
Setelah kedatangan Wina kemarin, Rahma menata hati dan fikirannya, ia tak ingin terlihat kalah apalagi menyedihkan. Sebisa mungkin ia harus terlihat kuat, meski di dalam sana sakit. Aku harus kuat. Begitu kiranya Rahma menyamangati dirinya sendiri.
"Ra, mas berangkat kerja dulu ya. Nanti siang mas transfer uang bulanan buat kamu, tolong di hemat ya, kalau kurang pake uang kamu aja dulu". Ucap Andhika pagi itu kala ia berangkat kerja.
"Iya mas, tenang aja kan emang kalau kurang selalu pake uang aku". Timpal Rahma.
Kemudian Andhika menghentikan tangannya yang sedang memasukan beberapa file kerjaannya.
"Kok kamu gitu sih jawabnya, kaya yang gak terima gitu". Ucapnya kembali.
"Mas bukannya aku gak terima, selama ini memang mas suka kurang kan ngasih duit bulanan, dan itu selalu kurang, dan tentunya juga kekurangannya pake uang aku, apalagi sekarang ada ibu dan adik adik kamu, makin geude pengeluaran kita mas, sedangkan kamu mikirin enggak kekurangan itu. Atau jangan jangan kamu di belakang aku punya selingkuhan atau istri simpanan sehingga nafkahku kamu bagi bagi mas". Skakmat Rahma kemudian.
DEGH!
Andhika seketika kaget!
"Jangan ngawur kamu. Pagi pagi ngomongnya udah kemana aja. Makanya itu otak jangan di pake buat ngekhayal novel kamu gak jelas itu". Serang Andhika tak terima.
"Gak jelas kamu bilang mas, kalau gak jelas lantas uang yang aku gunakan dari mana sumbernya kalau bukan dari hasil tulisku". Bela Rahma untuk dirinya.
"Halaaahh baru bikin novel segitu saja sudah sombong, paling berapa sih uang yang kamu dapetin dari nulismu itu". Ucap Andhika dengan berdecih.
"Terserah kamu mas".
"Iya lah istri itu harus nurut apa kata suami, dan kamu ingat Rahma, aku tidak berselingkuh apalagi punya istri simpanan seperti yang kamu katakan". Ucap Andhika sambil berlalu dari hadapan Rahma.
Saat Andhika turun terlihat ibunya sedang duduk dimeja makan, ia hampir selesai dengan sarapannya yang telah di buatkan Rahma.
"Dhika, pagi pagi itu muka udah kusut begitu kenapa, Rahma berulah.?" Tanya sang ibu kemudian.
"Aku bingung bu, kaya nya Rahma curiga deh sama aku perihal aku udah nikah lagi". Ucapnya seraya memakan roti bakarnya.
"Terus kalau Rahma tau emang kenapa, biarlah istrimu tau, biar dia tau diri kalau dia tuh jadi istri gak berguna". Timpal sang ibu.
"Maksud ibu". Tanya Andhika kemudian seraya menoleh ke muka ibu nya.
"Ya kamu fikir dong, masa udah nikah 2 tahun tapi belum hamil juga, jangan jangan istrimu mandul, ibu tuh udah tua, ibu pengen cepet cepet gendong cucu." kembali ibunya berucap.
__ADS_1
"Rahma emang sengaja nunda kehamilannya dulu, katanya belum siap bu, itu sih yang aku dengar waktu kami membicarakan perihal punya anak dulu". Jawab Andhika kembali.
"Ciih.. Paling juga itu hanya alasan istrimu saja".
"Sudah lah bu, Dhika bingung". Ucap Andhika sambil menundukan kepala nya.
"Apa yang membuatmu bingung..?" Tanya sang ibu.
"Wina bu, Wina minta tinggal disini bersama kita". Ucap Andhika dengan nada bicara lesu.
Seketika bola mata bu Lia berbinar.
"Bagus dong Dhik, ibu setuju Wina tinggal di sini, biar sekalian istri tua mu itu tau diri".
"Kok ibu malah setuju sih, aku takut Rahma marah bu". Ratap Andhika.
"Kamu ini jadi laki takut sama istri, biar ibu yang hadapin Rahma, dia fikir dia siapa sok berkuasa". Ucap bu Lia dengan geram.
"Tapi bu Rum-..".
"Sudah sana kamu berangkat kerja, udah siang, biar semuanya ibu yang handle". Ucap bu Lia memotong ucapan Andhika.
Andhika pun beranjak dari kursi meja makan dan berjalan ke pintu utama.
💟
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel nya Rahma, Rahma pun kemudian membuka pesan tersebut.
"Hah! Cuma satu juta, ini gak salah..?" Ucap Rahma, malah semakin berkurang.
Tak lama kemudian pesan dari suaminya pun masuk.
"Ra, udah masuk uangnya, di hemat ya jangan boros boros dan kalau kurang pake uang kamu dulu nanti mas ganti".
Setelah Rahma membaca pesan tersebut ada rasa marah yang bergejolak di hatinya.
__ADS_1
"Segini mana cukup mas, belum beli bahan makanan, bayar listri bayar air, kok semakin kurang sih mas?". Balas pesan Rahma pada suaminya.
"Kan mas udah bilang pake uang kamu dulu Rahma, udah ya mas lagi kerja, jangan ganggu mas sama pesan pesan kamu yang isinya hanya marah marah saja bisanya".
Rahma pun hanya bisa menghela nafas setelah membaca pesan sang suami yang di kirim untuknya, kemudian ia menyimpan kembali ponselnya di atas nakas samping tempat tidur nya.
Ditempat Lain...
"Wahh makasih ya mas. Uangnya kamu emang suami terbaik pokoknya" pesan Wina yang di kirim untuk Andhika.
"Iya sama sama sayang, beli ya apa yang kam mau dan kamu suka, kalau kurang nanti bilang sama mas", balas Andhika kembali.
"Siaaappp sayang, kalau gitu aku mau siap siap dulu ya, mau shopping sama temen temen aku, daaahh masku sayang". Balas Wina kemudian dengan di akhiri emot cium banyak.
"Iya sayang hati hati ya, inget jangan nakal, oke..!" Balas Andhika serta emot cium juga di akhir pesan nya.
...
Kekesalan Rahma belum juga reda saat ia turun ke bawah, ia mendengar ucapan ibi mertua serta adik iparnya Rina.
"Akhirnya masuk juga transferan dari Andhika, di tambahin 2 juta lagi". Ucap bu Lia sambil menatap ponselnya.
"Aku juga bu, bang Dhika lebihin transfer nya 1 juta, kalau begini terus aku gak usah repot repot kerja dong bu". Tutur Rina.
"Iya kamu bener Rin, kita udah hidup mewah apapun bisa kita beli dengan menggunakan uang dari abangmu, jangan cuma si Rahma saja yang nikmatin uang hasil keringat Andhika, tinggal di rumah se mewah ini saja udah cukup bagi dia". Timpal bu Lia kembali dengan sorot mata membenci.
"Ibu benar, enak saja mbak Rahma itu, dia fikir siapa, cuma istri mas Andhika saja, tidak sepatutnya dia nikmatin ke mewahan ini". Ucap Rina kembali.
Tanpa mereka sadari Rahma mendengar ucapan ibu mertua serta adik iparnya itu.
Kemudian ia berjalan melewati sang mertua dan adiknya.
"Heh Rahma, kamu udah di transfer duit kan sama anak saya, inget ya itu buat beli bahan masakan, jangan kamu pake sama keperluan kamu yang gak jelas itu, kamu hanya seorang istri tugasmu diam di rumah melayani suami dan kebutuhannya". Ucap bu Lia panjang lebar.
Seketika langkah Rahma terhenti.
"Ibu tenang saja, aku tau kok apa yang harus aku lakukan". Ucapnya dan berjalan kembali tanpa menoleh kepada sang mertua.
__ADS_1
Sungguh ia ingin segera menghentikan sandiwara keluarga Andhika yang benalu. akan tetapi Rahma fikir ini belum saatnya.
-Bersambung...