Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab043. Pria Menyebalkan


__ADS_3

Rahma baru saja tiba setelah pertemuannya dengan orang yang akan membeli rumahnya tersebut. Setelah ia menimbang-nimbangi akhirnya usulan abang serta Dina ia turuti untuk menjual saja rumahnya itu, ada benarnya juga yang di katakan abangnya tempo hari.


Akan tetapi ia akan kembali meminta pendapat dari sang abang, berapa kira-kira harga yang akan di tawarkan untuk rumahnya itu.


Lima belas menit kemudian Rahma sampai dari rumahnya tadi, karna lokasi rumah itu dengan rumah abangnya yang ia tempati sekarang tidak jauh. Letaknya berada di belakang kompleks rumah sang abang.


"Assalamualaikum.."


Saat Rahma memasuki pintu utama tak ada sambutan salam dari dalam rumah itu, di sana nampak begitu sepi.


"Pada kemana ya, tumben sepi." gumam nya.


Lalu ia melirik jam tangan di pergelangan tangan sebelah kiri, waktu menunjukan pukul dua siang lebih lima belas menit.


'Tumben Dina belum pulang.' ucapnya di dalam hati.


Kemudian ia berjalan ke arah samping dapur, melihat ada tidaknya asistennya di rumah.


"Teh Sumi..?" panggilnya


"I-iya neng." Sumi pun berjalan tergopoh menghampiri majikannya.


"Ada yang bisa teteh bantu neng." ucapnya, setelah sampai di depan Rahma.


"Nggak! Cuma nge cek aja, kirain teteh pergi soalnya pas masuk sepi." tutur Rahma.


"Oh teteh lagi nyetrika neng, gak ke dengeran maaf yaa." ucap asistennya itu merasa bersalah.


"Gak apa-apa, ya udah lanjut aja nyetrika nya, aku mau naik dulu, mau istrirahat." timpal Rahma, kemudian ia berbalik kembali, setelah jawaban anggukan kepala dari asistennya.


.


Malam pun tiba, setelah makan malam Rahma mengajak abangnya untuk ngobrol di ruang keluarga, sedangkan Dima tadi langsung naik ke atas ada tugas kuliahnya yang belum ia selesaikan.


"Tumben ngajak abang ngobrol, ada apa nih." tutur Zein lalu duduk di sofa tunggal ruangan itu.


"Emang kenapa, aku ganggu yaaa." ucap Rahma dengan mencebikkan bibirnya.


Lalu ia pun juga duduk di sofa panjang, di sana ada hewan berbulu kesayangannya sedang tidur pulas.


"Becanda baby! Oya gimana tadi soal rumah kamu itu, jadi gak orang nya.?" tanya Zein kemudian, lalu ia raih cangkir kopi, setelah beberapa saat asistennya mengantarkan kopi tersebut.


"Ini yang mau aku obrolin sama abang, dan aku minta pendapat abang." urai Rahma sambil mengelus hewan kesayangannya itu.


"Oke, kalau gitu apa yang kamu minta dari pendapat abang." tutur Zein, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


"Mereka cocok bang sama rumah itu, dan kata nya mau langsung beli aja, kalau aku ngasih." ucap Rahma.


"Lalu, sekarang mau nya gimana?"


"Udah aku fikirin mateng-mateng soal rumah itu dan akhirnya aku memutuskan untuk menjualnya bang, dan di sini aku minta pendapat abang. Bagaimana cocoknya untuk harga rumah itu. Aku gak mau langsung tawarin gitu aja takut kemahalan." tutur Rahma panjang lebar.

__ADS_1


Zein pun manggut-manggut mendengar ucapan adiknya itu.


"Ikuti harga pasaran aja Ra kalau menurut abang. Kalau kamu mau nanti tinggal kasih diskon aja, beberapa persen gitu." jawab Zein dengan mantap.


"Oke deh, makasih ya bang, abang selalu bisa di andelin." ucap Rahma dengan senyum hangat ia berikan pada abangnya itu.


"Sama-sama Ra." jawab Zein dan di balas dengan senyuman juga.


.


Setelah Rahma mendapatkan saran dari sang abang dan ia sudah tentukan pula harga serta diskon yang akan di berikan pada pembeli rumahnya itu.


Ia juga telah menyiapkan sertifikatnya.


Hari ini ia akan kembali ke rumah itu guna untuk menyelesaikan jual beli rumah, lebih cepat lebih bagus, begitu fikirnya.


(Baik Bu, saya segera ke sana). Tutur Rahma setelah menerima telepon dari bu Mega, menanyakan ia akan datang atau tidak hari ini.


Setelah beberapa menit, ia pun akhirnya sampai di rumah itu. Kemudian ia turun dari mobilnya, lalu berjalan ke arah rumaj yang pintu nya sudah terbuka lebar.


"Assalamualaikum.." ucapnya, setelah sampai tepat di depan pintu yang terbuka.


"Waalaikumsalam, ayo Nak Rahma masuk sudah di tunggu suami saya di dalam" ucap bu Mega itu seraya menggandeng tangannya Rahma.


Lalu keduanya pun berjalan melewati ruang tamu, dan menuju ruang keluarga untuk di jadikannya rencana jual beli rumah itu.


Di sana terlihat pak Surya dengan pakaian santai nya, lalu berdiri setelah melihat kedatangan sosok yang di tunggunya sedari tadi.


"Hallo Nak Rahma udah sampai rupa nya" ucap pak Surya basa-basi.


"Silahkan duduk, Nak. Ibu buatin minum dulu." tutur bu Mega lalu berjalan ke arah dapur.


"Maaf ya Pak saya agak siang kesini nya." tutur Rahma, setelah mendudukkan bokongnya di sofa tunggal ruangan itu.


"Tidak apa-apa lagian kan hari ini tanggal merah juga, saya juga libur kantor." kekeh lelaki itu yang usia nya baru menginjak 45 tahun itu.


"Iya pak, maka nya tadi juga saya sedikit males untuk bangun, apalagi cuaca sekarang ini, gak menentu, kadang pagi-pagi udah turun hujan." tutur Rahma.


Tak lama kemudian, bu Mega pun muncul dari arah dapur membawa nampan di tangannya, di sana terlihat tiga gelas teh manis dan satu piring kue bolu.


"Silahkan Nak, di minum, maaf ya ibu belum ada makanan ini juga di kasih tetangga depan sebagai bentuk perkenalan." tutur bu Mega menyodorkan bolu itu di hadapan Rahma.


"Makasih bu, gak usah repot-repot." ucap Rahma lalu tersenyum.


Dan setelahnya ketiga nya pun larut dalam obrolan jual beli rumah itu, ketiga nya pun tersenyum sesaat setelah bersalaman tanda deal rumah sudah jadi milik pak Surya.


"Terimakasih ya Nak, saya puas dengan harga nya di kasih diskon lagi." tutur pak Surya dengan senyum sumringah tak kalah bu Mega juga jauh lebih puas.


"Sama-sama pak bu, saya hanya mengikuti pasaran harga jual beli rumah di kota ini." ucap Rahma dengan tersenyum.


"Baiklah, sekali lagi makasih." ucap pak Surya kembali dan anggukan kepala serta senyum tulus Rahma berikan pada kedua pasangan suami istri itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya pak bu." tutur Rahma kembali.


"Jangan buru-buru Nak, gimana kalau kita makan siang dulu, sebagai pesta kecil-kecilan atas kerja sama kita yang kecil juga" kekeh bu Mega kemudian tertawa.


"Iya nak betul yang di katakan istri saya, lagian ini udah memasuki jam makan siang." ajak pak Surya juga.


Rahma pun terdiam beberapa saat.


"Ayo nak, ibu sendiri loh yang masak. Yuk cobain." bujuk bu Mega kembali.


"Nah! Kamu harus cobain masakan istri saya, pokoknya jempolan." puji pak Surya seraya mengacungkan jari jempolnya.


Rahma pun tak bisa menolak ajakan suami istri itu, lalu ia menganggukan kepala nya, dan di sambut senyuman bu Mega.


"Kalau gitu papa ajak duluan ke meja makan, mama mau panggil Rey dulu." tutur bu Mega lalu ia pun melangkahlan kakina ke lantai atas, dimana kamar sang putra tunggal berada di sana.


Tak lama bu Mega serta Reyhan pun turun sambil ngobrol-ngobrol kecil, saat tiba di meja makan, Rey kembali bertemu dengan wanita yang selalu membuatnya naik tensi, entahlah ia juga tidak mengerti.


"Kamu lagi wanita aneh." tiba-tiba Rey berucap dan secara refleks Rahma juga menoleh ke arah laki-laki itu.


"Kenapa?. Maaf ya aku sedang tidak ingin berdebat dengan anda wahai pria menyebalkan" tutur Rahma.


"Ma, kenapa dia di ajak makan sih, kalau udah selesai kenapa gak langsung pulang aja." ucap Rey kesal, entah lah apa yang membuat ia sekesal itu pada perempuan di hadapannya.


"Rey! Gak boleh gitu ah ngomongnya, gak baik, ini tamu kita Rey." tutur bu Mega memelankan suaranya.


Lalu ia mengarahkan senyum pada Rahma.


"Gimana masakannya enak gak." tanya bu Mega dengan senyumnya.


"Enak bu, enak banget." jawab Rahma dengan tersenyum pula.


"Makanya saya lebih suka masakan di rumah, Rey juga." timpal pak Surya setelah menelan kunyahan nasi nya.


"Iyalah enak, gratisss", ucap Rey tiba-tiba dengan tatapan tak bersalahnya.


"REY.." ucap bu Mega sedikit meninggikan suaranya.


"Gak apa-apa tante, saya udah kok makan nya mau langsung permisi aja, soalnya udah di tunggu kakak saya di rumah." ucap Rahma beralasan, padahal ia kesal bukan main pada laki-laki di hadapannya sekarang.


"Oh gitu, sekali lagi maafin atas kata-kata Rey ya." tutur bu Mega lagi.


"Iya santai bu."


Lalu Rahma berdiri dari duduknya begitu juga dengan bu Mega, ia berniat mengantarkan Rahma sampai teras depan.


"Pak, saya permisi dulu ya, makasih atas jamuannya." ucap Rahma seraya tersenyum ke arah pak Surya.


"Iya sama-sama, kamu hati-hati ya." tutur pak Surya dan Rahma pun menganggukan kepalanya seraya tersenyum.


Tak lupa sebelum ia keluar dari rumah itu, ia mengambil tasnya yang di taro di atas sofa tadi. Lalu ia melangkahkan kakinya menuju pintu utama dengan di antar bu Mega.

__ADS_1


Setelah keduanya berbasa-basi, akhirnya Rahma meninggalkan rumah itu dengan membawa sedikit kekesalan pada pria menyebalkan itu.


-Bersambung...


__ADS_2