuran anak sekolah dasar. Sedangkan Sania justru memberikan lima lembar voucher makan gratis di sebuah restoran cepat saji.


“Kau bisa mengajak teman dekatmu untuk makan sepuasnya kapanpun kau mau.” Ujar Sania


“Terima kasih, Oma. Ini hadiah terbaik untuk Alfa.”


Dengan voucher makan itu, Alfa bisa mentraktir teman-temannya tanpa harus meminta persetujuan mamanya yang berujung pada aksi pengintaian karena Erlita akan ikut serta dan mengawasi gerak-gerik mereka seperti tawanan.


***


Pesta dimulai dan berbagai acara telah Erlita susun dengan baik dan rapi. Para tamu undangan dimanjakan dengan aneka sajian lezat dan aksi bintang tamu yang luar biasa.

__ADS_1


Alfa senang karena hampir semua teman yang diundangnya hadir dalam pesta ulang tahunnya kali itu, tak terkecuali Electa. Gadis kecil itu terlihat sangat senang bisa bertemu dengan banyak orang. Alfa mengajaknya dan memperkenalkannya dengan teman-teman sekolah Alfa.


Karena semua anak bermain di play ground, Electa pun tidak mau ketinggalan. Ia terlihat sangat senang bermain bebas seperti malam itu. dan Alfa dengan telaten menjaga Electa agar tidak sampai terjatuh.


Saat itu, ada beberapa teman dekat Alfa yang baru saja datang dan mengajaknya ngobrol ketika Electa meminta ijin Alfa untuk kembali ke lobi menemui mamanya.


“Kak, aku mau ke mama dulu ya?”


Karena masih asyik mengobrol dengan teman-temannya, Alfa membiarkan Electa pergi ke lobi sendirian. Lagipula jarak antara play ground dan lobi tidak terlalu jauh. Alfa lupa bahwa untuk sampai ke lobi, maka Electa harus melewati jalanan licin di dekat kolam renang.


Ketika ingat, Alfa langsung bergegas menyusul Electa, tapi terlambat. Apa yang ditakutkannya benar terjadi. Gadis tujuh tahun itu terpeleset lalu jatuh ke dalam kolam. Alfa berlari sekencang mungkin untuk mencegahnya tapi sia-sia. Tubuh Electa sudah tercebur ke dalam kolam.


Dan yang lebih parahnya lagi, sesaat sebelum tercebur, kaki Electa terkena pinggiran kolam dan terluka. Seketika kolam renang itu berubah warna menjadi merah. Nafan yang kebetulan sedang ngobrol dengan Bram di dekat kolam langsung menceburkan diri ke kolam untuk menolong Electa.


Gadis itu tidak sadarkan diri dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Seketika itu juga pesta yang tadinya berjalan sangat meriah tiba-tiba saja berubah menjadi kepanikan dan petaka yang tidak akan pernah bisa Alfa lupakan seumur hidup.


***


Jihan mulai panik dan khawatir, begitu juga dengan Erlita dan Alfa. Sejak kejadian itu, Alfa tidak mengatakan sepatah katapun. Sepertinya bocah itu cukup syok melihat kejadian yang menimpa Electa. Dan ia sedikit menyesal karena gagal menyelamatkan sepupu kecilnya itu.


“Gimana keadaan anak saya, Dok?”


“Setelah melakukan pemindaian MRI, kami menemukan adanya pendarahan di otak. Sepertinya kepala pasien sempat terbentur saat jatuh.”


“Lalu bagaimana, Dok? Apa anak saya akan dioperasi?” Jihan terdengar sangat putus asa.

__ADS_1


“Kita harus menunggu sampai kondisi pasien stabil untuk bisa melakukan operasi besar. Karena operasi pada penderita hemofilia sangat beresiko.”


Jihan menangis histeris. Ia tidak menyangka hari seperti itu akan tiba juga padahal selama ini ia selalu berusaha untuk menjaga Electa dengan super duper ekstra hati-hati.


“Dokter! Pasien VVIP 1 mengalami kejang.” Seorang perawat tiba-tiba saja datang dan mengabarkan kondisi Electa yang kian memburuk.


Dokter melakukan berbagai upaya penyelamatan terhadap Electa tapi sia-sia. Gadis malang itu akhirnya harus menyerah dan menghembuskan nafas terakhirnya pada hari ulang tahun Alfa.


***


Kepergian Electa yang sangat tiba-tiba itu membawa luka yang sangat mendalam bagi keluarga Susbihardayan. Jihan mengalami depresi berat karena kehilangan Electa.


Sementara Alfa berubah seratus delapa puluh derajat. Alfa menjadi sangat dingin dan pendiam karena ia terus saja menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Electa.


Nafan dan Erlita sudah berusaha menjelaskan bahwa kematian Electa sama sekali bukan salahnya, tapi Alfa sama sekali tidak menggubris. Ia jadi lebih banyak mengurung diri di kamar dan menghindari keramaian.


Beberapa minggu kemudian, Erlita mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung calon anak keduanya. Nafan sangat senang mendengarnya. Tapi sepertinya tidak demikian dengan Alfa. Ia sama sekali tidak tertarik untuk memiliki adik lagi.


Bahkan sampai adiknya lahirpun, Alfa tidak pernah sedikitpun menunjukkan ketertarikannya. Ia terlihat enggan berdekatan dengan adik lelakinya yang diberi nama Arkana Cokrokusumo itu.


Erlita sering mencoba meminta bantuan Alfa untuk menjaga adiknya demi bisa membuka kembali hati Alfa yang membeku tapi sia-sia. Semakin dipaksa, semakin Alfa menghindar.


Alfa tidak pernah mau hadir di perayaan ulang tahun adiknya. Juga tidak mau lagi ulang tahunnya dirayakan. Ia juga selalu menolak untuk hadir di acara keluarga yang mengharuskannya berdekatan dengan adik laki-lakinya itu.


Sampai Arkana sekolahpun, Alfa selalu menolak untuk pulang dan pergi bersama dalam satu mobil dengan adiknya. Mereka tidak pernah bermain bersama dan lebih terlihat seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Sejahil apapun Arkana menggoda dan mendekati kakaknya, Alfa akan tetap bergeming dan malah meninggalkan Arkana jika merasa terdesak.

__ADS_1


Erlita dan Nafan merasa sangat sedih dengan keadaan kedua putranya. Mereka berusaha mengajak Alfa untuk berkonsultasi kepada psikiater tapi bocah itu selalu saja menolak karena enggan dianggap gila sampai harus berkonsultasi kepada psikiater.


__ADS_2