Cinta, Harta Dan Erlita

Cinta, Harta Dan Erlita
Bab 55


__ADS_3

Waktu terus berlalu dan dengan kesibukan masing-masing acara kumpul keluarga seminggu sekali jadi semakin sulit dilakukan. Meskipun dipaksakan, jarang sekali mereka bisa hadir secara lengkap. Selalu saja ada yang absen bergantian setiap minggu.


Akhirnya mereka sepakat untuk merubah frekuensinya menjadi satu bulan sekali. Dan meskipun hanya sebulan sekali mereka menyepakati bahwa semua harus hadir apapun yang terjadi.


Bulan berikutnya, Bram mengumumkan bahwa ia akan menggabungnkan pabrik catnya dengan pabrik cat milik besannya yang masih menempati urutan pertama pabrik cat terbesar di negaranya.


Meskipun ada sedikit kekhawatiran di hati Nafan, tapi toh ia tetap berbesar hati dan memberi ucapan selamat kepada pamannya itu. Hubungan mereka juga mulai mencair. Tidak jarang mereka saling bertukar pikiran soal urusan bisnis mereka masing-masing.


Sementara itu, Jihan juga mulai menyibukkan diri dengan usaha salon dan klinik kecantikan yang disponsori mertuanya. Sedangkan Johan mulai merambah bisnis game online dengan membuka perusahaan pembuat game online yang berpusat di Jakarta.


Beberapa bulan kemudian, kebahagian Johan kian lengkap ketika Sisil melahirkan seorang anak lak-laki yang sangat lucu. Kulitnya agak gelap seperti ayahnya, tapi garis wajah dan matanya sangat tegas dan indah seperti ibunya.


Mereka menamai anak mereka dengan nama Handoyo, sama seperti nama almarhum kakek Sisil yang meninggal beberapa hari sebelum bayi mungil itu lahir.


***


Erlita merasa sangat senang dengan kelahiran keponakan keduanya. Tapi di sisi lain, ia kembali merasa sedih karena keinginannya untuk hamil tak kunjung dikabulkan Tuhan.


Di tengah kesibukannya mengurus mall dan hotel, Erlita selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Nasya dan Handoyo. Ia sangat meyayangi kedua keponakannya itu. Bahkan tidak jarang ia merengek meminta ijin kepada Jihan agar diperbolehkan mengajak Nasya bermain dan bermalam di rumahnya.


Meskipun Jihan tidak menyukai Erlita, tapi mereka dibesarkan bersama dan memiliki ikatan yang sangat kuat sebagai keluarga. Sehingga meskipun enggan, Jihan kadang terpaksa mengijinkan Erlita membawa Nasya bermain ke rumahnya.


Tak lama kemudian, Erlita dinyatakan positif hamil seorang anak laki-laki. Ia merasa sangat senang. Kehamilan Erlita membuat Nafan menjadi over protektif. Ia meminta Erlita mengurangi semua kesibukannya di kantor dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk memanjakan diri dan beristirahat di rumah.


Karena itu, pekerjaan Nafan jadi semakin bertambah banyak. Disamping mengurusi semua cabang bisnis dibawah naungan Kusumo Group, ia juga harus mengambil alih tugas Erlita di Susbihardayan Mall dan Hotel.


Dengan banyaknya tanggung jawab pekerjaan, Nafan jadi harus sering berpindah-pindah kantor. Bahkan tidak jarang ia tiba-tiba saja harus ke luar kota atau bahkan ke luar negeri untuk mengurusi pekerjaannya.


Sebenarnya itu juga yang menjadi salah satu alasan bagi Nafan untuk tidak terlibat dalam perusahaan kakeknya dan memilih menjadi pegawai negeri. Karena ia jadi kehilangan banyak waktu berharga bersama keluarga seperti apa yang dialaminya sekarang.


Hari itu, setelah menyelesaikan urusannya di kantor Susbihardayan Furniture, ia harus langsung bertolak ke Jogja karena salah satu mall-nya mengalami masalah dan harus ditangani secara langsung.


Selain itu, Erlita juga sudah sebulan ini tinggal di Jogja karena bersikeras ingin melahirkan di Rumah Sakit Cokrokusumo milik keluarga Nafan. Jadi ia ingin bertemu dengan istrinya dulu sebelum bertolak ke Jepang.


Keesokan paginya, ia langsung berangkat ke Jepang untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan sebuah perusahaan furniture besar disana.


Malam itu, Nafan yang sedang ditemani Alan merasa sangat lelah dan ingin beristirahat sejenak di sebuah hotel di pusat kota Tokyo.


Sebelum memejamkan mata, Nafan menyempatkan diri untuk menyapa istrinya melalui sambungan telepon.

__ADS_1


“Hallo sayang!”


“Ya. Fan.”


“Loh, kok lo yang angkat sih Jo?!"


“Lita lagi kontraksi. Ngga sempat pegang hp.”


“Apa?! Ni kalian lagi di rumah sakit?”


“Iya. Istri lo berisik banget di rumah. Jadi gue sama mama bawa aja dia ke rumah sakit biar bisa diem.”


“Emang udah pembukaan berapa?”


“Enam kayaknya.”


“What?!”


Tut..tut...tut...


“Main tutup aja ni anak!” gumam Johan kesal.


“Siapa, Kak?” tanya Erlita ketika keluar dari kamar mandi.


“Ngomong apaan? Kok ditutup sih kak?”


“Orang dia yang tiba-tiba aja nutup kok. Kayaknya lagi sibuk dia.”


Erlita mengambil ponselnya dari Johan lalu kembeli ke tempat tidurnya sembari terus mengelus-elus perutnya yang belum juga mau kembali berkontraksi.


Erlita mencoba menghubungi suaminya kembali tapi sia-sia. Ponsel Nafan sibuk terus. Padahal ia hanya ingin memberitahunya secara langsung bahwa ia baru tiba di rumah sakit karena mulai sering kontraksi. Dan bahwa suaminya itu tidak perlu khawatir karena dokter baru saja memeriksanya dan mengatakan bahwa belum ada tanda-tanda pembukaan jalan lahir.


***


“Tapi, Mas. Kan ngga ada penerbangan direct Tokyo – Jogja? Apalagi malam-malam gini.”


“Lan, kamu mau anakku lahir tanpa didampingi ayahnya?”


“Kan ada dokter, Mas?”

__ADS_1


“Alaaaan!!! Maksud aku, aku yang ngga pengen ngelewatin detik-detik anak aku lahir hanya karena ngga dapet pesawat!”


“Tapi, Mas –“


“Alan, aku ngga mau tahu pokoknya aku harus balik ke Jogja seKarang juga!”


Dan begitulah, malam itu mereka terpaksa bermalam di atas jet pribadi yang susah payah Alan dapatkan di bandara Haneda malam itu.


***


Nafan tiba di rumah sakit dini hari dan Erlita kaget karena tiba-tiba saja suaminya tergopoh-gopoh dan panik mendatanginya yang tengah terlelap tidur.


“Sayang, kamu sudah pulang?”


“Apa kamu baik-baik saja? Johan bilang kamu kesakitan karena mengalami pembukaan enam dan hampir saja melahirkan?”


“Apa?!”


Erlita dan Nafan menatap tajam Johan yang sedang cengar-cengir sembari kembali berpura-pura tidur lagi di sofa di kamar Erlita di rawat.


“Johan!!!!”


Johan hanya mengangkat tangannya dari balik selimut sembari mengacungkan kedua jari tengah dan telunjuknya ke udara.


“Aduh!”


“Sayang, kamu kenapa?”


“Sakit! Sakit banget!”


“Suster!”


Kandungan Erlita kembali berkontraksi dan pembukaan berlangsung sangat cepat. Empat puluh menit kemudian, Nafan mendengar suara tangisan bayinya menggema di ruang persalinan.


Tiba-tiba saja kakinya menjadi lemas dan jantungnya berdegup kencang. Ada kebahagiaan yang membuncah. Ia tidak menyangka bahwa anaknya benar-benar menunggunya datang untuk mau keluar dari perut ibunya.


“Selamat, yo, Mas. Akhirnya sampeyan jadi Bapak juga.”


Nafan memeluk Alan yang selalu setia membantu dan mendampinginya bahkan di saat paling membahagiakan seperti itu.

__ADS_1


“Thanks ya Lan, ngga sia-sia kamu memeras kantongku malam ini. Setidaknya privat jet itu membuatku bisa menyaksikan langsung kelahiran putra pertamaku.”


*******


__ADS_2