
Nafan mencoba berdamai dengan Erlita. Ia berkali-kali mengetuk pintu kamar Erlita tapi gadis itu sama sekali tidak menggubrisnya.
“Ta, tolong buka pintunya atau saya manjat lewat jendela.”
Entah apa yang dipikirkan Erlita, ia tiba-tiba saja membuka pintu kamarnya untuk Nafan.
“Ta, saya minta maaf kalau saya salah. Tapi saya berkata apa adanya. Saya bisa ceritakan detailnya kalau kamu mau.”
“Ngga perlu. Semua sudah terjadi, dan yang saya mau sekarang adalah, kamu berhenti bekerja atau cari cara supaya bisa pindah ke Jakarta. Saya ngga mau kita hidup terpisah lagi.”
Nafan senang mendengar permintaan istrinya itu. Tapi untuk saat ini, ia masih harus menunggu surat pengunduran dirinya disetujui. Baru ia bisa pindah dan menemukan pekerjaan lain di Jakarta.
“Sabar ya,Ta? Saya –“
“Kenapa sih, sepertinya susah banget buat kamu ninggalin Banyuwangi? Jangan jadikan pekerjaan kamu yang ngga seberapa, yang ngga bisa ngasih kamu apa-apa itu sebagai alasan. Saya bisa kasih kamu pekerjaan yang lebih baik daripada hanya sekedar polisi hutan biasa yang ngga jelas.”
Nafan belum pernah merasa semarah itu kepada Erlita. Selama ini Erlita selalu menganggapnya sebagai lelaki rendahan yang tak punya harta, menjadikannya budak yang bisa diperintah-perintah seenaknya, Nafan masih bisa menahan diri.
Tapi hari itu, Erlita meremehkan pekerjaan yang dilakukan dan dijalaninya sepenuh hati. Pekerjaan yang didapatkannya dengan penuh perjuangan. Ia bahkan dengan berat hati mulai rela untuk meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya itu demi istrinya, tapi apa yang didapatnya justru penghinaan seakan Nafan tidak punya apapun yang layak dipertahankan selain Erlita yang kaya raya dan keturunan bangsawan.
Nafan memilih untuk diam lalu meninggalkan Erlita sendirian di kamarnya. Ia tahu bahwa jika buka mulut, maka akan banyak perkataan menyakitkan yang keluar dari mulutnya.
Karena itu, ia berharap Erlita tahu bahwa diamnya membawa luka dan sakit yang begitu mendalam atas sikap dan perkataan Erlita terhadapnya.
Johan yang sempat mendengar pembicaarn mereka dari dalam kamar yang pintunya dibiarkan terbuka tahu persis bahwa Nafan sedang menahan amarah yang sangat besar. Tapi ia juga tahu bahwa membiarkan Nafan pergi begitu saja juga tidak akan menyelesaikan permasalahan di antara mereka.
Johan berusaha menahan Nafan yang berniat pergi dari vila itu, tapi tepat saat ia mendorong dada Nafan, sebuah foto jatuh dari kantong jaket Nafan.
Johan memungut foto yang menggambarkan wajah seorang gadis kecil yang sangat Johan kenal.
“Foto siapa ini?” tanya Johan memastikan
“Anak Mbah Minto, lansia yang tinggal di dekat rumah saya di Banyuwangi.”
__ADS_1
“Anak?! Lalu untuk apa kau membawanya?”
“Mbah Minto sedang sakit parah dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Dokter meminta saya untuk mencarikan anggota keluarganya karena penyakit yang diderita Mbah Minto cukup serius sedangkan ia terus saja merancau tentang anaknya. Karena itu, saya membawa foto itu untuk mencari keberadaan anak itu.”
“Dimana orang itu dirawat?”
“Di sebuah rumah sakit umum di Surabaya.”
***
Dua jam kemudian Johan dan Nafan sudah mendarat di Bandara Surabaya. Mereka langsung bergegas menuju rumah sakit tempat Mbah Minto dirawat. Sebenarnya Nafan tidak tahu persis kenapa Johan tiba-tiba saja memaksa untuk ikut ke Surabaya untuk menemui Mbah Minto.
Hari itu, Mbah Minto sedang diperiksa oleh dokter visite di salah satu ruang perawatan kelas tiga.
“Nak Nafan sudah datang?” sambut pria jompo itu ramah.
“Nggih, Mbah. Saya sudah pulang. Mbah gimana? Sudah baikan?”
Mbah Minto menangguk sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi ompongnya.
Mbah Minto menjabat tangan Johan ramah.
“Mbah, apa benar gadis di foto ini anak kandung Mbah?” tanya Johan penasaran
Mbah minto mengangguk, lalu air matanya mulau meleleh di sela kerutan wajahnya yang semakin banyak berlapis-lapis.
“Ani pergi dari rumah saat usia sepuluh tahun. Hari itu dia mengatakan bahwa ia malu memiki orang tua miskin seperti saya. Lalu ia juga mengatakan bahwa ia akan pergi untuk mencari orang tua yang lebih baik. Saya pikir hari itu ia hanya menggertak seperti anak kecil yang lain. Tapi saya salah. Setelah kami bertengkar, Ani benar-benar pergi dari rumah dan tidak pernah kembali. Setahun kemudian ibunya meninggal karena sering sakit-sakitan, tapi sebelum meninggal ia meminta saya berjanji bahwa saya tidak boleh mati sebelum menemukan Ani.” Air mata Mbah Minto kian deras dan suaranya Kian melemah.
“Belakangan ini saya sering sakit-sakitan dan Nak Nafanlah yang selalu merawat dan membayar biaya pengobatan saya. Saya tahu bahwa umur saya tidak akan lama lagi. Karena itu saya ingin bertemu Ani setidaknya sekali sebelum saya mati supaya saya bisa menghadapi istri saya ketika bertemu di alam baka nanti.”
Nafan tidak tega mendengar Mbah Minto bersusah payah menceritakan tentang anaknya lagi. “Sudah cukup ceritanya, Mbah. Sekarang Mbah istirahat ya?”
Mbah Minto menggeleng, “ Mbah takut Nak Nafan. Bagaimana kalau Mbah tidur dan ngga bisa bangun lagi padahal Mbah belum bisa ketemu sama Ani.”
__ADS_1
Johan merasa darahnya mendidih dan dadanya hampir meledak mendengar penuturan pria renta itu. Ia bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.
***
Farah senang melihat putra sulungnya kembali ke rumah. Hari itu ia bertekad meluruskan kesalahpahaman di antara mereka. Ia tidak ingin Johan pergi lebih lama lagi dari rumah. Johan merasa marah sekaligus iba melihat wajah ibunya yang babak belur, memar kebiruan. Ia yakin ayahnya pasti sudah memberinya pelajaran seperti biasanya.
“Jo, Mama minta maaf, Mama menyesal –“
“Bener mama menyesal dengan semua perbuatan mama?”
Farah hanya bisa mengangguk lesu dihakimi oleh putranya sendiri.
“Kalau gitu mama ikut Johan sekarang.”
“Tapi kemana Jo? Mama ngga bisa keluar rumah dengan keadaan seperti ini. Lagi pula papa kamu bisa marah kalau tahu mama keluar rumah tanpa ijin.”
Johan menyerahkan kaca mata hitam dan slayer untuk menutupi wajah memar dan lebam Farah. Lalu menyeret mamanya masuk ke dalam mobil.
“Jo, kenapa kita ke bandara? Memangnya kita mau kemana?” Farah mulai khawatir.
“Surabaya.”
***
Farah masih belum mengerti kenapa Johan membawanya ke sebuah rumah sakit umum daerah di Surabaya. Johan terus saja menyeretnya menuju sebuah kamar rawat inap.
“Mama kenal orang itu?”
Farah menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Ia tahu persis siapa pria tua yang sedang terbaring lemah di ranjang pasien itu. Tapi ia tak mau Johan tahu, jadi ia berpura-pura untuk tidak mengenalnya.
“Maksud kamu apa Jo? Siapa –“
“Ma, sampai kapan mama mau pura-pura terus? Mama ngga capek?”
__ADS_1
“Tapi –“
Mbah Minto bangun mendengar suara ribut Johan dan Farah. Ia mencoba membuka matanya dan samar melihat seseorang yang mirip dengan putrinya, “Ani?!”