Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 64


__ADS_3

Nafan membaca hasil laporan yang dikumpulkan dan ditulis Alfa dengan sangat rapi. Nafan senang karena akhirnya menemukan minat dan bakat putra sulungnya itu.


Tapi tidak dapat dipungkiri, ia juga merasa sedikit kecewa karena putra sulung yang diharapkannya dapat menjadi penerus dan pewaris Susbihardayan dan Kusumo Group justru memiliki arah yang berbeda.


Hari itu, Erlita melihat laporan yang ditulis Alfa tergeletak di atas meja kerja Nafan. Ia membacanya dengan seksama dan tidak percaya dengan apa yang baru saja diketahuinya.


“Pa! Apa maksud kamu nyuruh Alfa ngelakuin ini semua? Bagaimana mungkin kamu membiarkan anak-anak tahu soal permasalaha seperti ini?” Erlita langsung mencerca Nafan yang baru keluar dari kamar mandi dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Nafan mengambil laporan dari tangan Erlita. “Karena aku lebih bisa mempercayai mereka daripada pengacara atau detektif manapun.”


“Tapi ini konyol, Pa! Mereka tidak sepantasnya tahu skandal memalukan kakek nenek mereka seperti ini.”


“Sayang, percayalah. Lebih baik mengetahui kebenarannya daripada kita salah bersikap dan mendendam. Anak-anak itu sudah dewasa dan mereka tahu betul bagaimana harus bersikap terhadap permasalahan keluarga seperti ini.”


“Pa! Aku ngga mau kamu membuat Alfa semakin yakin bahwa ia memang harus menjadi pengacara. Ngga boleh! Dia harus menjadi pengusaha menggantikan kita!”


Nafan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, “Kita hanya bisa mengarahkan dia. Tapi kita harus sadar bahwa dia memiliki jalannya sendiri. Dia pasti tidak akan suka dipaksa menjadi apa yang tidak dia inginkan sama seperti aku yang ngga suka dipaksa kakek menjadi pewaris tunggalnya dulu.”


“Pa, kamu dan Alfa berbeda! Dan aku ngga mau tahu, kamu harus bisa ngeyakinin Alfa bahwa menjadi penerus Susbihardayan dan Kusumo Group adalah takdirnya dan dia tidak punya pilihan lain selain menerimanya!”


Belum sempat Nafan memberi jawaban, Erlita sudah pergi meninggalkan Nafan di kamarnya.


Nafan merasa bahwa karma sedang menghampirinya. Dulu ia mati-matian menentang keinginan kakeknya sampai harus melarikan diri untuk kuliah di Surabaya. Dan sekarang ia harus mati-matian memaksa putranya dengan alasan yang sama.


Jauh di lubuk hatinya, ia tidak ingin kehilangan Alfa seperti kakeknya kehilangan dirinya dulu. Tapi apa yang Erlita inginkan tidak sepenuhnya salah.


Alfa memiliki tanggung jawab besar di pundaknya. Puluhan ribu orang menggantungkan kehidupan dan penghasilan mereka pada perusahaan keluarga Alfa. Dan ia harus memastikan bahwa perusahaan bisa terus berjalan dan bertahan demi kelangsunga hidup orang-orang itu.


****


Balada memiliki anak remaja juga dialami pasangan Erlita dan Nafan. Saat itu Alfa tengah berada di bangku kelas dua SMP. Anak laki-laki yang biasanya tampil cuek dan apa adanya itu tiba-tiba saja berubah. Ia selalu terlihat rapi saat pergi ke sekolah.


Tatanan rambut yang tadinya jabrik tidak karuan tiba-tiba saja dirubah menjadi lebih rapi dan menawan.

__ADS_1


Erlita sangat penasaran dengan perubahan sikap putra sulungnya itu. Karenanya ia berusaha mencari tahu melalui guru dan teman-teman dekat Alfa.


“Ma, udah dong.. Alfa sudah gede. Kasih dia kebebasan menikmati masa remajanya!”


“Mama tahu, Pa. Tapi kita harus tahu dengan siapa dia berhubungan. Mama ngga mau dia salah pilih pergaulan.”


“Ma, plis, ini Cuma cinta monyet. Biarkan Alfa merasakan pengalaman yang mungkin bisa ia tertawakan suatu hari kelak. Ayolah! Jangan terlalu berlebihan! Dia anak laki-laki. Jika kita terlalu mengekangnya, ia akan lari meninggalkan kita.”


“Sekarang Mama tanya, apa Papa tahu siapa cewek yang sedang Alfa taksir?”


***


Meca, anak seorang kepala serikat buruh yang sering membuat keributan di perusahaan Nafan adalah gadis yang sedang digandrungi habis-habisan oleh Alfa.


Sejak bertemu Meca dalam sebuah acara diklat kepemimpinan di sekolahnya, Alfa memutuskan untuk menyukai gadis berkaca mata itu.


Di mata Alfa, Meca adalah seorang gadis periang yang sangat dewasa, tegas dan berwibawa. Ia sangat berkarakter dan tahu betul apa yang diinginkannya. Tidak heran jika Meca terpilih menjadi salah satu ketua Osis perempuan di sekolahnya, mengalahkan dua kandidat siswa laki-laki, Rudi dan Bryan.


Dan kebetulan juga, Meca adalah teman sekelas Handoyo, jadi ia banyak mendapatkan bocoran informasi tentang gadis itu dari kakak sepupunya itu.


“Al, harus banget Meca ya? Dia itu kaya ngga tertarik sama cowok gitu. Lagian ya, menurut gue Meca itu sombong dan terlalu pilih-pilih teman.”


“Kayanya kali ini lo salah nilai orang deh, Han.”


“Al, semua orang tahu kalau Meca emang kaya gitu anaknya. Kenapa sih lo ngga cari cewek sepantaran lo atau adek kelas aja?”


“Gue belum pernah ngerasa tertarik sama cewek seperti gue tertarik sama Meca, Han.”


“Serah lo aja deh..”


Dan atas nama persaudaraan, Handoyo akhirnya membantu menjodohkan keduanya. Mereka berpacaran sekitar satu tahunan lalu mulai jarang bertemu saat Meca masuk SMA.


Suatu hari, Alfa yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP berniat memberi kejutan di hari ulang tahun Meca dengan datang ke rumahnya tanpa memberi tahu lebih dulu.

__ADS_1


Ternyata Meca sedang mengadakan sebuah pesta di rumahnya. Alfa merasa sedikit kecewa karena Meca tidak mengundangnya. Tapi rasa cinta membutakannya dan membuatnya nekat masuk untuk menjalankan misinya.


Pesta itu begitu meriah, banyak teman sekolah yang diundang Meca termasuk teman-teman lamanya di SMP dulu yang beberapa Alfa kenal juga. Saat itu adalah saat ketika Meca meniup lilin dan memotong kue ulang tahunnya.


Karena tidak ingin mengganggu, Alfa tetap berdiri di tempatnya dan menunggu Meca menyuapkan potongan kue pertamanya kepada Alfa. Tapi siapa sangka, bahwa apa yang Alfa harapkan benar-benar jauh dari kenyataan.


Meca menyuapkan potongan kue pertamanya kepada pria lain di sebelahnya. Meca bahkan memeluk dan membiarkan pria itu mengecup pipinya. Hal yang selama ini tidak pernah berani Alfa lakukan kepada Meca.


Melihat semua itu, Alfa mulai sadar akan posisinya. Ia bergegas sembunyi di balik tembok agar Meca tidak menyadari keberadaannya.


“Ca, selamat ya.. Lo udah tujuh belas tahun dan punya cowok seganteng dan setajir Leo.”


“Thanks ya?”


“Btw, apa kabar si Alfa?”


“Oh, gitu-gitu aja sih..” jawab Meca enteng


“Emang kalian sudah putus?”


“Gimana ngomongnya yah? Gue nyaris ngga pernah ngerasa pernah pacaran sama Alfa jadi gue juga ngga bisa bilang sudah putus atau engga.”


“Lah, bukannya dulu kalian pacaran?”


“Dia Cuma bilang kalau dia suka gue dan gue ngasih dia kesempatan buat naikin popularitas dan kenyamanan hidup gue. Secara dia anak tajir melintir dan lumayan populer lah..”


“Jadi lo ngga pernah suka sama dia gitu?”


“Gue Cuma anggep dia teman bersenang-senang. Siapa sih yang ngga mau jadi ceweknya pewaris tunggal Kusumo Group ya kan?”


Alfa menjatuhkan kado yang dibawanya lalu melesat secepat kilat meninggalkan rumah Meca yang tiba-tiba saja serasa neraka baginya.


Itu adalah kali pertama ia bisa merasakan cinta kepada orang lain, menemukan kembali rasa ingin melindungi yang selama ini hilang bersama kepergian Electa. Tapi ia baru saja menerima kenyataan bahwa ia dimanfaatkan dan dipermainkan hanya karena ia adalah pewaris Kusumo Group.

__ADS_1


__ADS_2