
Hari itu adalah hari dimana Erlita akan menumumkan kesepakatan akuisisi dengan perusahaan furniture terbesar se-Asia Tenggara, Kusumo Group, salah satu pesaing bisnis abadi Susbihardayan Group.
Belakangan mereka memimpin jauh di depan berkat dukungan salah seorang pewaris tunggal mereka yang tidak banyak dikenal publik. Sejak kematian pemilik sekaligus pendiri perusahaan, Kusumo Group kian gencar menapaki pasar Eropa dan Amerika dan memiliki performa sangat bagus sebagai perusahaan pengakuisisi.
Sehingga para petinggi memutuskan untuk melepaskan saham Susbihardayan Corp kepada Kusumo group. Semua petinggi Susbihardayan Group sudah berkumpul dan bersiap menanti kedatangan tamu besar mereka.
Erlita tampak sangat gelisah, karena sebenarnya ia tidak rela melepaskan perusahaannya begitu saja. Ia berharap pengumuman akuisisi hari itu tidak pernah terjadi.
Erlita berniat meninggalkan ruangan yang sudah dipenuhi para pemburu berita itu. Tapi tak lama kemudian seorang pria berpakaian rapi memasuki ruangan. Pria yang pernah dikenal Erlita.
“Alan?”
Pria itu dengan sopan memberi salam dan memperkenalkan diri, “Selamat pagi, mohon maaf atas keterlambatan kami. Saya Alan dari Kusumo Group. Dan ini presiden direktur sekaligus pemilik Kusumo Group.”
Tak lama kemudian seorang pria lainnya masuk dengan diikuti beberapa orang pegawainya.
“Nafan?!” Erlita tidak tahu kenapa suaminya ada disana.
Tak ingin Nafan mengganggu kelangsungan acara hari itu, ia menghampiri Nafan dan menyeretnya duduk di sampingnya.
“Buat apa lo datang kesini? Bukannya ini lagi jam kerja? Gue ngga papa kok, lo tenang aja!”
Alan tiba-tiba saja datang menghampiri mereka, “Maaf, Tuan, Nona. Acara harus segera dimulai.”
"Kenapa Sisil bicara seperti itu?"
Sisil segera membuka acara serah terima perusahaan dan pemilik sekaligus CEO baru Susbihardayan Corp yang jarang tampil di hadapan publik untuk memberikan sambutan.
Nafan bangkit dari kursinya, mencium tangan Erlita lalu berjalan menuju podium di atas panggung.
“Tunggu.” Erlita semakin tidak mengerti.
__ADS_1
Nafan memulai pidato pertamanya di depan umum sebagai pewaris tunggal, pemilik, sekaligus CEO Kusumo Group. Ia menyampaikan bahwa akuisisi yang dilakukannya adalah semata-mata karena melihat potensi yang sangat besar yang dimiliki Susbihardayan Corp.
Ia kemudian menambahkan alasan umum lainnya dan menutup dengan pernyataan bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah upaya penggabungan dua kekuatan besar bersama istri tercintanya.
“Sejak kapan kamu tahu?” selidik Erlita kepada Sisil.
“Sejak masih kecil, Nona.” Jawab Sisil santai.
Erlita merasa marah dan kecewa karena dipermainkan. Ia bahkan tidak tahu siapa sebenarnya suaminya. Bagaimana mungkin Nafan yang sangat dipercaya olehnya bisa membohonginya selama ini.
Erlita berdiri lalu pergi meninggalkan ruangan itu. Nafan segera menyusulnya karena khawatir. Dan mereka masuk ke ruangan kerja Erlita.
“Sayang, tenang dulu. Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Apa yang mau lo jelasin? Apa masih ada lagi kebohongan yang belum lo bongkar?”
“Ta, plis dengerin aku dulu! Kakek memang pemilik Kusumo Group, tapi aku ngga pernah pengen terlibat dalam perusahaan kakek. Karena itu aku ikut tes cpns dan kerja di dinas kehutanan. Sejak lulus SMA aku udah keluar dari keluarga kusumo karena aku selalu menganggap bahwa kakeklah penyebab kecelakaan yang dialami kedua orang tuaku. Sampai sebelum meninggal, kakek meyakinkan aku bahwa bukan kakek yang meminta mereka datang ke Jakarta. Sejak kepergian kakek, Alan kewalahan mengurus perusahaan jadi aku terpaksa ninggalin kerjaan aku untuk mengurus perusahaan keluarga. Sama seperti kamu Ta, aku juga punya tanggung jawab kepada jutaan orang yang bekerja di perusahaan kakek.”
“Karena aku sama sekali ngga berniat untuk menjadi pewaris Kusumo Group, sampai ketika kita harus kehilangan anak pertama kita karena masalah ini.”
Nafan mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah “Aku mencoba berkonsultasi dengan Alan dan tim di perusahaan dan mereka setuju untuk mengambil alih perusahaan kamu. Aku ngelakuin semua ini cuma buat kamu dan anak kita, Ta. Ngga lebih.”
“Jadi Sisil sudah lama tahu soal ini?”
“Iyalah Ta, aku dan Sisil sudah berteman sejak kecil. Dia tahu kalau aku cucu Purnomo Cokrokusumo tapi dia juga tahu persis bahwa aku sama sekali ngga tertarik dengan perusahaan kakek.”
Erlita mulai melunak dan berusaha mempercayai perkataan suaminya yang ternyata adalah seorang pewaris tunggal hartawan dan bangsawan Purnomo Cokrokusumo. Bagaimanapun juga Erlita merasa sedikit lega karena melepaskan perusahaannya kepada tangan yang tepat. Tak ada lagi keraguan dan ketakutan di hatinya.
***
Siang itu, setelah melakukan pengumuman akuisisi, Nafan mengajak istrinya bersama Johan, Sisil dan Alan makan siang bersama di sebuah restoran mewah favorit Erlita.
__ADS_1
“Maaf ya, Ta. Selama ini gue terpaksa pura-pura ngga tahu siapa Nafan sebenarnya. Karena gue pikir itu sama sekali ngga penting buat lo.” Sisil berusaha jujur
“Maaf, Mbak Lita, saya sengaja tidak memberi tahu Mbak Lita karena Mas Nafan pasti marah besar kalau kehidupan pribadinya dikait-kaitkan sama Kusumo Grup.” Alan juga merasa bersalah karena tidak memberitahu Erlita.
Sekarang Erlita penasaran apakan Johan yang sangat dipercayanya juga berbohong soal itu. Ia menatap tajam kakak sepupunya yang bersikap santai seolah tidak melihat dan mendengar apa-apa. “Jadi lo juga sudah tahu?”
“Gue......... Gue........” Johan sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk menghindari amukan adik sepupunya itu, “Yah, gue juga baru tahu kok, Ta. Pas kita ke rumah Nafan di Jalan Cemara habis dari ultah lo itu.”
“Apa?!”
“Sori, Fan. Gue keceplosan.”
“Jadi masih ada lagi yang belum gue tahu?”
Nafan kesal dengan mulut ember sepupu istrinya itu. Padahal ia berniat memberikan kejutan di hari kelahiran istrinya nanti. Tapi ia terpaksa membuka semuanya sekarang gara-gara Johan yang tidak bisa menjaga mulutnya.
Toh anaknya juga sudah meninggalkannya lebih dulu. Jadi tidak ada alasan lagi untuk menunda memberitahukannya kepada Erlita.
“Sayang, ngga ada lagi yang aku sembunyiin dari kamu. Aku memang cucu tunggal Purnomo Cokrokusumo dan rumah yang kita tinggali di jalan Cemara itu adalah rumah aku untuk kamu dan anak kita.”
“Jadi, itu rumah kamu? Pantes aja semua pelayan deket banget sama kamu. Jadi mobil mewah yang berderet di tempat parkir kamu itu –“
“Itu baru sebagian dari koleksi Mas Nafan, Mbak. Di Jogja masih banyak. Mas Nafan punya tempat parkir sendiri khusus untuk menyimpan koleksi mobil antik dan mewahnya.”
Kini Erlita benar-benar terbelalak. “Apa pekerjaan kamu sebagai PNS itu juga bohong?”
“Ngga, Ta. Itu satu-satunya bagian yang paling jujur. Aku memang terdaftar sebagai pegawai negeri. Aku menjadi PNS karena merasa sudah cukup memiliki kehidupan berlimpah. Jadi aku ingin mengabdikan hidupku untuk orang lain, bangsa dan negara. Dan kenapa polisi hutan? Itu karena aku selalu berfikir bahwa kalau saja waktu itu tidak terjadi longsor akibat hutan gundul, mungkin jenasah ibu kamu bisa ditemukan, bahkan mungkin masih dalam keadaan selamat. Tapi hari itu, hujan sangat deras dan tiba-tiba saja air bah datang disertai longsor. Akibatnya tubuh ibu kamu terseret arus banjir dan –“
Nafan menghentikan ceritanya karena melihat Erlita sangat tersiksa setiap kali mendengar cerita tentang kematian ibunya.
“Maafin aku, Ta.”
__ADS_1