
Rahma baru saja sampai di rumahnya setelah menjenguk temannya di rumah sakit tadi sore.
Dengan rintik-rintik hujan sore itu, Rahma keluar dari mobilnya dengan sedikit berlari.
"Hati-hati mbak takut kepeleset." Dina yang sedang berdiri di depan pintu utama menyongsong menyambut Rahma dan membantu membawakan beberapa kantong plastik di tangan Rahma.
"Iya Din.." tutur Rahma setelah sampai di teras rumahnya.
"Beli apa sih mbak banyak banget." tutur Dina setelah keduanya masuk dan berjalan beriringan.
"Itu beli soto ayam yang di depan pertigaan itu, kaya nya enak dari aromanya, terus pembelinya juga tadi ngantri." ucap Rahma lalu mendudukan bokongnya di kursi meja makan.
"Oh gitu, ya udah biar aku pindahin dulu ke mangkok ya." ucap Dina sambil berlalu ke arah dapur.
Zein yang mendengar suara adiknya itu keluar dari dalam kamarnya, setelah meeting tadi pagi, ia tidak kembali lagi ke kantor dengan alasan tidak enak badan pada sekretarisnya tadi.
"Baru pulang Ra.. ?" sapa Zein, dan mendudukan dirinya juga di samping Rahma.
"Iya, abang kenapa kok mukanya pucet, abang sakit." tutur Rahma lalu mengecek keningnya menggunakan punggung tangannya.
"Badan abang agak panas, biar aku buatin air jahe yaaa. Tapi abang makan dulu, kebetulan aku barusan beli soto ayam." ucap Rahma kembali, sedangkan Zein hanya tersenyum mendapatkan perhatian dari sang adik.
"Soto ayam daaataaang..." Sosok Dina muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisi tiga mangkok soto ayam.
"Kamu tau aja kalau ada bang Zein, Din." tutur Rahma.
"Tau dong mbak, kan aku denger suaranya."
__ADS_1
Kemudian ketiganya pun menikmati santapan soto ayam kala magrib menjelang dengan di temani rintik-rintik hujan.
Setelah menghabiskan satu mangkok soto ayam, kini Rahma sedang berada di dapur membuat air jahe untuk abangnya itu.
.
Di dalam ruangan yang bernuansa serba putih itu, seorang gadis tergugu melihat sang mami terbaring lemah di ranjang rumah sakit tersebut.
"Mi, mami harus kuat yaaa, jangan tinggalin Nay, Nay gak sanggup kehilangan mami." tangis gadis itu makin terlihat dengan air matanya yang lolos mengenai pipi mulus nya.
Wanita yang sedang berbaring itu mengulas senyumnya, sambil mengenggam tangan sang putri. "Kalau mami gak kuat, bagaimana sayang, kamu harus kuat dan menerimanya kalau mami pergi, kamu jaga papi kamu jangan sampai terjatuh pada wanita malam."
Nayla menggelengkan kepala nya dengan cepat. " Enggak mi, mami harus kuat demi aku dan Andi."
Wanita yang masih terbaring itu hanya mengulas senyumnya. Lalu tak lama pintu ruangan terbuka, muncul seorang remaja yang masih duduk di bangku SMA itu.
"Biasa Ndi, penyakit mami, kamu belum pulang ke rumah.?" tanya Nayla yang melihat adiknya masih menggunakan pakaian yang sama saat berangkat sekolah tadi.
"Belum kak, tadi aku ada eskul tambahan jadi pulangnya agak telat, teruskan rumah kita melewati rumah sakit ini, jadi aku sekalian aja mampir dulu." tutur remaja itu panjang kali lebar.
Nayla pun mengerti dan menganggukan kepalanya.
"Kamu udah makan belum.?" tanya Nayla setelah beberapa saat hening.
"Belum kak." jawabnya, dengan nyengir kuda.
Nayla pun menggelengkan kepala nya. "Ya sudah, kamu temenin mami dulu ya, kakak cari makan dulu, kamu mau makan sama apa.?"
__ADS_1
"Apa aja kak, kakak hati-hati ya." tutur Andi dan di balas senyuman serta anggukan oleh kakak nya itu.
.
Pagi ini badan Zein sedikit enakan panasnya pun sudah turun setelah semalam di beri obat serta minuman hangat jahe oleh adiknya itu.
Ia pun segera mandi dan bersiap untuk berangkat ke kantornya lagi, hari-hari nya sekarang selalu sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk, banyaknya berkas yang harus ia cek ulang dan harus mentanda tangani nya.
Perusahaan yang di bangun almarhum sang papa kini melambung tinggi dan sukses di tangan Zein Alfian, tentu hal itu juga tak lepas dari ajaran sang papa.
Setelah selesai mandi dan memakai baju kantoran, kini Zein sedang menyantap nasi goreng buatan asistennya, dengan di temani secangkir kopi hitam, ia melahap sarapannya itu.
"Abang udah baikan emang.?" tanya Rahma dari arah tangga. Ia baru saja selesai dengan ritual mandi pagi nya.
"Udah, kamu tenang aja, cuma pusing dan panas aja, tidak membuat abang harus lama-lama terbaring di tempat tidur." kekehnya, lalu meneguk segelas air putih, setelah sepiring nasi goreng tandas tak tersisa.
Rahma pun sampai dan segera duduk di salah satu kursi meja makan. "Syukur deh kalau emang udah mendingan."
"Ya udah abang berangkat dulu, hari ini kamu gak kemana-mana?" tanya Zein melihat sang adik masih menggunakan baju santainya ala rumahan itu.
Rahma menggelengkan kepalanya sambil berucap. "Kaya nya nggak deh bang, aku lagi pengen di rumah."
"Oh gitu, ya udah abang pamit yaa. Bye my babi girl." ucap Zein seraya mengacak rambutnya Rahma.
Rahma hanya bisa mencebikan bibirnya melihat kelakuan kakak nya itu, yang selalu saja menganggap dirinya gadis kecil yang manja.
Kemudian ia pun menikmati nasi goreng nya, sambil memainkan ponselnya berselancar di sosial media instagram nya.
__ADS_1
-Bersambung...