
Erlita merasa senang mengerjai Nafan, setidaknya pria itu jadi tahu berapa uang jajannya sekali main ke kafe. Ia tertawa senang.
Nafan kembali ke mobil dengan wajah lesu.
“Kita makan malam dulu.” Erlita mengatur map di dashboard-nya menuju sebuah rumah makan mewah yang terkenal mahal.
“Kenapa tidak makan di rumah saja? Eyang pasti senang kalau bisa makan sama-sama.”
“No! ini adalah jadwal gue makan malam di luar jadi gue harus kesana.”
***
Erlita memesan banyak menu makanan yang mungkin bisa untuk dimakan delapan sampai sepuluh orang. Selera makan Nafan hilang membayangkan berapa banyak lagi cicilan yang akan dibayarnya bulan depan.
Erlita senang melihat wajah gelisah Nafan. Ia yakin betul pria itu sedang memikirkan bagaimana cara membayar semua makanan yang dipesannya.
“Ayo makan! Kok diliatin aja?”
Nafan berusaha memakan makanan yang terasa seperti duri di tenggorokannya itu. Ia pasrah. Bagaimanapun juga ia adalah pria yang bertanggung jawab. Meskipun harus berhemat karena gajinya bulan depan habis untuk membayar cicilan, ia harus tetap membayarnya.
Nafan segera menghabiskan makanannya. Tiba-tiba saja Erlita melihat sosok yang sangat rakus karena menghabiskan semua makanan yang dipesannya dengan lahap. Ia yakin bahwa Nafan pasti belum pernah makan makanan seenak itu. Padahal Nafan berusaha keras menghabiskan semuanya karena tak ingin merasa terlalu kecewa harus membayar mahal cicilan atas makanan yang dibuang sia-sia.
Setelah selesai makan, Erlita langsung berjalan keluar restoran, sementara Nafan mendatangi pelayan untuk minta tagihan.
“Maaf Tuan, anda tidak perlu membayar. Tagihannya akan langsung kami masukkan ke dalam tagihan bulanan seperti biasanya.”
__ADS_1
“Apa?”
Pelayan itu tersenyum. Ia yakin bahwa Nafan pasti belum mengenal keluarga Susbihardayan dengan baik.
Sementara Erlita hanya senyum saja melihat keluguan Nafan. Setidaknya hari itu ia merasa terhibur karena berhasil mengerjai Nafan. Ini baru permulaan dan ia akan mempersiapkan lebih banyak skenario untuk memberi pria kampungan itu pelajaran.
***
Malam itu Nafan susah tidur. Selain karena memikirkan uangnya yang melayang sia-sia dan tak berguna, juga memikirkan bagaimana cara ia akan mengurus Erlita ke depannya. Ia tidak ingin selamanya menjadi parasit di rumah mewah itu, tapi ia juga tidak yakin apakah dirinya mampu menafkahi gadis dengan gaya hidup seperti itu.
Selain itu, Dean juga sangat mengganggu pikiran Nafan. Ia yakin pria itu memiliki niat buruk kepada Erlita. Meskipun seandainya tidak, pria itu tetap tidak tahu diri karena dengan santainya menggoda istri orang di hadapan suaminya sendiri.
Nafan segera mencari logikanya kembali, untuk apa dia merasa terhina atau direndahkan karena kedekatan Erlita dan Dean. Mereka memang sudah pacaran jauh sebelum ia menikah dengan Erlita. Dan fakta bahwa pernikahan mereka memang tidak berarti apa-apa bagi keduanya adalah alasan utama kenapa Nafan tidak boleh ikut campur dalam urusan pribadi Erlita.
Ia hanya harus mengambil posisi sebagai penjaga karena itulah yang neneknya inginkan dari pernikahan mereka, menjaga Erlita dari orang-orang yang ingin mencelakainya. Meskipun untuk saat itu, ia tidak yakin betul siapa saja orang-orang yang ingin mencelakai Erlita itu.
***
“Bram, tolong segera urus keperluan Lita di kantor.”
“Tapi, Bu, bukankah masih terlalu dini untuk menyuruh Lita bekerja. Ia bahkan belum menyelesaikan kuliahnya.”
“Bram, Lita sudah dua puluh tahun dan juga sudah menikah. Aku tidak ingin dia bekerja berkeliaran di luar seperti Jihan, atau selalu mengurung diri di kamar seperi Johan atau malah tidak bekerja sama sekali seperti Kenny.”
“Bu! Kenny bukannya ngga mau kerja. Hanya saja pekerjaan di kantor terlalu merepotkan untuk dia. Aku khawatir kalau dia akan kelelahan dan sakit.” Sergah Sania tak terima putra kesayangannya dibanding-bandingkan.
__ADS_1
“Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang menemani Kenny bekerja di kantor. Dengan begitu perusahaan tidak perlu terus-terusan merekrut orang baru dari luar.”
“Tapi Bu, aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menyalakan komputer dan tidak bisa seharipun tidak ke mall untuk berbelanja. Bagaimana mungkin aku harus menemani Kenny bekerja seharian di kantor?”
“Lalu, kenapa kau tidak bekerja di mall saja? Kau bisa mengelolanya sambil berbelanja?” tanya Prasetyo, sang suami yang memang sudah lama menginginkan mall milik keluarga Susbihardayan. “Betul kan Bu?”
“Mall hanya boleh dikelola oleh orang-orang yang paham cara menjauhi uang dan berbelanja. Kalian jelas tidak kompeten dengan kriteria itu.” Jawab Pratiwi ketus dan tegas.
“Kalau begitu, Bagaimana jika ibu ijinkan saya mencobanya.” tawar Farah memanfaatkan kesempatan. “Ibu tahu betul bahwa saya jarang keluar rumah dan tidak suka berbelanja.”
“Kau bahkan tidak bisa mengurus kedua anakmu dengan baik. Bagaimana mungkin kau bisa mengurus mall sebesar itu?” Pratiwi menyudahi sarapannya.
“Nafan, bisa ikut Eyang sebentar?”
***
“Kau lihat kan betapa semua orang sangat menginginkan semua yang kumiliki?” Pratiwi membuka tirai ruang kerjanya. Diantara mereka semua hanya Litalah yang tidak tertarik untuk mengelolah perusahaan.”
“Tapi bukannya dia kuliah manajemen bisnis untuk—“
“Untuk mengelola usahanya sendiri. Sejak awal ia menolak mengurusi bisnis keluarga. Tapi justru itulah yang membuatku percaya bahwa ialah satu-satunya orang yang bisa kuharapkan dan kuandalkan. Saat masih SMA Lita merintis usaha lembaga pendanaan untuk usaha masyarakat kurang mampu bersama dua orang temannya. Tapi karena kurang berpengalaman dan hanya mengandalkan perasaan, Lita justru menghabiskan seluruh modalnya untuk amal. Sejak saat itu, ia bertekat untuk mempelajari bisnis agar kelak bisa membangun perusahaannya sendiri dan bersaing dengan Susbihardayan group. Kau tahu sendiri kan seperti apa Lita? Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa pendamping sepertimu.”
Nafan tidak mengerti kenapa Pratiwi mengharapkan hal sebesar itu dari seorang pelayan masyarakat biasa sepertinya. Tidak mungkin nenek kaya itu tahu tentang latar belakangnya.
Pratiwi kemudian duduk di kursi favoritnya di balik meja membelakangi jendela.
__ADS_1
“Erlita tumbuh sebagai anak yang kurang kasih sayang karena ia kehilangan kedua orang tuanya di usia yang masih sangat kecil. Karena itu, aku berharap engkau bisa membantunya menjadi lebih manusiawi. Bukan lagi seperti gadis robot yang hanya tahu bagaimana cara menghabiskan uangku.”
Mereka tertawa bersama, menertawakan Erlita, si robot penghisap uang.