
Pagi-pagi awan hitam menghiasi langit, menandakan hujan akan segera turun kembali. Cuaca seperti ini membuat setiap manusia malas untuk beraktivitas di cuaca hujan seperti ini.
Dan akhirnya hujan pun benar-benar turun memabasahi bumi.
"Ya hujan! Mana udah rapi nih" tutur Rahma seraya memanyunkan bibirnya.
"Emang kalau hujan kenapa gitu Ra." ucap sang abang kemudian.
"Males aja bang, belum lagi nanti harus macet-macetan karena ada beberapa titik jalan yang rawan banjir, kalau kaya gini mending bobo lagi ah." ucapnya lagi lalu tubuhnya di hempaskan ke sofa.
"Ya udah sih kalau emang gak penting-penting banget kamu gak perlu lah datang tiap hari ke resto, kamu bisa pantau dari rumah itu udah cukup, tunjuk aja salah satu karyawan yang benar-benar kamu percaya." saran Zein kemudian meraih cangkir kopi yang telah tersedia sebelum ia keluar dari kamar nya tadi.
"Iya juga ya bang, kok aku gak kefikiran sih." kekeh Rahma.
"Ujan gini enaknya makan apa ya.?" ucap Zein.
"Mie kaya nya enak bang, panas-panas terus pedes-pedes gimana gitu." ucap Rahma seraya tersenyum lebar.
"Iya kamu sih enak, makan mie pake cabe, bisa pedes abang mana bisa". Ucap Zein dengan sedikit memanyunkan bibirnya.
"Abang gak usah galau gitu deh, karena gak bisa makan pedes, nih aku bikin bakwan, enak kan panas-panas minumnya kopi." tutur Dina tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan membawa sepiring bakwan yang masih panas, terlihat asap masih mengepul dari goreng bakwan tersebut.
Rahma serta Zein pun kemudian menoleh ke arah sumber suara.
"Nah ini baru cocok" ucap Zein kemudian mengambil satu goreng bakwan yang sudah tersedia di meja.
"Gimana enak bang" tanya Dina kemudian.
__ADS_1
"Mmmm,, manyooosss". Tutur Zein dan di sambut tawa oleh Dina.
"Aku juga mau dong" Rahma juga menyamber gorengan yang tersedia di piring.
"Ehh Din, ini enaknya di makan sama cabe tau." tutur Rahma, setelah menggigit goreng bakwan nya tersebut.
"Ah iya aku hampir lupa, sebentar ya aku ambil dulu, tadi juga aku udah siapin sih" tutur Dina seraya terkekeh kecil.
.
Sampai jam 10 siang pun hujan masih belum reda ke tiga anak manusia tadi masih santai dengan duduk nya di sofa ruang tengah.
Tiba-tiba muncul dari arah dapur asisten rumah nya, tak lain adalah teh Sumi.
"Punten! Mau di masakin apa atuh hari ini, bingung soalnya di kulkas abis stok masakannya, paling hanya bisa bikin sop ayam aja". Tutur teh Sumi.
"Oh ya udah kalau begitu, saja masak nasi dulu, sekalian nanti catet stok yang udah pada habis." tuturnya kembali.
"Iya teh, tapi nanti atau besok aja belanja nya gak usah buru-buru" timpal Zein.
Kemudian teh Sumi pun kembali berlalu ke arah dapur.
"Haiiii semuaaa lagi pada ngapain nih.?"
Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan ketiga nya, dan tamu yang tak di undang itu adalah Pandu sahabat karib nya Zein.
"Ngapain loh curut, ujan-ujan kesini, mending bobo sana enak" ucap Zein seraya menoyor kepala sahabatnya itu yang sebelumnya telah duduk di samping Zein.
__ADS_1
"Orang seperti gue, mana bisa leha-leha tiduran di kasur, gue barusan abis ngehadirin persidangan. Busyeeet ribeeett, tapi jangan panggil gue Pandu Pratama, kalau gabisa menyelesaikan segala urusan" tuturnya dengan tingkah PD sambil menaikkan kedua alisnya.
"Wahh bang Pandu hebat yaaa, aku kagum." tutur Dina.
"Eh Din jangan puji-puji dia, nanti dia tambah pede." timpal Rahma kemudian di iringi gelak tawa abang nya, yang melihat eksfresi Pandu yang senang di puji Dina kemudian di hempaskan oleh Rahma.
"Lu bisa gak, liat temen lo ini seneng dikit, minimal hibur gue gitu yang baru putus cinta ini."
"Sokoooorr lu putus sama cewek gak jelas seperti si Lena, tuh cewek kelakuannya gak jauh kaya si Emily." tutur Zein.
"Jangam gitu lah kawan, gitu-gitu juga gue sayang sama dia, dia juga sayang sama gue." rajuk Pandu.
"Heh Oon! Kalau dia sayang sama lo, gak mungkin dia terima perjodohan orang tua nya, dengan bandot tua, hanya karna si bandot kaya raya, mestinya lo bersyukur karna terlepas dari keluarga matre itu." Ucap Zein kemudian, mengingatkan sosok Lena serta keluarga nya yang mata duitan itu.
"Yang di bilang bang Zein itu bener loh bangPan, harusnya abang bersyukur". Timpal Rahma kemudian tersenyum dan itu membuat hati Pandu menghangat.
"Apaan lo liatin adik gue kaya gitu, inget adik gue adik lo juga bambang" ucap Zein seraya melemparkan bantal sofa tepat ke muka nya Pandu.
"Santai bro santai!! Santai seperti di pantai, iya gak Din" tutur Pandu seraya melihat ke arah Dina.
"Iyaaaa ini kita lagi santai." jawab Dina, kemudian keempatnya pun tertawa, seiring hujan yang masih belum reda.
-Bersambung....
Note:
Maaf yaaa kalau cerita nya masih datar, dan mungkin belepotan di mana-mana maklum masih belajar dan masih tahap awal, mohon saran dan bimbingannya. Terimakasih!
__ADS_1