
Saat sarapan bersama keesokan harinya, Pratiwi mengumumkan bahwa setelah lulus kuliah, Erlita harus keluar dari rumahnya mengikuti suaminya, Nafan.
"Tapi, Yang -"
Pratiwi kembali mengangkat tangannya tanda menolak segala bentuk keberatan.
Saat itulah Erlita menyesal telah mengajukan sidang skripsi. Karena selama apapun ia berusaha mengulur waktu, ia akan segera keluar juga dari rumah itu. Erlita meninggalkan meja makan dan kembali menangis di kamarnya.
Ia tidak mengerti kenapa neneknya yang awalnya begitu getol untuk memintanya masuk ke perusahaan keluarga setelah berusia dua puluh tahun, belakangan malah berusaha membuatnya makin sibuk dengan urusan lain agar tidak bisa pergi ke kantor. Sekarang neneknya justru memintanya pergi jauh meninggalkan rumah dan juga perusahaan. Erlita sungguh tidak bisa memahami pemikiran neneknya yang berubah-ubah seperti angin.
Setelah selesai sarapan, Nafan secara pribadi menemui Pratiwi dan menjelaskan tentang duduk persoalannya. Ia tidak ingin neneknya menyesal di kemudian hari karena sebuah kesalahpahaman kecil.
"Eyang tahu, Fan. Kamu tidak perlu menjelaskan apapun kepada Eyang. Meskipun sudah renta, Eyang tahu persis mana yang benar dan salah."
"Lalu kenapa Eyang menjauhkan Erlita dari Eyang? Apa ini juga sebuah hukuman atas gosip miring yang menimpa Lita?"
"Karena sudah waktunya ia belajar mandiri dan menghargai kamu sebagai suaminya. Eyang rasa ini adalah momen yang tepat untuk melakukannya."
"Tapi, Yang, Saya baru dipindah ke pusat satu setengah tahun yang lalu. Surat permintaan mutasi sudah saya ajukan tapi saya belum juga mendapatkan jawaban. Seperti yang Eyang tahu, tidak mudah bagi pns pria seperti saya untuk mengajukan mutasi karena alasan pribadi."
"Jangan khawatir, Fan. Eyang sudah urus semuanya. Persiapkan saja keperluanmu dan Lita. Biar Eyang yang urus sisanya."
Meskipun ia ragu bahwa hal semacam itu mungkin terjadi, ia memilih untuk menuruti perkataan Pratiwi.
__ADS_1
"Yang, apa Eyang yakin ini semua hanya karena Eyang ingin Erlita belajar menjadi istri yang baik untuk saya?" Nafan merasa Pratiwi sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kita sama-sama menyayangi Lita dan menginginkan yang terbaik untuknya." Pratiwi tersenyum dan Nafan mempercayai apapun makna di balik senyuman itu.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menjaga Erlita dengan baik. Saya harap Eyang juga melakukan hal yang sama. Saya ingin Eyang selalu ingat bahwa saya dan Erlita akan selalu ada untuk membantu Eyang."
Pratiwi mengangguk. Ia merasa lelah karena masih harus menanggung banyak beban di usianya yang semakin senja. Ia ingin segera menyerahkan beban di pundaknya kepada Erlita agar ia bisa menikmati sisa usianya dan hidup dengan tenang.
****
Sesampainya di Boston, Jihan langsung mengecek pemberitaan online. Sebagian besar memasang headline "Pewaris Susbihardayan suka main lelaki dan mabuk-mabukan".
Meskipun menurutnya kurang heboh, Jihan cukup senang memberikan kenang-kenangan kecil untuk Erlita. Ia mengecek beberapa situs lain tapi tiba-tiba saja semua artikel tentang Erlita menghilang. Percakapan di media sosialpun segera beralih ke topik lain terkait Roki yang ditahan karena kasus narkoba.
"Apa-apaan ini?! Ini pasti ulah Kak Johan!" Jihan kesal karena kakaknya lebih memihak Erlita daripada dirinya yang notabene adalah adik kandung Johan.
Jihan lalu membuka beberapa hadiah yang belum sempat dibukanya saat masih di rumah. Ia melihat sebuah kotak dibungkus dengan gaya khas Erlita. Ia penasaran dengan kado yang diberikan musuh bebuyutannya itu.
Sebuah kalung berlian edisi terbatas yang pernah sangat diinginkannya ketika mereka berlibur bersama ke Spanyol. Ia tidak menyangka bahwa Erlita masih mengingatnya dan nekad membelinya. Ia yakin Erlita harus mengorbankan sekitar enam bulan uang sakunya untuk membeli kalung itu.
Jihan jadi merasa sedikit menyesal telah berbuat jahat pada sepupu kecilnya itu. Tapi toh nasi sudah jadi bubur. Anggap saja apa yang dilakukan kepada Erlita setimpal dengan apa yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Hamil dan terasing di negeri orang.
Bagi Jihan yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara ia mencari uang di tempat tinggal barunya itu. Karena diasingkan, berarti tidak mendapat pasokan dana sama sekali dari akun Susbihardayan. Dan ia juga tidak ingin hanya menadah pada Dean yang juga hanya bergantung pada pemberian dari orang tuanya.
__ADS_1
***
"Jo, apa semua sudah bisa terkendali?" Tanya Nafan khawatir
Johan mengangguk. "Sepertinya keputusan untuk mengungkap kasus narkoba Roki sekarang cukup efektif."
"Thanks kak. Gue ngga tau nasib gue kalau ngga ada lo." Erlita sok-sokan merasa terharu dan memeluk kakak sepupunya itu.
"Ta, menurut gue lo mesti segera siapin sesuatu untuk meng-counter pemberitaan miring itu."
"Ngga perlu kak. Toh bentar lagi gue mau pergi jauh."
"Ta, apa lo berfikir kalau ini cuma soal ngehancurin citra lo dan ngejauhin lo dari Eyang?"
"Maksud kamu apa Jo?"
"Gue ngga ngerti maksud lo kak."
"Ta, sekarang ini semua orang tahu bahwa lo berandalan kecil, cewek ****** yang suka main cowok dan pemabuk. Itu artinya, dewan komisaris dan para pemegang saham Susbihardayan Group ngga bakal pernah mau nerima sampah kaya elo."
"Jadi maksud kamu, Erlita akan kehilangan haknya atas perusahaan?"
"Gue juga ngga ngerti kenapa Eyang justru ngusir lo di situasi seperti ini. Kalau menurut gue justru sekaranglah saatnya li maju dan tunjukin kemampuan lo di perusahaan. Kan lo dah lulus sarjana jadi lo berhak untuk duduk disana."
__ADS_1
"Lo juga sarjana kak, dan lo cowok. Tapi kenapa lo ngga mau duduk disana?"
"Karena itu bukan tempat gue."