Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 32


__ADS_3

Lusa adalah hari ulang tahun Erlita yang ke dua puluh tiga dan seminggu kemudian adalah hari peringatan empat tahun pernikahannya dengan Nafan. Tahun lalu mereka menyatukan kedua perayaan itu dengan menggelar pesta sederhana berdua di rumah dinas Nafan.


Meskipun tidak ada kue tart super besar dan lezat langganannya dan tidak ada banyak hadiah mewah yang biasa diterimanya sebagai kado ulang tahun, tahun lalu ia merasa sangat bahagia karena bisa merayakannya bersama dengan orang yang sangat ia cintai.


Erlita kembali tertunduk lesu menerima permintaan undangan pesta dari teman-temannya. Ia membagikan pesan yang sekaligus terhubung langsung dengan sosial medianya, bahwa tahun itu ia tidak akan merayakan pesta ulang tahunnya karena baru saja kehilangan sang nenek beberapa bulan yang lalu.


Rupanya Johan juga membaca postingan adik sepupunya itu. Ia turut merasa prihatin, bagaimanapun juga Erlita yang ia kenal adalah seorang party girl, melewatkan acara penting seperti itu tanpa pesta terlihat tidak seperti Erlita yang ia kenal. Ia kemudian menghubungi Nafan.


***


Keesokan paginya, Erlita seperti sedang di-prank karena tiba-tiba saja banyak komplain yang masuk akibat sebuah isu yang santer beredar di masyarakat yang menyebutkan bahwa bahan pewarna dalam furnitur yang diproduksi oleh perusahaan Erlita mengandung senyawa berbahaya yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan bahkan sampai mengarah pada perusakan fungsi paru-paru dalam jangka panjang.


Erlita segera mengadakan rapat dan mengkonfirmasi bahwa berita itu tidak benar. Dan ada pihak yang secara sengaja ingin menjatuhkan Erlita. Erlita meminta Johan membantunya mencari tahu tentang asal-usul berita bohong itu. Empat jam kemudian, Johan menemukan bahwa isu itu dimulai dari salah seorang pelanggan yang menyatakan sering mengalami sesak nafas saat duduk di kursi yang diproduksi oleh perusahaan Erlita.


Kemudian tanpa mengkonfirmasi, perusahaan saingan Erlita sengaja memanfaatkan isu itu untuk menjatuhkan citra perusahaan Erlita. Erlita segera mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi kebenaran di balik isu negatif yang menerpanya. Ia juga mengatakan bahwa akan membawa permasalahan pencemaran nama baik ini ke jalur hukum agar tidak terulang lagi di kemudian hari.


Erlita mencari banyak informasi tentang kejadian serupa dan ternyata hal semacam itu pernah terjadi sekitar empat tahun yang lalu dan ditangani serta diselesaikan dengan baik oleh seorang pengacara muda bernama Cecilia Judith, SH.MH.


Nama itu seperti tidak asing dan Erlita berusaha keras untuk mengingatnya. Dimana ia pernah mendengar nama itu? Ia sudah berusaha tapi ia sama sekali tidak ingat. Ia akan mencoba mengingat lagi lain kali tapi yang terpenting sekarang ia harus segera pulang dan makan karena ia belum sempat makan sejak pagi gara-gara kekacauan hari itu.


****


Meskipun malam itu adalah jadwalnya makan di luar tapi tiba-tiba saja Erlita berubah pikiran. Alih-alih berhenti di restoran mewah langganannya, ia justru pergi ki gang gajah mada untuk membeli bakso. Ia ingin membelikan Johan banyak bakso sebagai ucapan terima kasihnya karena banyak dibantu hari itu.


Ia memarkir mobilnya di pinggir jalan lalu berjalan kaki memasuki gang gajah mada.


“Pak seperti biasa tiga bungkus.”


Erlita duduk di kursi yang pernah didudukinya bersama Nafan, tiba-tiba saja ia ingat tentang pengacara bernama Cecilia Judith, SH.MH. Wanita yang pernah bertemu dengannya dan Nafan di warung bakso itu. Wanita yang sepertinya kenal baik dengan Nafan. Wanita yang membuatnya nangis sesenggukan karena cemburu.


“Pak, cewek yang kapan hari ketemu saya disini, ngga pernah datang lagi?”

__ADS_1


“Sudah lama ngga kesini, Non. Dua bulan lalu terakhir dia kesini sih katanya mau ke Banyuwangi, mengejar cinta pertamanya. Ngga tau deh beneran apa Cuma bercandaan.”


“Apa?! Banyuwangi? Cinta pertama?”


“Bapak tahu ngga siapa nama cinta pertamanya?”


Si penjual bakso tertawa, “Ya nggalah Non. Mana Bapak tahu? Non ini ada-ada aja.”


***


Erlita membawa tiga bungkus bakso ke kamar Johan.


“Eh ngapain lo kesini? Tumben amat?”


Erlita menyodorkan bakso yang dibawanya.


“Wah tau aja lo kalau gue belum makan.” Johan bergegas mengambil dua mangkok untuk mereka makan bersama.


“Ta, mabok ya lo? Atau mau bunuh diri?”


Erlita sama sekali tidak menggubris perkataan Johan dan terus saja melahap kuah bakso penuh sambal seakan tidak terasa apa-apa.


Johan tidak percaya Erlita tidak merasa pedas dan terbakar di dalam mulutnya. Sekarang ia benar-benar khawatir dengan keadaan Erlita.


“Ta, lo kenapa? Mulut lo aman-aman aja?”


Seketika tangis Erlita pecah. Ia bergegas mencari air minum karena merasa kepedesan dan mulutnya terbakar oleh kuah cabenya.


“Jadi, lo nangis karena kepedesan?” tanya Johan sekedar memastikan


Erlita mengangguk, “Gue benci sama Nafan!”

__ADS_1


Ia lalu kembali melahap baksonya seakan-akan hendak melahap kepala seseorang.


“Emang Nafan kenapa Ta?”


“Gue berusaha sekuat tenaga bertahan sendirian disini, sementara dia enak-enakan disana sama mantannya, cinta pertamanya.” Tangis Erlita kian menjadi-jadi


“Emang lo tahu darimana?”


“Cewek itu, mantannya Nafan bilang ke abang bakso kalau dia mau ke Banyuwangi buat ngejar cinta pertamanya.”


Sontak Johan tertawa terpingkal-pingkal. “Erlita..Erlita, lo kira orang di Banyuwangi Cuma Nafan doang?”


“lo ngga tahu sih kak. Pas gue kesana beliin bakso pesenan lo kapan hari, gue sama Nafan ketemu ma tu cewek. Mereka ternyata saling kenal dan akrab banget dan parahnya lagi cewek itu pengacara sementara gue kuliah aja belum kelar.”


“kalau gitu, Nafan cowok yang beruntung. Putus dari cewek ribet kaya elo, dia langsung dapet pengacara cantik yang malah bela-belain ngejar dia sampe kesana. Nah elo, yang udah diajak kesana eh, malah balik lagi kesini dan ninggalin dia sendirian. Ckckckck...”


Erlita makin marah, “Udah ah, kak. Males gue ngomong sama elo!”


Erlita langsung naik ke salah satu ranjang favoritnya di kamar Johan dan berpura-pura tidur disana. Johan membiarkan Erlita tidur disana. karena dulu saat kecil memang disitulah tempat pelarian favoritnya saat dimarahi neneknya atau bertengkar dengan Jihan atau teman-temannya.


“Btw, Ta. Acara ultah lo besok gimana?”


“Au ah, bodo amat. Gue lagi keseeeeeel!!!”


***


Erlita merasa lebih baik setelah semalaman tidur di kamar Johan. Pagi itu ia berangkat kerja dengan semangat. Ia bertekad untuk merayakan malam ulang tahunnya bersama Johan dan Kenny saja.


Ia memesan tempat di sebuah restoran yang terletak di sebuah hotel bintang lima di kota Bandung. Ia sengaja tidak membuat acara di hotel atau villa milik keluarganya karena ingin ganti suasana. Ia juga memesan tiga kamar untuk mereka. Jaga-jaga kalau mereka mabuk dan tidak bisa berkendara pulang ke rumah.


Ia kemudian mengirim pesan singkat kepada kedua kakak sepupunya untuk mengosongkan jadwal mereka nanti malam karena ia ingin mengajak mereka ke Bandung untuk merayakan ulang tahunnya.

__ADS_1


Setelah mengetahui bahwa pesta itu hanya akan dihadiri mereka bertiga dan tidak ada orang luar yang ikut, keduanya setuju. Mereka tidak ingin membiarkan adik sepupunya itu mengadakan pesta yang biasa saja, jadi merekapun mulai memikirkan sesuatu.


__ADS_2