
Sejak saat itu, Alfa sama sekali tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan gadis manapun. Sekeras apapun usaha gadis-gadis di luar sana untuk mendapatkan hati Alfa, mereka akan menyerah pada akhirnya karena Alfa tidak lebih adalah seorang pria berhati beku yang menjengkelkan.
Tidak hanya itu, Alfa juga mulai memikirkan kembali tentang masa depannya. Tentang pilihannya untuk menjadi pewaris tahta Kusumo Group atau menentukan jalannya sendiri. Tentang bagaimana ia akan menempatkan kehidupan pribadinya di atas permadani emas yang dihamparkan kedua orang tuanya.
Karena banyaknya pemikiran yang dipikirkan Alfa di usia dini, membuatnya tumbuh menjadi pria yang terlihat jauh lebih dewasa dari aslinya. Bahkan tidak sedikit yang mengira bahwa Alfa lebih tua daripada Handoyo atau Nasya.
Tapi ia sama sekali tidak peduli. Baginya, hidupnya adalah miliknya dan hatinya hanya dia yang bisa mengendalikannya.
Sungguh berbeda dengan Arka yang selau periang dan ramah kepada semua orang. Anak laki-laki yang tahu betul bagaimana menikmati hidupnya. Arka tidak pernah memusingkan tentang masa depan apa yang menunggunya. Ia hanya berjalan mengikuti arus sambil terus mencari kesenangan di dalamnya.
Tidak seperti kakaknya, meskipun baru berusia enam tahun, Arka sudah banyak dikerubuti teman-teman perempuan, pandai mengambil hati orang lain dan selalu paling pandai menenangkan hati mamanya.
Erlita sangat bersyukur memiliki kedua putra yang luar biasa. Meskipun bertolak belakang, kedua buah hatinya itu selalu memberi warna berbeda dalam hidupnya dan ia merasa sangat bersyukur dengan semua itu.
***
Ketika Alfa menginjak bangku SMA, Nafan mulai sering melibatkannya dalam urusan kantor. Mulai dari diskusi atau bertukar pikiran tentang berbagai kendala yang dihadapinya di kerusahaan sampai dengan mengajak Alfa menghadiri acara-acara resmi perusahaan.
Nafan ingin memperkenalkan putranya dengan dunia yang sudah menunggunya. Meskipun ia tahu bahwa Alfa lebih tertarik untuk berakhir pekan di rumah Sisil dan membantunya mempelajari banyak kasus hukum, tapi Nafan tidak ingin menyerah terlalu dini.
Ia ingin memastikan dulu bahwa putranya masih bisa merubah preferensi hidupnya dan memilih untuk mengambil tanggung jawab sebagai penerus usaha yang dirintis kakeknya dengan susah payah itu.
Hari itu, Nafan dan Erlita sengaja mengajak kedua putranya ikut menghadiri peresmian yayasan pendidikan bakat yang dibangun oleh Erlita sebagai bentuk tanggung jawab sosial masyarakat dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan terutama untuk anak-anak yang memiliki bakat di bidang seni.
Mereka juga mengundang walikota dan keluarganya sebagai salah satu tamu kehormatan mereka.
__ADS_1
“Selamat Pak Nafan dan Bu Erlita. Anda berdua memang luar biasa dan selalu saja membuat saya kagum.”
“Bapak terlalu berlebihan. Kami hanya melakukan apa yang seharusnya saja.” Ujar Erlita merendah.
“Jangan merendah begitu. Apa yang Anda sumbangkan untuk masyarakat ini sangat besar dan berharga. Coba saja anda bayangkan berapa banyak anak-anak berbakat yang tidak terwadahi dan tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya.”
“Andai saja putri Anda bisa bergabung dengan sekolah kami, kami tentu akan sangat bersyukur.”
“Oh soal itu, Kinara sedang bersekolah di luar negeri dan dia belum ingin pulang dalam waktu dekat. Saya juga tidak bisa memaksanya. Tapi saya yakin suatu saat nanti, dia akan bersedia untuk bekerjasama dengan SH Art School ini.”
“Kami sangat menantikan saat itu.”
“Oh ya, bagaimana dengan putra Anda yang pandai melukis itu?”
“Oh, Alfa? Tunggu sebentar.”
“Perkenalkan, Pak. Ini Alfa, putra sulung kami.”
“Dan, Al. Ini Pak Walikota, ayahnya Kinara.”
“Senang bertemu dengan Anda, Pak Walikota.” Alfa menjabat tangan Walikota penuh hormat.
“Tidak hanya berbakat, putra anda sangat tampan dan gagah. Saya rasa mereka berdua akan sangat cocok bila bersama.”
“Saya juga sependapat, Pak. Mudah-mudahan takdir mempertemukan mereka kembali suatu saat nanti.” Timpal Erlita penuh semangat.
__ADS_1
***
Setelah lulus SMA, Erlita memaksa Alfa untuk mengambil sekolah bisnis di luar negeri tapi Alfa menolak. Ia memilih untuk bersekolah di salah satu perguruan tinggi negeri yang memiliki fakultas hukum terbaik di kotanya.
Tidak hanya itu, selama kuliah, ia juga mengambil magang di kantor firma hukum milik Sisil. Alfa sama sekali tidak tertarik untuk bekerja di kantor papa dan mamanya sendiri.
“Al, mau sejauh mana lagi kamu melarikan diri?”
“Ma, aku Cuma ngelakuin apa yang aku pengen. Apa itu juga salah?”
“Al, Mama bisa terima kamu memilih sekolah hukum daripada bisnis. Memilih magang di kantor Sisil daripada kantor mama dan papa. Tapi mau sampai kapan kamu seperti ini?”
Erlita yang dari tadi mondar-mandir di kamar Alfa, tiba-tiba saja duduk di dekat Alfa.
“Al, kamu adalah penerus perusahaan Papa dan Mama. Nasib ratusan ribu karyawan kita akan ada di pundak kamu. Mama hanya ingin kamu bersiap untuk mengambil alih semuanya.”
“Ma, tapi aku ngga pengen dan ngga tertarik dengan perusahaan. Aku pengen membangun firma hukum aku sendiri, Ma.”
“Al! Cukup! Mama tidak mendidik kamu untuk menjadi anak manja dan egois. Lihat sekeliling kamu, lalu pikirkan baik-baik apa harus kamu mengambil keputusan hanya berdasarkan apa yang kamu suka dan ingin? Kamu adalah harapan mama satu-satunya, Al.”
Alfa tersenyum, “Masih ada Arka, Ma.”
Erlita tidak tahu lagi bagaimana harus menyembunyikan kekecewaannya kepada Alfa. Ia tidak menyangka bahwa ia akan mengalami fase ini, merasakan sulitnya menemukan seorang penerus yang dapat diandalkan.
Sekarang ia mulai mengerti kenapa neneknya akhirnya menyerah dan memaksanya menikah dengan Nafan. Tapi ia tidak ingin memaksa putranya melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Meskipun pernikahan paksa yang dijalaninya bersama Nafan berakhir bahagia, tapi ia tidak bisa menjamin bahwa hal yang sama akan terjadi pada putranya. Alih-alih memaksanya menikah, Erlita akan meyakinkan Alfa lebih dulu untuk mengenal dan memilih wanita pilihannya sebagai istri. Ia ingin membuat cerita yang berbeda kepada kedua putranya kelak.