
Pak Dandy, Kepala Departemen Kehutanan, menyambut kedatangan Nafan pagi itu. Entah darimana ia tahu bahwa Nafan sudah menikah dengan cucu seorang konglomerat, tiba-tiba saja Pak Dandi mengomando teman-teman sekantor Nafan untuk memberinya ucapan selamat.
“Sampaikan salamku pada Erlita.”
Nafan cukup kaget, “Darimana Bapak tahu nama istri saya?”
Pak Dandy tertawa, “Bagaimana mungkin saya tidak tahu, ia bahkan sudah memperkenalkan diri dan menunjukkan kemampuannya dalam membantumu mengerjakan laporan.”
“Laporan?” Nafan masih tidak mengerti.
“Salam Hormat, Erlita” Pak Dandy seakan menggambar garis bawah di udara.
Nafan langsung membuka emailnya. Sial! Bagaimana mungkin ia tidak tahu kalau Erlita akan mengetik body email dan menuliskan namanya seperti itu. Nafan merasa sangat malu kepada atasan dan teman-temannya.
“Jadi kapan kami bisa bertemu dengan Nyonya Nafan?”
***
Sore itu Jihan mendengar suara motor Nafan dari dalam rumahnya. Ia kemudian bergeas mandi dan bersiap-siap. Malam ini ia berencana mengajak Nafan berkencan mumpung Erlita juga sedang tidak ada di rumah.
***
Nafan merasa sangat lelah hari itu. Setelah sebulan cuti, banyak pekerjaan yang menumpuk dan mengantri untuk segera diselesaikan. Ia bergegas mandi dan berniat untuk beristirahat tapi ia masih penasaran kemana sebenarnya Erlita pergi.
Tidak ada pesan atau panggilan suara yang masuk ke ponselnya. Apa ini berarti bahwa Erlita mulai mengabaikan keberadaannya? Kini Nafan merasa kesal bagaimana mungkin Erlita mengacuhkannya setelah membuatnya malu di kantor.
Ia bergegas bangkit untuk mencari keberadaan Erlita. Tepat saat ia hendak membuka pintu, Jihan sudah berdiri di depan pintu hendak mengetuk.
“Kak Jihan lagi apa? Kok ada di sini?”
__ADS_1
“Oh, gini Fan. Gue lagi ada acara sama temen-temen. Tapi gue denger jalanan lagi padet banget. Mau ngga lo anterin gue sebentar?”
“Sori Kak, tapi gue capek banget. Baru pulang kerja jadi pengen istirahat di rumah aja.”
Jihan sudah menduga bahwa Nafan akan menolak seperti itu. “Jadi lo beneran ngga mau. Disana ada Lita juga loh.”
“Lita?” Nafan tampak ragu. Tapi ia memang berniat mencari dan membawa gadis itu pulang. Jadi sepertinya tidak masalah kalau mereka pergi bersama. “Oke. Tunggu! Saya mau ganti baju sebentar.”
***
Mereka tiba di pelataran sebuah rumah mewah yang sepertinya sedang mengadakan pesta. Jihan langsung menggandeng tangan Nafan begitu keluar dari mobil lalu membawanya masuk tanpa sempat melawan. Nafan mengenal beberapa wajah yang diketahuinya sebagai teman Erlita waktu bertemu di kafe beberapa waktu yang lalu.
Jihan mengajak Nafan menyapa si pemilik pesta tapi Nafan menolak dan segera melepaskan diri dari genggaman erat sang kakak sepupu. Ia lalu mendekati salah seorang teman Erlita.
“Maaf, apa kamu tahu dimana Erlita?”
“Sudah pergi. Tadi dia nangis terus pergi gitu aja.”
Teman Erlita hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu.
Tanpa pamit kepada Jihan dan pemilik rumah, Nafan langsung memesan taksi online menuju kafe langganan Erlita. Benar saja Erlita sedang berada di sana, menangis seorang diri. Nafan memberanikan diri untuk mendekati Erlita.
“Ta, kamu kenapa?”
Erlita tidak menyangka bahwa Nafan akan menemukan keberadaannya di sana. Ia segera menyeka air matanya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
“Engga, gue ngga papa kok.”
“Kamu masih mau bohong?”
__ADS_1
Erlita tak bisa berpura-pura lagi. Air matanya pecah membanjiri pipinya. Ia lalu memeluk Nafan dan menumpahkan semua perasaannya di sana.
Erlita menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Roki, aktor muda pendatang baru yang sedang naik daun karena membintangi sinetron remaja populer.
Roki lalu mengajaknya ngobrol dan bergurau. Roki juga sepertinya sengaja untuk mendekati Erlita dan membuat kontak fisik seperti sengaja menunjukkan bahwa mereka dekat. Tepat saat ada wartawan yang mendekati mereka, Roki langsung memeluk dan juga hampir saja mencium Erlita dan mengatakan bahwa ia meninggalkan mantan kekasihnya demi Erlita.
Bukan hanya dicap sebagai pelakor yang membuat Erlita kesal. Tapi juga fakta bahwa Roki sengaja menjebaknya dan satu hal yang paling dibenci oleh Erlita adalah kontak fisik tanpa permisi yang dilakukan orang asing terhadapnya.
Selesai mengatakan itu, Nafan langsung menarik diri, sedikit menjauh dari Erlita. Ia tidak ingin lagi disebut sebagai makhluk asing yang sedang berusaha menyentuhnya dengan sengaja. Hal itu justru membuat Erlita yang tadinya menangis malah jadi tertawa melihat tingkah lucu Nafan.
“Hei makhluk asing! Tadi gue yang peluk lo. Jadi sentuhan tadi atas seiijin gue. Lo ngga usah takut gitu napa?!” Erlita tertawa.
Nafan senang melihat Erlita kembali tertawa dan ia juga sedikit lega tidak dicap sebagai pria asing mesum lagi.
“Btw, kok lo bisa tahu gue ada disini?”
Nafan menceritakan bagaimana ia pergi bersama Jihan hingga bisa sampai menemukan Erlita di kafe itu.
“Oh, jadi lo pergi sama kak Jihan? Gimana menurut lo?”
“Gimana apanya?”
“Kakak sepupu gue cantik kan. Dia juga baik banget sama gue.”
Nafan sama sekali tidak setuju dengan pendapat Erlita itu. Karena ia tahu persis bagaimana Jihan mengkhianatinya bersama Dean. Tapi ia bisa maklum karena Erlita memang tidak tahu soal itu.
“Kak Jihan suka banget sama lo. Dan kalau lo juga suka sama dia, gue ngga keberatan kok. Lo boleh jalan dan pacaran sama Kak Jihan. Prinsip gue privasi adalah hal yang paling utama. Jadi gue ngga akan ikut campur dengan urusan pribadi lo.” Erlita tersenyum tulus.
Dan entah kenapa perkataan dan senyum itu justru membuat Nafan merasa marah dan sakit hati. Ia sama sekali tidak tahu alasannya, seharusnya ia merasa senang karena diberi kebebasan untuk menentukan perasaan dan pilihannya. Tapi entah bagaimana Nafan merasa hatinya sakit dan kecewa.
__ADS_1
“Oke, kalau memang itu mau kamu. Terima kasih karena sudah menghargai privasi saya.”