
Hari itu, Nafan sudah kembali bekerja kamtor lamanya, di Dinas Kehutanan di Kabupaten Banyuwangi, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah dinasnya.
Sementara Erlita merasa sangat kesal karena meskipun membeli televisi pintar, ia bahkan tidak bisa mengakses kanal dan channel televisi berbayar lainnya karena jaringan internet sangat susah disana. Jangankan untuk streaming, untuk mengecek m-banking saja Erlita kerepotan karena harus menunggu proses loading yang sangat lama.
Ia ingat bahwa hari itu adalah jadwal ia makan di luar. Sejak tiba di Banyuwangi, ia belum pernah sekalipun makan di luar rumah. Setiap hari ia hanya harus pasrah memakan makanan yang disiapkan Nafan untuknya. Ia sangat bosan dan mulai tidak berselera makan. Ia kemudian mulai memikirkan restoran mana yang akan dikunjunginya untuk pertama kali nanti malam.
***
“Ta, emang kita mau kemana sih? Ini kan sudah hampir malam.”
“Udah buruan mandi sana! Gue pengen makan malam di luar.” Ia menunjukkan sebuah restoran seafood terkenal di tengah Kota.
“Kamu pengen makan seafood? Biar aku masakin aja yah?!”
“Fan, sorry to say, tapi sumpah gue bosen banget makan masakan lo di rumah. Bukannya ngga enak tapi semua bener-bener jauh dari selera gue. Hari ini adalah jadwal gue makan di luar jadi lo harus anterin gue ke sini.” Ia kembali menunjuk restoran yang direkomendasikan Bu Ramlan dan ditemukannya dengan susah payah di mesin pencarian, “Tenang aja, gue yang traktir. Hari ini jadwalnya Pak Bin kirim uang bulanan gue.”
Nafan memiliki firasat yang tidak enak, tapi ia juga tidak bisa menolak kemauan si gadis keras kepala yang sudah berdandan cantik di hadapannya itu.
***
Restoran cukup ramai pengunjung ketika mereka datang. Meskipun hampir semua meja sudah penuh, seorang pelayan langsung mengantar Erlita ke sebuah meja yang sangat nyaman dan strategis. Rupanya Erlita sudah mereservasi meja itu sebelumnya.
“Niat banget sih?!” gumam Nafan dalam hati.
Ia bahkan tidak pernah sekalipun kepikiran untuk reservasi tempat di sebuah rumah makan. Bagi Nafan, ia hanya perlu makan, bisa duduk dimana saja. Kalau penuh, ia tinggal mencari tempat makan lain. Ia tidak pernah mau ribet dengan urusan-urusan remeh seperti itu.
Seperti biasa, Erlita memesan banyak menu yang berbeda dan menjadi primadona di restoran itu. Tentu saja harganya pasti tidak murah. Nafan kembali kehilangan nafsu makan membayangkan tagihan yang akan mereka terima.
Meskipun Erlita sudah mengatakan bahwa ia yang akan menraktirnya, Nafan bukan tipe orang yang gampang percaya kepada orang lain tanpa persiapan. Selalu ada kemungkinan bahwa ialah yang pada akhirnya harus membayar semuanya.
__ADS_1
Setelah menyantap habis semua makanan di meja, Erlita meminta pelayan membawakan tagihan ke meja mereka. Karena tagihan rutin perusahaan Susbihardayan tidak berlaku di restoran itu, maka mau tidak mau mereka harus membayar sendiri semua makanan itu.
Erlita menyodorkan kartu debitnya. Lalu pelayan mengambil mesin EDC untuk menggesek kartu debit itu di dekat mereka. Setelah Erlita memasukkan nomor pin, ternyata kartu debitnya ditolak karena saldo tidak mencukupi. Erlita mulai merasa ada yang janggal. Selama hampir dua puluh tahun bekerja untuk neneknya, belum pernah sekalipun Pak Bin lupa untuk mentransfer uang bulanan Erlita.
Erlita kemudian menyerahkan kartu kreditnya. Sama. Kartu kreditnya juga tidak bisa digunakan karena terblokir.
“Diblokir?! Ngga mungkin!” Erlita benar-benar tidak percaya. Semarah apapun neneknya kepadanya, beliau tidak pernah sekalipun memblokir kartu kredit Erlita.
Erlita menyerahkan kelima kartu kreditnya dan semuanya sama, tidak bisa digunakan. Ia benar-benar frustasi. Tak ingin dipermalukan di depan umum, ia meminta uang kepada Nafan dan Nafanpun menyerahkan dompetnya tanpa ragu.
Dompet itu sangat tipis, hanya ada dua lembar ratus ribuan, satu lembar lima puluh ribuan dan beberapa lembar lima ribuan. Jelas tidak akan cukup untuk membayar tagihan mereka yang hampir mencapai satu juta.
Ia memilih kartu debit Nafan, tapi ia kemudian ragu. Mempertimbangkan bahwa hari itu Nafan belum gajian, atmnya pasti kosong. Ia tidak mungkin mempermalukan diri lagi dengan atm yang saldonya tidak mencukupi. Akhirnya ia mengambil kartu kredit milik Nafan.
Erlita senang karna ternyata keputusannya memilih kartu kredit itu tepat. Sekarang masalah sudah teratasi dan ia harus segera pulang untuk memikirkan apa yang sedang terjadi dengan atm dan kartu kreditnya.
Sementara itu Nafan kembali menelan pil pahit karena harus membayar cicilan berbunga hanya untuk sekali makan malam. Ia benci memiliki firasat buruk karena ternyata firasat buruknya itu benar terjadi. Ialah yang pada akhirnya harus membayar tagihan makan malam itu.
***
Keesokan harinya Nafan berangkat lebih pagi untuk bekerja.
"Tumben berangkat pagi-pagi?"
"Ada oprasi gabungan di sisi timur hutan. Jadi aku harus segera kesana."
"Operasi gabungan?"
"Ada para pembalak hutan sedang menebangi pepohonan secara ilegal."
__ADS_1
"Pencurian?"
Nafan mengangguk.
"Apa mereka bersenjata?"
"Bisa jadi. Tapi tenang saja, aman!" Nafan menunjuk pistol yang terselip di saku jaketnya.
"Serius?! Fan, kau tahu itu bisa sangat berbahaya. Bagaimana jika mereka nekat dan menolak untuk menyerahkan diri?"
"Jangan khawatir. Ini adalah bagian dari pekerjaanku. Kami biasa melakukannya. Kali inipun kami akan melakukannya dengan baik dan kembali dalam keadaan selamat. Aku berjanji."
Erlita berusaha percaya meskipun ia masih saja merasa khawatir jika hal buruk menimpa suaminya. Sepertinya ia mulai jatuh cinta dan takut kehilangan pria yang sudah menikahinya itu.
"Bukan gitu, Thor! Bukan soal cinta, Gue cuma takut kalau Nafan kenapa-napa, siapa yang bakal lunasin cicilan kartu kreditnya dan siapa yang bakal nemenin gue tinggal di rumah dinas kecil dan terpencil ini?"
"Bisa aja lo ngeles, Ta. Terserah lo aja lah..." tulis Author.
Dan Nafanpun menepati janjinya, ia berhasil menggagalkan proses pembalakan hutan liar dan mengamankan para pelaku. Ia bergegas kembali ke rumah untuk menemui istrinya.
"Akhirnya... Balik juga lo Fan."
"Emang kenapa, Ta?"
"Ya gue khawatirlah. Kenapa sih lo milik pekerjaan beresiko kaya gini?! Mending lo kerja di kantor Eyang aja. Ngga usah bikin gue deg-degan kaya tadi. Mending kalo gajinya gede, duit cuma segitu-gitu aja lo bela-belain baku tembak sama pembalak hutan."
"Ta, berapa kali saya bilang sama kamu, ini bukan cuma soal uang dan tolong hargai pekerjaan saya."
"Lah kok dia malah sewot. Aturan kan gue yang marah dibuat was-was kaya tadi. Apa sih hebatnya pekerjaan kaya gitu. Heran deh gue." gumam Erlita.
__ADS_1
"Fan, tunggu! Gue belum selesai ngomong!" Erlita segera menyusul suaminya ke kamar.