
Semakin banyak yang mereka gali, semakin banyak fakta mengerikan yang mereka temukan. Salah satunya adalah fakta bahwa Suryo Susbihardayan telah melakukan manipulasi yang menyebabkan salah seorang pesaingnya gulung tikar.
Mereka tidak menyangka bahwa Eyang Kakung mereka tega menggunakan cara-cara licik seperti itu untuk mempertahankan perusahaannya. Kenny kemudian menyimpulkan bahwa Bramantyo ternyata mewarisi sifat liciknya dari sang ayah yang juga adalah kakek mereka.
Erlita sebenarnya merasa tidak nyaman karena semua orang menyalahkan Bram yang adalah ayah Johan. Bagaimanapun juga ia bisa merasakan perasaan anak yang orang tuanya dijadikan obyek kesalahan meskipun ia tahu bahwa anak itupun sebenarnya tahu bahwa ayahnya memang salah bahkan Johan bertekad untuk membantu Erlita menghadapi ayahnya sendiri.
Jika Erlita bisa memahami keadaan dan perasaan Johan, tidak demikian halnya dengan Nafan. Erlita yakin Nafan sedang memiliki perasaan yang sama dengan Johan, marah, kesal dan kecewa.
Tapi untuk apa? Ia bahkan tidak mengenal keluarganya yang bobrok lebih dari keluarga baru istri yang terpaksa dinikahinya. Tapi kenapa Nafan seolah merasa tidak nyaman dan menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri?
“Sori, semuanya. Tapi gue rasa untuk hari ini cukup. Kita sudah terlalu banyak membahas soal ini sejak siang. Gimana kalau kita istirahat sebentar? Besok bisa kita lanjut lagi.”
Semua setuju dengan Erlita. Johan segera masuk ke kamarnya, Nafan keluar jalan-jalan di halaman vila dan Kenny terus saja mendekati Rania yang memilih untuk tetap berada di ruang keluarga guna bermain game bersama Kenny.
***
Erlita segera menyusul Nafan keluar.
“Fan, lo kenapa? Gue perhatiin lo kaya lagi kesel dan marah banget.”
Nafan menggeleng, “Ngga kok, tiba-tiba saja saya teringat sama kakek saya yang keras kepala dan suka marah-marah.”
Erlita berusaha tertawa untuk menghibur Nafan, “Oh, jadi ada yang kangen nih? Kalau gitu kapan lo mau ngenalin gue sama kakek lo?”
Nafan menatap Erlita, “Kamu yakin mau ketemu sama kakek saya?”
“Biar gue yang pesen tiketnya.”
Nafan membuang pandangannya.
Sadar Nafan tersinggung dengan ucapannya, Erlita segera menjulurkan tangannya, “Mana uangnya? Gue sekarang pengangguran, mana punya duit buat beli tiket?”
Nafan tersenyum lalu menyerahkan dompetnya kepada Erlita. Gadis itu lalu masuk untuk memesan tiket kereta eksekutif ke Yogjakarta.
***
Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali itu Erlita pergi hanya dengan membawa tas jinjing dan sebuah koper kecil berisi pakaiannya dan Nafan. Ia tidak lagi heboh dengan perlengkapan super komplitnya yang membuat Nafan kerepotan membawanya.
“Kamu yakin, cukup dengan setengah koper kecil ini aja?”
__ADS_1
Erlita mengangguk yakin. “Gue bisa pake baju lo kalau kurang.” Imbuhnya santai.
Mereka sedang dalam perjalanan menuju stasiun.
“Ta, kamu yakin ngga mau naik pesawat aja?”
“Yah kan gue udah bilang kalau sekarang gue pengangguran, jadi harus bisa berhemat. Lagi pula kereta api juga lumayan kok. Cepet dan nyaman juga.”
“Ta, uang saya masih cukup kok untuk beli tiket pesawat, lagi pula rumah kakek ngga terlalu jauh dari bandara. Jadi jangan terlalu memikirkan soal harga tiket.”
Erlita menggeleng. Kali ini ia yakin lebih ingin naik kereta api yang bisa memberinya waktu lebih lama untuknya duduk bersanding dengan suami yang sudah sangat lama dirindukannya itu.
***
Mereka tiba di Jogja setelah menempuh sekitar delapan jam dengan kereta api. Alan sudah menunggu mereka di pintu keluar stasiun. Ia dengan sigap membawakan koper mereka dan mengantar mereka ke dalam mobil.
“Kita langsung ke rumah, Mas?”
“Iya Lan, langsung pulang aja.”
Mobil yang dikendarai Alan tiba disebuah rumah besar dengan arsitektur kuno yang terbuat dari kusen dari kayu jati asli berkualitas tinggi. Tidak ada jendela kaca di rumah itu. Semua rangka atap, kusen dan tiang dirumah itu terbuat dari kayu yang dikerjakan dengan sangat detail dan teliti.
Erlita paham karena sudah banyak belajar tentang perkayuan dari neneknya yang hampir seumur hidupnya menggeluti bisnis kayu dan mebel.
Erlita masih takjub dengan bangunan yang menurutnya sangat berkelas dan berkarakter itu. Ia melihat di sekeliling rumah kakek Nafan.
“Ta, duduk dulu. Mboh Rum sudah menyiapkan teh buat kita.”
Erlita mengambil posisi duduk di sebuah kursi jati yang berhadapan dengan Nafan. Ia meneguk teh beraroma harum secang dan dengan rasa manis dan pahit yang pas di lidahnya.
“Ini enak, Fan. Gue suka.”
Nafan senang, Erlita menyukai teh favorit kakeknya itu.
“Mau langsung ke kamar? Biar kamu bisa bersih-bersih terus istirahat.”
Erlita mengangguk.
Ketika memasuki ruang kamar, Erlita mencium bau bunga sedap malam yang menyeruak. Hampir sama dengan aroma parfum di kamar neneknya, hanya saja ini versi asli dan segar.
__ADS_1
“Bunga sedap malam? Ini aroma bunga kesukaan Eyang.”
“Dulu saya sering bertanya-tanya kenapa Eyang Kakung yang begitu keras kepala dan tidak punya perasaan sangat menyukai bunga sedap malam. Dia bisa memaafkan kalau para pekerja di rumah ini lupa mematikan ac hingga berhari-hari atau lupa memberi makan ayam sampai banyak yang mati. Tapi dia tidak bisa membiarkan siapapun yang bertugas kalau sampai bunga sedap malamnya layu atau lupa diganti. Sekarang saya jadi tahu kenapa dia seperti itu.”
“Apa mungkin Eyang mengenal kakek kamu?”
“Kurasa lebih dari itu. Seseorang yang sebatas mengenal tidak akan meninggalkan pesan yang sangat mendalam untuk orang yang hanya sebatas dikenalnya di akhir hayatnya.”
“Emang kakek lo ngomong apaan?”
“Untuk pertama kalinya dia setuju dengan keputusan Eyang.”
“Atau jangan-jangan mereka memang pernah deket atau bahkan pacaran dulunya?”
Nafan mengangkat kedua bahunya, tak mau berspekulasi.
***
Keesokan paginya, Erlita mengenakan pakaian terbaik dan make up tercantik yang ia miliki untuk menemui kakek Nafan di makam. Nafan sengaja mengajak Erlita mengunjungi makam kakeknya karena memang keduanya belum sempat bertemu saat kakeknya masih hidup.
“Yang, ini Nafan bawa Lita. Cucu menantu Eyang.”
“Yang, Lita datang. Gimana menurut Eyang? Lita cantik kan? Cocok kan buat jadi istrinya Nafan? Lebih cocok daripada Sisil kan, Yang?”
“Ta –“
“Iya, iya, maaf... Lita becanda Eyang. Tapi emang bener Lita kesel sama Sisil kok Yang.”
“Ta –“
Lita kembali meringis sambil menganggat salam dua jarinya ke udara, “Pisssss....”
“Yang, pasti sekarang Eyang sudah bisa ketemu lagi sama Eyang Tiwi kan Yang? Mudah-mudahan kalian berdua akur disana. Meskipun Eyang Tiwi bawel dan galak, tapi Eyang baik kok dan sayang banget sama Lita. Jadi tolong jagain Eyang Tiwi buat Lita ya Yang?” Air mata Erlita mulai bercucuran, “Sebagai gantinya, Lita janji bakal selalu jagain Nafan buat Eyang.”
Nafan memeluk gadis kesayangannya itu. “Jangan mewek gitu dong, Ta. Kan cantiknya jadi ilang.”
Erlita segera menyeka air matanya dan memakai kembali kaca mata hitamnya. “Yang, Lita mau jalan-jalan dulu ya? Besok Lita sudah harus balik ke Jakarta. Bilang Eyang Tiwi, Lita pasti bisa balikin keadaan pada tempatnya. Eyang jangan khawatir ya?”
Tak ingin Erlita kembali menangis, Nafan segera membawanya pergi dari makam lalu berjalan-jalan menikmati kekayaan alam dan kuliner khas Joyja yang tak terlupakan dan tiada duanya.
__ADS_1
Sebelum pergi, Erlita berpesan agar Nafan tidak membawanya ke tempat yang pernah dikunjungi Nafan bersama Sisil. Ia tidak ingin jadi korban cerita cinta lama bersemi kembali.
***