Cinta, Setelah Berakhir

Cinta, Setelah Berakhir
Bab062. Biarlah Waktu Yang Menjawab


__ADS_3

Hari demi hari Rahma terus di ganggu dengan bermacam-macam isi pesan dari mantan suaminya, Andhika.


'Mau apalagi sih mas, aku sudah tidak mau berurusan sama kamu lagi.' gumamnya di dalam hati.


Kemudian ia melempar ponselnya begitu saja ke atas ranjang tidurnya. Lalu ia memasuki kamar mandinya untuk segera mandi dan siap-siap berangkat ke restorannya.


Setengah jam wanita itu menghabiskan waktunya dikamar mandi, kini ia telah merias dirinya dengan bermake-up tipis-tipis saja, wanita itu tidak terlalu menyukai dandan yang menor.


Menit berikutnya ia telah siap untuk berangkat ke restorannya setelah menghabiskan nasi goreng nya.


...


Waktu begitu cepat berlalu, kini Rahma duduk santai di salah satu meja restorannya, ia sedang menunggu seseorang untuk bertemu dengannya siang itu.


"Hai Ra.. Sorry ya telat, maklum jakarta tidak lepas dari kemacetan." ucap Sinta saat baru saja datang.


"Oke gak apa-apa, kamu mau minum apa.?"


"Apa ajalah yang seger-seger".. Tutur Sinta, lalu duduk berhadapan dengan Rahma.


Kemudian Rahma memanggil salah satu karyawannya yang kebetulan sedang lewat, dan Rahma pun memesan dua gelas jus melon untuknya dan juga temannya itu yang bernama Sinta.


Setelahnya obrolan keduanya mengalir begitu saja. Sesekali tawa dari keduanya terlihat.


"Kok bisa gitu sih.." tutur Rahma seraya terkekeh.


"Gak tau aku, bisa-bisanya kemarin ketemu sama cowok rese.." tutur Sinta sambil memainkan sedotan jus nya.


"Jodoh itu." sarkas Rahma.


"Ih nggak-nggak, gak lagi-lagi deh ketemu sama cowok begitu."


"Jangan gitu Sinn, nanti kalau ketemu lagi terus saling jatuh cinta, mati kamu kena racun cintanya." kekeh Rahma.


Sinta tak menjawab omongan sahabatnya, ia hanya mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Udah jangan cemberut, aku mau makan beef steak, kamu mau gak.?" rayu Rahma pada sahabatnya yang masih memoyongkan bibirnya.


"ih di tawarin, malah bengong, mau gak..?"


"Raaa, tunggu-tunggu, itu si Andhika kan mantan suami kamu, ngapain dia ke sini.?"


Rahma pun menoleh pada arah telunjuk Sinta. ia melihat laki-laki itu sedang berjalan ke arah nya.


"Bikin selera makanku hilang aja."


"Sabar-sabar.." tutur Sinta sambil mengelus lengan sahabatnya itu.


"Hai Raaa, apa kabar..?" tutur laki-laki yang baru sajayiba di hadapan kedua wanita tersebut.


"Seperti yang kamu lihat mas." tutur Rahma datar.


"Mmm boleh aku duduk..?" ucapnya lagi.


"Duduk aja, gak ada yang larang, masih banyak juga kan meja kosong di sini." ucap Rahma kembali dengan raut datar nya.


"Owh silahkan, kalau mau duduk." ucap wanita itu kembali.


Lalu ia berdiri dan menatap Sinta di depannya.


"Sin, kita makan di ruangan aku aja yuk." ajak Rahma, tanpa menunggu jawaban dari Sinta, wanita itu segera meraih lengan Sinta dan mengajaknya pergi dari tempat itu.


"Raa, kok pergi, aku ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan sama kamu."


Rahma terhenti dari langkahnya, begitu juga dengan Sinta di sampingnya. tanpa menoleh Rahma menjawab ucapan dari mantan suaminya itu.


"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan mas, semuanya udah berakhir, dan stop ganggu hidup aku lagi."


"Nggak,, gak akan aku lepasin kamu begitu saja, sampai kapanpun kamu tetap milikku Rahma."


"Terserah!!.. Ayo Sin.."

__ADS_1


Rahma kembali berjalan tanpa mendengarkan lagi apa yang di katakan mantan suaminya itu.


..


"Raa, are you oke.?"


Rahma memberikan senyum tipipsnya. "i'am oke.?"


"Sampai kapan dia akan terus ngejar kamu Ra, kalau kamu masih sendiri kaya gini, dia bakalan terus kejar kamu, saran aku cepat kamu cari penggantinya, seenggaknya kamu punya pacar Ra.."


Dengan hati-hati Sinta mengatakan hal seperti itu pada Rahma, sahabatnya.


"Entahlah Sin, aku belum kefikiran ke arah sana, apalagi si Alan juga sering ngechattin aku.?"


"Alan??.. Alan mantan waktu kuliah?" tanya Sinta.


"Iyaaa, beberapa bulan ke belakang aku ketemu sama dia, dan dari sanalah dia sering ngechat, ngajak ketemu."


"Lalu, kamu balas chatnya atau ketemuan sama dia.?"


Rahma menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Ra..?"


"Gak tau, rasanya untuk saat ini aku belum bisa untuk membuka hati lagi, untuk Alan atau untuk siapapun, biarlah waktu yang menjawab semuanya."


Sinta mengerti apa yang di rasakan sahabatnya itu.


"Iya Ra, aku ngerti, maaf ya kalau aku terlalu ikut campur urusan hati kamu."


"No problem".


Lalu keduanya pun larut dalam makan siang, saat sebelumnya makanan telah tersedia di ruangan Rahma.


-Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2