
Matahari pagi menyinari dunia di iringi hembusan angin sepoy sepoy yang membuat tubuh pagi itu terasa begitu segar.
Rahma baru saja turun dari lantai atas menuju dapur, setelah hidungnya mencium bau masakan pagi itu.
"Mmm.. Wanginya, masak apa Din sampe sampe hidung mbak mau loncat nih nyium wanginya". Ucap Rahma terkekeh seraya melihat Dina mengaduk nasi goreng di wajan.
"Ah mbak bisa aja, kalau hidung mbak loncat terus masuk kesini jadi nasi goreng hidung mbak Rahma dong".
Rahma pun tergelak mendengar jawaban adik iparnya.
"Kalau nasi goreng nya enak sih gapapa, aku makan juga kok". Ucap Rahma yang masih di iringi tawanya.
"Mbak, cobain nih kurang apa..?" Tanya Dina setelah tawa keduanya terhenti.
"Udah gak usah di cobain masakan kamu selalu pas di mulut mbak, rasanya enak, seperti orangnya enak di pandang". Tutur Rahma dengan tawanya kembali.
Rahma begitu senang jika sudah menjahili adik iparnya itu.
"Mbak paling bisa deh". Ucap Dina, seraya menuangkan nasi goreng ke dalam mangkuk besar.
"Bisa dong!.. Sini mbak bantuin siapin di meja". Tutur Rahma sambil mengambil alih mangkuk nasi goreng tersebut dan menata nya di meja makan.
Beberapa saat kemudian..
Semangkuk besar nasi goreng, telor dadar dan goreng kerupuk telah tersaji rapi di meja makan.
Rahma dan Dina pun kemudian sarapan bersama tanpa memanggil anggota keluarga yang lainnya. Toh mereka fikir kalau sudah pada lapar pasti makan sendiri, tidak usah selalu di panggil.
Saat keduanya asyik menikmati sarapannya tiba tiba sang ibu juga Rina muncul dari arah ruang tamu.
"Kalian sarapan kok gak panggil kita sih..?" ketus bu Lia seraya mendudukan bokongnya di kursi meja makan dan detik kemudian menyendok nasi goreng.
"Emang harus ya selalu kita panggil saat akan sarapan atau makan, kita mau BAB yang nyamperin kita atau WC nya bu?" Tanya Rahma seraya tersenyum kecut.
"Kamu ini lagi makan ngomongin yang jorok jorok gak sopan banget jadi mantu". Tutur bu Lia tidak terima.
__ADS_1
"Yang di katakan mbak Rahma bener ada nya kok bu". Timpal Dina seraya berdiri dan membawa piring bekas dia sarapannya.
"Dina kamu itu jangan ikut ikutan mbak iparmu itu, emang dia siapa sih. Kok kamu lebih condong ke dia". Dina ikut menimpali pembicaraan pagi itu.
Tiba tiba dari arah tangga muncul Andhika, ia baru saja bangun tidur, kebetulan hari ini, hari sabtu ia libur kantor dan suka bangun siang jika memasuki hari libur.
"Ini ada apa sih pagi pagi udah ribut aja. Malu kalau di denger sama tetangga". Ucap Andhika seraya menuangkan air minum.
"Tuh istrimu, bukannya bangunin kamu buat sarapan eh malah duluan sarapan gak ngehargain banget dia jadi istri". Lagi, sang ibu mertua bicara dengan bersungut dengan sorot mata yang tak suka kepada Rahma.
Tanpa menjawab omongan suami juga mertuanya, Rahma berdiri dan berlalu ke dapur sambil membawa piring bekas makannya.
Dan setelah ia kembali dari dapur ia berucap.
"Tolong ya abis sarapan bekas sarapannya di rapiin dan meja nya di lap".
Setelah mengatakan itu ia berlalu ke atas. Dan masih terdengar ibu mertuanya mengomeli dirinya. Rahma pun tidak peduli ia terus naik ke atas menuju kamar nya.
💟
Tok!
Tok!
Tok!
"Mbak Wina..?" Ucap Dina dengan sorot mata yang membulat.
Ia kaget kedatangan Wina kali ini membawa sebuah koper besar.
"Iya kenapa kok kaget, kaya liat setan aja, permisi". Ucapnya bernada angkuh dan melewati Dina yang masih kaget itu.
Saat tiba di ruang tengah, Wina mendudukan bokongnya dengan seenaknya, kemudian ia memainkan ponselnya. Guna mengirim pesan pada Andhika bahwa ia ada di bawah sedang menunggunya.
Sesaat kemudian Andhika turun dari lantai atas seraya setengah berlari.
__ADS_1
Saat ia tiba, Andhika di kagetkan dengan sebuah koper besar di samping sofa yang di duduki Wina.
"Kamu mau kemana bawa bawa koper segeude itu?". Tanya Andhika seraya duduk di sofa samping Wina.
"Ya mau tinggal di sini lah mas, masa cuma Rahma aja yang nikmatin rumah segeude ini, aku juga istri kamu, aku juga berhak atas rumah ini". Ucap Wina dengan nada agak lantang
Saat mendengar keributan di luar kamar, bu Lia dan Rina pun keluar dari kamar masing masing.
"Ini ada apa Dhika, Wina datang bukannya di sambut malah dimarahin". Protes sang ibu seraya berjalan ke arah mereka, sedangkan Rina mengekori ibunya.
"Ini loh bu, mas Dhika masa aku gak boleh tinggal di sini, aku juga kan istrinya, bukan si Rahma saja". Ucap Wina pura pura merajuk.
"Kata siapa gak boleh, kamu boleh kok tinggal di sini siapa pun tidak akan ada yang bisa melarangnya." Ucap bu Lia dengan mantap.
Tiba tiba dari arah samping Rahma datang.
"Siapa yang tidak akan melarang..? Kalian fikir ini rumah siapa"?
"Ra-rahma.." Andhika bergumam pelan namun masih bisa di dengar
"Kenapa mas kaget, kaget aku ada di sini. Kenapa harus kaget aku aja yang dengar kamu nikah sama Wina gak kaget tuh biasa aja". Ucap Rahma dengan sekuat hatinya mengeluarkan kata kata tersebut.
"Bukan begitu Ra, dengerin dulu penjelasan mas". Andhika berucap sambil berjalan ke arah Rahma.
"Apanya yang bukan begitu, semuanya sudah jelas mas, aku sudah tau perselingkuhan kalian sejak lama, bahkan dimana hari kalian menikah pun aku tau mas, jadi apa yang akan kamu jelaskan..?" Tutur Rahma kembali dengan sorot mata ke arah lain
"Aku tau aku salah Ra, tolong maafin aku, kalian bisa tinggal di sini bareng dan hidup rukun kan kalian juga sahabatan bukan". Ucap Andhika dengan entengnya.
"Apa kamu bilang mas, hidup rukun, aku gak bisa, sebaiknya ceraikan aku dan segera kalian angkat kaki dari rumah ini". Suara Rahma kembali berucap.
"Eeh apa kamu bilang kita angkat kaki gak salah, yang ada kamu Rahma angkat kaki dari rumah ini, rumah ini milik anakku apa hakmu usir kita". Tiba tiba bu Lia berucap tak terima.
"Apa rumah anak ibu, sebaiknya ibu tanya sama anak ibu itu, ini rumah siapa, dan di beli pake uang siapa, sebelum atau sesudah nikah kah rumah ini berdiri". Tutur Rahma seraya pergi meninggalkan anggota keluarga benalu tersebut. Sedangkan Dina entah pergi kemana anak itu tidak terlihat saat pertengkaran yang terjadi hari itu.
Saat tiba di kamar dan menguncinya, air mata Rahma luruh dan menangis sejadi nya, sungguh sakit hatinya atas perlakuan suami serta ibu mertuanya.
__ADS_1
Ia ingin menghubungi abangnya, akan tetapi ia berfikir selama masalah itu ia bisa hadapi sendiri, tentu ia akan menghadapinya tanpa bantuan abangnya.
-Bersambung...